RADAR BOGOR – Fenomena meningkatnya kemakmuran materi yang tidak diiringi kekuatan spiritual menjadi sorotan dalam kegiatan Muhsinin Club Conference yang digelar di Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta.
Sejumlah tokoh Muslim hadir membahas pentingnya keseimbangan antara kesejahteraan ekonomi dan spiritual masyarakat.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof. Irfan Syauqi Beik, menilai saat ini masyarakat menghadapi dua persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Yang pertama adalah fenomena banyak orang kaya tapi miskin spiritual. Yang kedua adalah sudah miskin materi, miskin pula spiritualnya,” ujar Prof. Irfan dalam forum tersebut.
Ia menambahkan, kondisi kedua bahkan lebih memprihatinkan. “Yang kedua itulah yang disebut miskin kuadrat,” tambahnya.
Menurut Prof. Irfan, kemiskinan spiritual belum menjadi fokus utama pemerintah maupun perhatian publik secara luas. Padahal, dampaknya dinilai sangat besar terhadap kualitas kehidupan sosial masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya spiritualitas dapat memicu berbagai persoalan sosial, mulai dari hilangnya keharmonisan hidup, menurunnya kepedulian sosial, hingga meningkatnya rasa saling curiga antarwarga.
Bahkan, ia menyinggung sejumlah kasus tragis seperti bunuh diri pada usia sekolah dasar sebagai salah satu indikasi krisis spiritual di tengah masyarakat.
Guru Besar IPB tersebut mengajak masyarakat agar tidak hanya fokus pada persoalan kemiskinan materi.
Baca Juga: Inflasi Januari 3,19 Persen, Pemkot Bogor Siapkan 55 GPM dan Pasar Murah Selama Ramadhan
Berdasarkan data pemerintah, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami kemiskinan materi mencapai 23,85 juta jiwa atau sekitar 8,47 persen dari total populasi nasional.
“Tapi belum ada catatan berapa jumlah penduduk Indonesia yang miskin spiritual,” katanya lagi.
Pendiri Muhsinin Club, Dewa Eka Prayoga, menyambut positif gagasan pengukuran kemiskinan yang turut memasukkan dimensi spiritual sebagai indikator kesejahteraan manusia.
Sejak berdiri pada 2022, Muhsinin Club mendorong para individu yang memiliki kelimpahan harta untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui gerakan sedekah terstruktur.
Komunitas tersebut mengajak anggotanya untuk bersedekah minimal Rp10 juta setiap bulan atau Rp120 juta per tahun.
Dana yang terkumpul telah dimanfaatkan untuk berbagai program sosial, seperti penyediaan makanan bergizi bagi santri, pembangunan masjid dan pesantren.
Kemudian distribusi berton-ton daging sapi, pembangunan hunian bagi korban bencana, hingga pemberangkatan 158 santri penghafal Al-Qur’an untuk umrah. Hingga kini, total dana yang telah disalurkan mencapai Rp22 miliar.
“Kita butuh lebih banyak orang kaya yang peduli pada sesama,” ujar pengusaha usia 34 tahun yang memiliki 48 perusahaan tersebut.
Baca Juga: Dukung Proyek Strategis Nasional, Area Pedestrian di Jalan Sumeru Kota Bogor Bakal Ditata Ulang
Dalam momentum Ramadan, Muhsinin Club kembali menggelar Muhsinin Club Conference bekerja sama dengan Yayasan Kampoong Ecopreneur yang berbasis di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.
Dewa juga membagikan pengalaman pribadinya saat sempat mengalami koma selama beberapa hari yang menjadi titik refleksi hidupnya.
Pengalaman tersebut melahirkan pesan yang kini terus ia gaungkan kepada masyarakat. “Perbanyak wakaf sebelum wafat,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menekankan pentingnya kolaborasi antarindividu dalam menebarkan kebaikan sosial.
Menurutnya, kebaikan harus dikelola secara terorganisir agar mampu menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.
Salah satu program unggulan Kampoong Ecopreneur adalah One Family One Ecopreneur, yakni gerakan mendorong setiap keluarga memiliki usaha berbasis lingkungan.
Melalui program tersebut, masyarakat akan didorong menanam komoditas seperti ubi dan kopi yang ditargetkan untuk pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura.
“Tahun ini kami menargetkan program itu sudah berjalan,” kata Jamil, Minggu 22 Februari 2026.
Ia berharap program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, baik dari sisi ekonomi maupun spiritual.
“Doakan kami agar program ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik secara materi maupun spiritual. Kami ingin melahirkan Nabi-nabi Sulaiman baru versi manusia biasa, yang kaya dan punya pengaruh,” ujarnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin