Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Menaker Yassierli Ajak Generasi Muda Perkuat Triple Readiness untuk Hadapi Disrupsi Teknologi

Eka Rahmawati • Selasa, 10 Maret 2026 | 15:09 WIB

Menaker Yassierli berswafoto setelah menutup kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan bagi Praja Muda Karana (Pramuka) Penegak dan Pandega se-Jabodetabek di Bekasi.
Menaker Yassierli berswafoto setelah menutup kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan bagi Praja Muda Karana (Pramuka) Penegak dan Pandega se-Jabodetabek di Bekasi.

RADAR BOGOR - Dalam upaya meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Republik Indonesia Yassierli mengajak generasi muda, khususnya kalangan Generasi Z dan milenial, untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, penguatan daya saing dapat dilakukan melalui konsep triple readiness, yaitu kesiapan dalam menguasai keterampilan teknis, kemampuan nonteknis (soft skills), serta kesiapan memasuki dunia kerja melalui pemahaman terhadap dinamika pasar tenaga kerja.

Pesan tersebut disampaikan saat ia menutup kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan bagi anggota Gerakan Pramuka tingkat Penegak dan Pandega dari wilayah Jabodetabek. Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bekasi, Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu, 8 Maret 2026.

Baca Juga: Program Magang Jadi Tempat Menimba Ilmu dan Pengalaman, Menaker: Jembatan Lulusan Baru Masuk Dunia Kerja

Yassierli menjelaskan bahwa tiga aspek kesiapan tersebut menjadi sangat penting di tengah perubahan dunia kerja yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya kompetisi internasional, serta perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Menghadapi tiga tantangan tersebut, tidak cukup hanya dengan technical skills dan soft skills, anak muda harus memiliki market entry readiness atau kesiapan dalam memahami dinamika pasar kerja global,” kata Yassierli dalam keterangannya.

Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat agar tidak tertinggal oleh perubahan, sekaligus mampu memanfaatkan peluang baru yang muncul dari transformasi tersebut.

Ia menegaskan bahwa penguasaan keterampilan teknis dan kemampuan interpersonal saja tidak lagi cukup. Anak muda juga perlu memahami kondisi dan kebutuhan pasar tenaga kerja, termasuk tren global yang memengaruhi dunia industri.

Baca Juga: Kemnaker Terbitkan SE Tentang Larangan Diskriminasi Dalam Rekrutmen Tenaga Kerja, Menaker Sebut Syarat Pembatasan Usia Masih Berlaku

Selain itu, Yassierli menyoroti dampak besar perkembangan teknologi terhadap sektor industri. Penerapan otomatisasi serta penggunaan Artificial Intelligence (AI) kini tidak sekadar menjadi alat pendukung, tetapi telah mengubah cara industri beroperasi dan berkembang.

Perubahan tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. Dunia usaha kini mencari sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu merancang, mengelola, dan bekerja bersama sistem berbasis kecerdasan buatan.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sebagian besar keterampilan yang diprediksi paling dibutuhkan pada tahun 2030 justru berasal dari kategori human skills. Dari 11 keterampilan inti yang diproyeksikan penting, 8 di antaranya berkaitan dengan kemampuan kognitif, sosial, serta pengelolaan diri.

Yang termasuk dalam 8 keterampilan tersebut seperti Kepemimpinan dan Pengaruh Sosial (Leadership and Social Influence), Berpikir Analitis (Analytical Thinking), Berpikir Kreatif (Creative Thinking), Ketahanan, Fleksibilitas, dan Ketangkasan (Resilience, Flexibility, and Agility). 

Kemudian Rasa Ingin Tahu dan Pembelajaran Sepanjang Hayat (Curiosity and Lifelong Learning), Motivasi dan Kesadaran Diri (Motivation and Self-Awareness), Empati dan Mendengarkan Aktif (Empathy and Active Listening), serta Manajemen Talenta (Talent Management).

Sementara itu kegiatan pesantren kilat yang berlangsung pada 7–8 Maret 2026 itu merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Majelis Ulama Indonesia. Program tersebut diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari wilayah Jabodetabek.

Selain mendapatkan pembinaan nilai-nilai keagamaan selama Ramadhan, para peserta juga diperkenalkan pada berbagai bidang pelatihan vokasi. Di antaranya pelatihan refrigerasi, pengelasan, elektronika, pariwisata, hingga teknologi informasi yang difasilitasi oleh BBPVP Bekasi.

Baca Juga: Kebun Raya Bogor Kembali Jadi Lokasi Salat Idul Fitri, Pemkot Bogor Siapkan Antisipasi Lonjakan Wisatawan

Yassierli menilai materi dalam kegiatan tersebut memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pesantren kilat pada umumnya. Pasalnya, peserta tidak hanya mendapatkan penguatan nilai spiritual, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai kesiapan menghadapi dunia kerja melalui konsep triple readiness.

Ia berharap pola kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh bagi berbagai lembaga pendidikan lainnya, sehingga pembinaan generasi muda tidak berhenti pada kegiatan simbolis semata, melainkan benar-benar memberikan bekal yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja di masa depan.

Menurutnya, generasi muda Indonesia, termasuk anggota Pramuka, harus dipersiapkan agar mampu bersaing di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun global.

 

Editor : Eka Rahmawati
#Yassierli #manaker #generasi muda