RADAR BOGOR – Pemerintah merespons dinamika harga daging ayam ras yang tercatat menjadi salah satu penyumbang inflasi cukup signifikan pada Februari 2026, baik terhadap inflasi umum maupun kelompok pangan bergejolak (volatile food).
Selain meningkatnya permintaan, pemerintah juga menemukan indikasi anomali harga daging ayam dalam rantai distribusi yang diduga dipicu oleh praktik pedagang perantara atau middleman.
Berdasarkan informasi dari situs badanpangan.go.id, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam rapat pengendalian inflasi di Jakarta, Senin 9 Maret 2026, menyoroti adanya pihak perantara dalam rantai pasok daging ayam ras yang berpotensi memicu fluktuasi harga di pasaran.
Tito meminta Badan Pangan Nasional (Bapanas) memetakan wilayah yang mengalami kenaikan harga sekaligus mengidentifikasi penyebabnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan Menteri Pertanian yang juga menjabat sebagai Kepala Bapanas, harga ayam di tingkat peternak sebenarnya tidak mengalami kenaikan.
Namun harga meningkat setelah komoditas tersebut masuk ke tangan pedagang perantara sebelum dijual kepada masyarakat.
Meski demikian, Tito menyebut kondisi harga mulai menunjukkan perbaikan. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras tercatat mulai berkurang.
Saat ini terdapat 176 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga, sementara 96 daerah lainnya justru mengalami penurunan.
Ia juga menambahkan bahwa beras tidak termasuk dalam lima besar komoditas penyumbang kenaikan harga.
Meski terdapat 102 daerah yang mengalami kenaikan IPH beras, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas toleransi karena produksi beras nasional cukup kuat.
Data dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan tren kenaikan harga daging ayam ras mulai mengalami koreksi pada awal Maret 2026.
Hingga pekan pertama Maret, jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH tercatat sebanyak 176 kabupaten/kota, lebih rendah dibandingkan pekan ketiga dan keempat Februari yang mencapai 198 dan 209 kabupaten/kota.
Sementara itu, Menteri Pertanian yang juga Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi praktik perdagangan yang menyebabkan anomali harga di pasar.
Ia memastikan pemerintah akan menindak tegas pihak yang menaikkan harga secara tidak wajar, terutama jika kenaikan tersebut tidak berasal dari produsen.
Dari sisi pasokan, ketersediaan daging ayam ras nasional dipastikan masih aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan proyeksi neraca pangan per 5 Maret, hingga akhir bulan stok diperkirakan surplus sekitar 591,3 ribu ton.
Jumlah tersebut berasal dari stok awal Maret sebesar 478,5 ribu ton yang ditambah produksi sekitar 475,7 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi diperkirakan mencapai 362,9 ribu ton.
Untuk menjaga harga tetap sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP), pemerintah juga melakukan intervensi pasar melalui kerja sama dengan sektor swasta.
Salah satunya melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang menyediakan daging ayam beku dengan harga maksimal Rp40.000 per kilogram. (Dian/Vokasi IPB)
Editor : Yosep Awaludin