RADAR BOGOR – Fenomena relasi toksik di kalangan generasi muda kian menjadi perhatian. Tidak sedikit hubungan yang berawal dari kedekatan di media sosial justru berujung konflik, kekerasan, hingga dampak serius bagi kesehatan mental.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai generasi Z menghadapi tantangan unik dalam membangun relasi. Tumbuh di era digital membuat kedekatan sering terbentuk secara instan melalui pesan singkat, direct message (DM), maupun interaksi di media sosial.
“Generasi Z hidup di ruang digital yang serba cepat. Kedekatan bisa terasa instan, tetapi kedalaman relasi emosional belum tentu terbentuk,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Radar Bogor.
Menurut dia, tekanan sosial, fear of missing out (FOMO), serta budaya validasi online membuat banyak anak muda sulit membedakan hubungan yang sehat dan yang justru melelahkan secara emosional.
Ia menegaskan, relasi yang sehat bukan diukur dari seberapa sering pasangan menghabiskan waktu bersama, melainkan dari rasa aman, saling menghargai, dan ruang untuk bertumbuh.
Pentingnya Batasan
Lahargo menjelaskan, salah satu ciri utama relasi sehat adalah adanya penghargaan terhadap batasan (boundaries). Dalam hubungan yang matang, tidak ada paksaan membuka kata sandi pribadi, tekanan untuk selalu online, maupun manipulasi emosional.
“Boundaries bukan tanda tidak cinta. Justru itu tanda cinta yang matang,” tegasnya.
Selain itu, hubungan yang sehat memungkinkan seseorang menjadi diri sendiri tanpa rasa takut dihakimi. Jika seseorang merasa harus terus menyesuaikan diri agar tidak ditinggalkan, kondisi tersebut patut diwaspadai.
Cara Menyikapi Konflik
Konflik dalam hubungan, lanjut dia, merupakan hal wajar. Namun yang menentukan kualitas relasi adalah cara menyelesaikannya.
Dalam relasi sehat, konflik dibicarakan secara terbuka, bukan didiamkan atau disertai ancaman putus. Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan verbal, fisik, maupun seksual tidak pernah dapat dibenarkan dalam hubungan apa pun.
Lahargo menambahkan, ketergantungan emosional berlebihan juga menjadi pintu masuk munculnya perilaku posesif dan kontrol yang tidak sehat.
“Cinta yang sehat itu memilih untuk bersama, bukan merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan,” jelasnya.
Tips untuk Gen Z
Ia menyarankan anak muda untuk meningkatkan kesadaran diri sebelum menjalin hubungan. Memahami kebutuhan emosional, nilai hidup, dan batas yang tidak bisa ditoleransi menjadi fondasi penting.
Selain itu, kemampuan regulasi emosi juga perlu dilatih. Ia menyarankan jeda sejenak sebelum mengirim pesan saat sedang marah agar konflik tidak makin membesar.
Gen Z juga diminta peka terhadap tanda bahaya (red flags), seperti pasangan yang sering merendahkan, melakukan gaslighting, mengisolasi dari lingkungan sosial, atau menunjukkan perilaku kekerasan.
Peran Krusial Orang Tua
Tak hanya anak muda, orang tua juga memegang peran penting dalam membentuk pola relasi anak. Menurut Lahargo, fondasi hubungan sehat sebenarnya dibangun dari rumah.
Anak belajar dari cara orang tua berkomunikasi, menyelesaikan konflik, saling menghargai, hingga meminta maaf.
Orang tua juga didorong membangun komunikasi terbuka sejak dini dengan mendengar tanpa menghakimi, bertanya tanpa menginterogasi, serta menguatkan emosi anak.
“Rumah adalah sekolah pertama tentang cinta dan relasi. Jika anak tumbuh dengan komunikasi sehat, mereka cenderung mencari hubungan yang sehat juga,” pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati