Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tetap Sehat Saat Ramadhan: Strategi Jitu Atur Jadwal Minum Obat tanpa Batal Puasa

Khairunnisa RB • Rabu, 11 Februari 2026 | 19:16 WIB
Ilustrasi. Minum obat saat bulan puasa Ramadhan.
Ilustrasi. Minum obat saat bulan puasa Ramadhan.

RADAR BOGOR - Menjalankan ibadah puasa Ramadhan menjadi momen yang dinanti umat Muslim. Namun, sebagian orang yang sedang menjalani pengobatan, muncul kebingungan kapan waktu minum obat yang tepat, dan apakah obat tertentu bisa membatalkan puasa?

Menjawab keresahan tersebut, Dokter Saddam Ismail melalui kanal YouTube miliknya membagikan panduan lengkap seputar jadwal minum obat saat puasa Ramadhan, sekaligus jenis obat yang tidak membatalkan ibadah.

Penjelasan jadwal minum obat saat puasa Ramadhan ini menjadi sangat penting, terutama bagi masyarakat yang rutin mengonsumsi obat setiap hari.

Puasa dan Tantangan Mengatur Jadwal Minum Obat

Dalam kondisi normal, jadwal minum obat biasanya diatur selama 24 jam penuh.

Namun saat puasa, waktu konsumsi obat menjadi terbatas, yakni hanya sekitar 10 jam, mulai dari berbuka hingga sahur.

Sisanya, selama kurang lebih 14 jam, tubuh tidak menerima asupan makanan maupun minuman.

Hal inilah yang sering membuat pasien bingung, terutama mereka yang harus minum obat secara rutin.

Meski demikian, menurut Dokter Saddam, kondisi ini tetap bisa diatur dengan baik asalkan mengikuti aturan yang tepat.

Aturan Minum Obat Satu Kali Sehari

Baca Juga: Proyek PLTS Atap di Mal Botani Square Kota Bogor Beroperasi, Hasilkan 1,6 GWh Energi Bersih

Untuk obat dengan dosis satu kali sehari, masyarakat tidak perlu khawatir. Obat dapat diminum saat berbuka puasa atau saat sahur. Yang terpenting, waktunya harus konsisten.

Misalnya, jika hari ini diminum saat sahur, maka seterusnya sebaiknya diminum di waktu yang sama.

Jangan berganti-ganti antara sahur dan berbuka karena dapat memengaruhi efektivitas obat.

Selain itu, perhatikan juga aturan konsumsi obat, apakah harus diminum sebelum makan, saat makan, atau setelah makan.

Panduan Minum Obat Dua Kali Sehari

Bagi yang mengonsumsi obat dua kali sehari, jadwalnya dapat dibagi menjadi:

• Satu kali saat sahur

• Satu kali saat berbuka

Dokter Saddam menegaskan, jangan mengurangi dosis hanya karena sedang puasa. Jika aturan dokter menyebutkan dua kali sehari, maka tetap harus dipatuhi.

Instruksi minum obat juga tidak boleh diubah. Jika obat harus diminum sebelum makan, jangan diminum setelah makan, begitu pula sebaliknya.

Cara Mengatur Obat Tiga Kali Sehari

Untuk obat yang harus diminum tiga kali sehari, pengaturannya memang sedikit lebih rumit, tetapi tetap bisa dilakukan.

Contohnya:

• Dosis pertama: saat berbuka (sekitar pukul 18.00)

• Dosis kedua: malam hari (sekitar pukul 23.00)

• Dosis ketiga: menjelang sahur (sekitar pukul 04.00)

Jarak waktu antar dosis sebaiknya dibuat seimbang dan jamnya diusahakan sama setiap hari. Jangan mengurangi dosis menjadi dua kali sehari tanpa rekomendasi dokter.

Jenis Obat yang Tidak Membatalkan Puasa

Tidak semua obat membatalkan puasa. Dokter Saddam menjelaskan bahwa beberapa jenis obat tetap boleh digunakan di siang hari selama tidak tertelan.

Di antaranya:

• Obat tetes mata

• Obat tetes hidung

• Obat tetes telinga

• Krim, salep, dan obat luar

• Obat kumur (selama tidak ditelan)

• Obat semprot

• Inhaler

Meski demikian, penggunaannya tetap harus berhati-hati dan sesuai aturan medis.

Pentingnya Konsultasi dengan Tenaga Medis

Bagi penderita penyakit kronis seperti:

• Hipertensi (tekanan darah tinggi)

• Diabetes

• Penyakit jantung

• Gangguan metabolik

Bagi yang mengonsumsi obat dalam jangka panjang, Dokter Saddam sangat menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum berpuasa.

Dokter akan menilai apakah kondisi pasien aman untuk berpuasa atau tidak.

Jika dinyatakan aman, maka jadwal minum obat akan disesuaikan.

Namun, jika dokter menyarankan untuk tidak berpuasa, hal tersebut perlu dipatuhi demi keselamatan kesehatan.

Pasien Baru Berobat Juga Wajib Bertanya

Bagi yang sedang sakit ringan, seperti radang tenggorokan, flu, atau infeksi ringan lainnya, tetap disarankan untuk bertanya kepada dokter.

Pasien perlu memastikan:

• Apakah obat aman diminum saat puasa

• Apakah efektivitas obat tetap optimal

• Apakah ada efek samping jika dikonsumsi saat berpuasa

• Jika dinyatakan aman, maka puasa bisa tetap dijalankan.

Jangan Mengutamakan Keinginan, Utamakan Kesehatan

Dokter Saddam mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri berpuasa tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh. Kesehatan adalah amanah yang harus dijaga.

Memaksakan puasa saat kondisi tubuh tidak memungkinkan justru dapat memperparah penyakit dan memperlambat proses penyembuhan.

Dengan pengaturan yang tepat dan kepatuhan pada anjuran dokter, ibadah puasa tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kesehatan.

Kesehatan tetap menjadi prioritas utama, agar ibadah pun bisa dijalani dengan maksimal.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#puasa #ramadhan #obat