Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hukum Menggosok Gigi Setelah Waktu Zuhur Saat Puasa Ramadhan Makruh atau Haram, Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Khairunnisa RB • Jumat, 20 Februari 2026 | 05:29 WIB
Ilustrasi menyikat gigi setelah dzuhur di bulan Ramadhan.
Ilustrasi menyikat gigi setelah dzuhur di bulan Ramadhan.

RADAR BOGOR - Ramadhan selalu menghadirkan berbagai pertanyaan seputar hal-hal kecil namun penting dalam ibadah puasa, salah satunya soal kebiasaan menyikat gigi.

Apakah menggosok gigi setelah tergelincir matahari (masuk waktu Zuhur) saat berpuasa itu makruh atau tetap diperbolehkan?

Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa para ulama memang memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum bersiwak atau menggosok gigi setelah matahari tergelincir.

Baca Juga: KPM Wajib Tahu, Saldo Bansos Bertambah Ternyata Bukan untuk Semua Orang, Cek Kriteria yang Lolos Verifikasi

Sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh.

Alasannya bersumber dari hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam Shahih Bukhari.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada minyak kasturi.

Hadis tersebut sering dipahami sebagai keutamaan bau mulut alami saat puasa, bukan sesuatu yang harus dihilangkan.

Baca Juga: Drama AC Milan vs Como 1907: Allegri Diusir Wasit Usai Bersitegang dengan Fabregas di San Siro

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada kasturi,” demikian makna hadis yang dijadikan dasar pendapat tersebut.

Makruh Bukan Berarti Dilarang Total

Menurut penjelasan UAS itu, pendapat yang memakruhkan menggosok gigi setelah Zuhur bertujuan menjaga “keharuman spiritual” yang disebutkan dalam hadis.

Namun, Ustadz Abdul Somad (UAS) menegaskan bahwa hadis tersebut tidak boleh dipahami secara berlebihan.

Baca Juga: Pesawat Kargo Pelita Air Jatuh di Nunukan, Investigasi Masih Berlangsung

Ia mencontohkan, jangan sampai seseorang sengaja membiarkan mulutnya menjadi sangat kotor atau tidak menyikat gigi sama sekali dengan alasan ingin mempertahankan “bau kasturi.”

“Bukan berarti makin busuk makin harum,” ujar Ustadz Abdul Somad, dilansir dari kanal Youtube Peradaban Islam Official.

Kebersihan tetap bagian dari ajaran Islam. Karena itu, menggosok gigi setelah sahur tetap dianjurkan agar mulut bersih sebelum memulai puasa.

Baca Juga: Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar di Lelang Imlek Partai Demokrat, Hasilnya untuk Bantuan Kemanusiaan

Jam-Jam Kritis Justru Sering Disalahpahami

Menariknya, UAS juga menyoroti kebiasaan sebagian orang yang justru rajin menyikat gigi di siang hari, terutama pada “jam-jam kritis” puasa sekitar pukul 2 hingga 4 sore saat rasa haus dan lemas memuncak.

Menurutnya, pada waktu itulah sebagian ulama yang memakruhkan justru menyarankan untuk tidak menyikat gigi lagi.

Ia bahkan menyindir penggunaan pasta gigi bermentol kuat yang memberi sensasi sangat segar, seolah-olah “salju turun” atau “bunga-bunga bermekaran” setelah keluar dari kamar mandi.

Baca Juga: Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar di Lelang Imlek Partai Demokrat, Hasilnya untuk Bantuan Kemanusiaan

Sindiran itu menggambarkan sensasi berlebihan yang justru mendekati kenikmatan, bukan sekadar menjaga kebersihan.

“Begitu keluar, seakan salju turun,” ujar UAS menggambarkan sensasi dingin mentol.

Kebersihan Tetap Prioritas

Meski demikian, pesan utama ceramah tersebut bukan melarang sikat gigi, melainkan mengajak umat memahami perbedaan pendapat ulama secara proporsional.

Mayoritas ulama sepakat bahwa menjaga kebersihan mulut itu penting, selama tidak sampai menelan air atau pasta gigi yang bisa membatalkan puasa.

Baca Juga: KPM Bansos PKH dan BPNT Siap-siap Terima Bonus Beras 20 Kg dan Minyak Goreng di Pencairan Tahap Pertama 2026

Praktik yang umum dianjurkan antara lain:

• Menggosok gigi setelah sahur

• Menggunakan siwak kering di siang hari

• Berkumur secukupnya tanpa berlebihan

• Menghindari pasta gigi beraroma sangat kuat jika dikhawatirkan tertelan

Ramadhan dan Kesadaran Ibadah yang Seimbang

Baca Juga: Sosialisasi Pengelolaan Sampah Jadi Energi Listrik di TPA Galuga Bogor Berujung Aksi Blokade Jalan

Perdebatan ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga adab, kebersihan, dan pemahaman agama yang bijak.

Tidak perlu membiarkan mulut kotor, tetapi juga tidak perlu berlebihan mengejar sensasi segar di siang hari.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan latihan spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara menjaga kebersihan, menghormati sunnah, dan menghindari sikap berlebih-lebihan.

Ramadhan pun kembali mengingatkan bahwa bahkan kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi bisa menjadi ladang pahala, selama dilakukan dengan ilmu dan niat yang benar.***

Editor : Asep Suhendar
#menyikat gigi #puasa #ustadz abdul somad #ramadhan