Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Haru Ibu di OKI: Dulu Anak Makan Nasi Garam, Kini Bisa Nikmati Buah dan Susu dari Program Makan Bergizi Gratis

Yosep Awaludin • Jumat, 6 Maret 2026 | 12:40 WIB

Merianti, ibu di kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan tengah menyuapi anaknya dari Makan Bergizi Gratis
Merianti, ibu di kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan tengah menyuapi anaknya dari Makan Bergizi Gratis

RADAR BOGOR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kurang mampu di berbagai daerah.

Salah satu kisah manfaat Makan Bergizi Gratis datang dari Merianti, seorang ibu di kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang sebelumnya hanya mampu memberi makan anak-anaknya dengan nasi dan garam.

Di rumah panggung sederhana yang berdiri di tepi rawa, Merianti membesarkan dua anaknya yang masih kecil, masing-masing berusia enam tahun dan empat tahun.

Baca Juga: Siap-siap Cek Rekening, Kabar Gembira THR Pensiunan 2026 Cair Mulai 5 Maret, Cek Komponennya di Sini

Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia dan suaminya harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ditemui di rumahnya, Kamis 5 Maret 2026, Merianti menceritakan bahwa sebelum mengenal program Makan Bergizi Gratis menu makanan untuk anak-anaknya sering kali sangat sederhana.

“Kadang kami cuma makan nasi dengan garam. Kalau suami sedang ada uang dari kerja, baru bisa beli sayur atau tempe tahu untuk lauk,” tutur Merianti dengan suara lirih.

Baca Juga: THR Wajib Cair H-7 Lebaran, Ojol Juga Dapat Bonus, Pemerintah Siapkan Rp55 Triliun

Suami Merianti bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Terkadang ia menjadi buruh bangunan, bekerja di kebun sawit, membantu menggarap sawah milik orang lain, hingga mencari ikan di sungai pada malam hari.

Pendapatan yang tidak pasti membuat keluarga ini hanya fokus pada satu hal: memastikan ada beras yang bisa dimasak setiap hari. Jika ada sedikit uang tambahan, barulah mereka membeli sayur atau lauk sederhana.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Merianti juga sesekali bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga.

Baca Juga: Data Terbaru TKA SD dan MI 2026, Jawa Barat Peserta Paling Banyak

Hidup di Rumah Panggung Sederhana

Kondisi rumah yang ditempati keluarga ini juga jauh dari kata layak. Rumah panggung berukuran sekitar 4 x 4 meter tersebut berdinding papan dan beratap rumbia yang sudah berlubang di beberapa bagian. Ketika hujan turun, air dengan mudah menetes ke dalam rumah.

“Kalau hujan deras, kami biasanya pindah ke bagian dekat beranda supaya tidak terlalu kena tetesan air. Setelah hujan reda baru bisa tidur lagi,” kata Merianti.

Di dalam rumah kecil itu tidak ada pembatas ruangan. Tidak terdapat kamar maupun dapur terpisah.

Sebuah kompor gas diletakkan di sudut ruangan, berdekatan dengan jerigen besar yang digunakan untuk menyimpan air minum.

Di sisi lain ruangan terdapat gulungan kasur lusuh yang menjadi tempat tidur seluruh anggota keluarga.

Baca Juga: Mulai Hari Ini, Saldo Bansos Susulan Rp600 Ribu Meleleh di KKS BNI, Cek Status Kepesertaan Anda Sebagai Penerima Bantuan

Rumah tersebut berdiri di pinggir rawa. Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, Merianti memanfaatkan air dari rawa di samping rumahnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Merianti juga harus merawat kedua anaknya yang cukup sering mengalami gangguan kesehatan.

Perubahan Setelah Mendapat Program MBG

Kondisi keluarga Merianti mulai mengalami perubahan setelah mereka menerima manfaat dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui posyandu setempat.

Baca Juga: Unik dan Menggemaskan, Landak Cookies Tanpa Cetakan Ini Bisa Jadi Kue Favorit Saat Lebaran

Ia mengatakan, makanan yang dibagikan dalam program tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menikmati makanan yang sebelumnya jarang mereka rasakan.

“Sekarang anak-anak bisa makan buah, minum susu, bahkan kadang dapat kue. Dulu makanan seperti itu jarang sekali bisa kami sediakan,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga merasakan perubahan pada kondisi kesehatan anak-anaknya yang kini terlihat lebih aktif.

Baca Juga: Nu Stadium Resmi Diumumkan, Stadion Baru Inter Miami Berkapasitas 26.700 Penonton di Miami Freedom Park

“Sekarang badan mereka lebih sehat dan anak-anak juga jadi lebih aktif bermain,” kata Merianti.

Ia menambahkan bahwa sempat tidak mengambil makanan dari program MBG selama hampir dua bulan karena banjir yang memaksanya mengungsi ke rumah orang tuanya di wilayah Celika.

Selama periode tersebut, berat badan anak-anaknya sempat menurun. Karena itu sejak Januari ia kembali rutin mengambil makanan dari Posyandu Teratai 2.

Akses Bantuan Kini Lebih Mudah

Sebelumnya, kedua anak Merianti terdaftar di Posyandu Perigi. Untuk mengambil bantuan MBG, ia harus berjalan kaki sekitar 30 menit hingga satu jam dari rumahnya.

Namun sejak September lalu, penerima manfaat dialihkan ke Posyandu Teratai 2 di Lebak Permai yang lokasinya lebih dekat.

“Sekarang kami sangat bersyukur bisa mendapatkan bantuan ini. Walaupun sederhana, kami tetap berterima kasih karena sangat membantu anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga: 169.279 Sekolah Pilih Moda Online saat TKA SD dan MI 2026

Bagi Merianti, makanan yang dibagikan melalui program MBG mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarganya yang hidup dalam keterbatasan, bantuan tersebut membawa perubahan besar.

Di rumah kecil di tepi rawa itu, seporsi makanan bergizi kini menjadi harapan baru bagi masa depan dua anaknya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#kurang mampu #sumatera selatan #Makan Bergizi Gratis