RADAR BOGOR - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi peningkatan tinggi gelombang laut di sejumlah wilayah perairan Indonesia pada 8–11 Maret 2026.
Dalam laporan BMKG yang diterima Radar Bogor, kondisi ini dipicu oleh aktivitas dua bibit siklon tropis yang memengaruhi pola angin di wilayah perairan nasional.
Berdasarkan informasi BMKG bernomor B/ME.01.02/PDGT/07/DMM/III/2026 yang berlaku mulai 8 Maret 2026 pukul 07.00 WIB hingga 11 Maret 2026 pukul 07.00 WIB, masyarakat terutama pelaku aktivitas pelayaran diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi.
Prakirawan BMKG, Rosi Fitria menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh keberadaan dua bibit siklon tropis, yakni Bibit Siklon Tropis 95W yang terdeteksi di Samudra Pasifik bagian utara Papua pada koordinat 7,1 LS dan 140,7 BT, serta Bibit Siklon Tropis 93S di Samudra Hindia sebelah barat Australia pada koordinat 16,5 LS dan 118,5 BT.
Menurutnya, kedua sistem cuaca tersebut berpotensi meningkatkan kecepatan angin sekaligus memicu kenaikan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia.
Ia juga menjelaskan bahwa pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari arah barat laut hingga timur laut dengan kecepatan antara 5 hingga 25 knot.
Sementara itu, di wilayah selatan Indonesia, arah angin dominan berasal dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan berkisar 10 hingga 30 knot.
BMKG mencatat kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudra Hindia selatan Jawa Barat, Laut Seram, Laut Arafuru, serta Samudra Pasifik bagian utara Papua.
Dalam periode tersebut, gelombang laut dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di beberapa wilayah perairan, antara lain Samudra Hindia barat Aceh.
Termasuk Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Lampung, Selat Karimata bagian utara.
Selat Makassar bagian selatan, Laut Maluku, Laut Banda, Samudra Pasifik utara Papua Barat, Laut Arafuru bagian utara, serta Laut Seram.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan potensi risiko terhadap keselamatan pelayaran di beberapa wilayah lain seperti Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Samudra Hindia barat Bengkulu.
Laut Natuna Utara, Laut Jawa bagian timur, Laut Sumbawa, Laut Flores, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.
Samudra Pasifik utara Papua, serta Laut Arafuru bagian timur.
Sementara itu, gelombang yang lebih tinggi dengan kisaran 2,5 hingga 4 meter diperkirakan berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Banten, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah.
Samudra Hindia selatan Jawa Timur, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, Samudra Pasifik utara Maluku, serta Laut Arafuru bagian tengah.
BMKG juga menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko keselamatan pelayaran di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa Barat.
Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta, Samudra Hindia selatan Bali, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, serta Laut Arafuru bagian barat.
Dalam keterangan tertulis kepada Radar Bogor, BMKG mengingatkan, perahu nelayan berpotensi terdampak apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter.
Sementara itu, kapal tongkang berisiko apabila angin mencapai 16 knot dan gelombang mencapai 1,5 meter.
Untuk kapal ferry, potensi risiko meningkat apabila kecepatan angin mencapai 21 knot dengan tinggi gelombang sekitar 2,5 meter.
BMKG mengimbau, para nelayan, operator kapal, dan masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan untuk memperhatikan perkembangan informasi cuaca maritim serta mengutamakan keselamatan selama periode tersebut. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim