Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Reaktivasi Otomatis, BPJS PBI Jaga Asa Anak Pengidap Gagal Ginjal Kembali Sekolah

Alpin. • Kamis, 12 Februari 2026 | 21:42 WIB
Nindya, bersama anaknya peserta BPJS PBI.
Nindya, bersama anaknya peserta BPJS PBI.

RADAR BOGOR – Ada kalanya Nindya (48) harus meninggalkan rumah di Lebak, Banten, menempuh perjalanan panjang menuju Jakarta. Bukan untuk bekerja ataupun berlibur, melainkan untuk mendampingi putranya menjalani pengobatan cuci darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sebagai ibu rumah tangga, Nindya tak pernah membayangkan hari-harinya akan diisi dengan rutinitas rumah sakit, rujukan medis, hingga ruang hemodialisis. Namun sejak sang anak divonis gagal ginjal pada usia 14 tahun, itulah kenyataan yang harus ia terima.

“Jauh-jauh dari Lebak, Banten. Karena di RSUD Daerah tak ada buat anak-anak,” ujarnya saat ditemui di RSCM Jakarta, Kamis (12/2).

Perjalanan panjang itu sebenarnya telah dimulai sejak 2021. Saat itu, putranya didiagnosis mengalami pembengkakan jantung. Selama tiga tahun, Nindya selalu mendampingi proses pengobatan sang anak dengan penuh harap.

“Tiga tahun pembengkakan jantung. Tahun 2024 akhirnya dia drop, divonis gagal ginjal,” ucapnya lirih.

Vonis gagal ginjal datang ketika usia anaknya baru menginjak 14 tahun. Kini, di usia 15 tahun, sang anak telah menjalani cuci darah selama satu tahun enam bulan.

Gejala awal yang muncul terlihat umum, namun perlahan memburuk. “Awalnya terjadi bengkak-bengkak di kaki, di muka.”

Kondisi tersebut membuat sang anak kerap mengalami penurunan kondisi fisik. Namun, setelah menjalani operasi dan rutin menjalani cuci darah, Nindya mulai melihat perubahan.

“Alhamdulillah setelah menjalani cuci darah ada perubahan. Yang tadinya kan dia drop itu sering. Sekarang setahun enam bulan setelah dia operasi yang pertama kali, akhirnya aman,” tuturnya.

Perubahan itu menjadi secercah harapan di tengah ujian panjang yang belum berakhir.

Sebelum sakit, putranya dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif bermain bersama teman-temannya.

Kini, hari-harinya lebih banyak diisi dengan jadwal kontrol dan perawatan. Aktivitas sekolah dan bermain pun terhenti sementara.

“Dia sering berkata, 'Mama, pulang. Ke sekolah lagi, main lagi,'” ujarnya lirih menirukan perkataan sang anak.

Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa di balik tubuh yang lemah, tersimpan keinginan besar untuk kembali hidup normal seperti remaja seusianya.

Di balik keberlangsungan pengobatan tersebut, terdapat peran pemerintah melalui program perlindungan sosial BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI). Program subsidi ini menjadi penopang utama biaya perawatan sang anak.

Nindya mengaku proses pendaftaran kepesertaan BPJS Kesehatan dilakukan dengan bantuan petugas kesehatan saat berada di RSUD.

Dalam proses berobat, ia juga harus mengikuti prosedur rujukan secara tertib, dimulai dari puskesmas di daerah asal, kemudian dirujuk ke rumah sakit tingkat lanjut, hingga akhirnya menjalani perawatan di RSCM.

Di tengah proses tersebut, ia sempat mendengar isu penonaktifan kepesertaan BPJS PBI oleh sistem.

Kekhawatiran pun sempat muncul karena pengobatan anaknya sangat bergantung pada jaminan tersebut.

“Iya, sempat dengar. Sempat ngecek, alhamdulillah aman (aktif otomatis),” ujarnya.

Kepastian status kepesertaan itu memberinya ketenangan untuk tetap fokus mendampingi anaknya menjalani pengobatan rutin.

Selain jaminan pembiayaan, Nindya juga merasakan pelayanan kesehatan yang menurutnya memadai, mulai dari fasilitas tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan nasional.

“Pelayanannya sangat memuaskan. Alhamdulillah pelayanan baik,” ujarnya.

Di tengah kelelahan fisik dan emosional sebagai orang tua pasien penyakit kronis, pelayanan yang baik menjadi penguat tersendiri.

Di tengah segala keterbatasan, Nindya menyampaikan rasa syukur atas keberadaan BPJS yang membantunya mengakses layanan kesehatan hingga ke Jakarta.

“Alhamdulillah banget sudah ada BPJS dari pemerintah. Semoga semakin berkah, semakin maju. Semoga anak saya cepat pulang, bisa ke sekolah lagi,” ucapnya.

Ia menyadari, tanpa bantuan pemerintah melalui BPJS Kesehatan, kemungkinan besar ia tidak akan mampu membawa anaknya menjalani cuci darah secara rutin.

“Terima kasih Bapak Presiden (Prabowo Subianto) yang sudah mengadakan BPJS gratis. Alhamdulillah, kami sangat terbantu sekali. Tanpa BPJS, enggak bisa ke sini. Terima kasih Bapak Presiden,” tutupnya.(**)

Editor : Alpin.
#BPJS PBI #gagal ginjal #RSCM Jakarta