Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Anggota DPR RI Mulyadi Serukan Revolusi Energi, Bahan Bakar Bobibos Jadi Simbol Kedaulatan Nasional

Fikri Rahmat Utama • Senin, 30 Maret 2026 | 23:09 WIB

Anggota DPR RI Mulyadi (kanan) saat hadir dalam Podcast Bicara Bogor yang digelar Radar Bogor.
Anggota DPR RI Mulyadi (kanan) saat hadir dalam Podcast Bicara Bogor yang digelar Radar Bogor.

RADAR BOGOR – Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Mulyadi, menyerukan pentingnya revolusi energi nasional sebagai langkah menuju kemandirian dan kedaulatan energi Indonesia. Hal itu disampaikan Mulyadi dalam Podcast Bicara Bogor yang digelar Radar Bogor, Senin, 30 Maret 2026.

Menurut Mulyadi, selama ini Indonesia terlalu bergantung pada energi fosil yang berasal dari perut bumi, padahal potensi energi terbarukan di atas permukaan jauh lebih besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

“Selama ini kita terlalu euforia menggali dari perut bumi, padahal di atas bumi ada matahari, angin, air, dan tanaman yang menjadi sumber energi tak terbatas,” ujar Mulyadi.

Ia pun mendorong pemerintah, termasuk Pertamina, untuk membuka ruang lebih luas bagi pengembangan energi baru terbarukan, termasuk inovasi yang lahir dari anak bangsa.

“Maka kami berharap Pertamina memberikan ruang untuk potensi energi terbarukan dan mengidentifikasi hambatan-hambatan, karena ini memang akan menjadi kompetitor bagi energi berbasis karbon,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Mulyadi turut menyoroti pentingnya memberi ruang inovasi bagi generasi muda Indonesia dan menyebut jika didukung, anak bangsa mampu menghadirkan solusi energi alternatif yang kompetitif.

“Kalau diberi ruang, anak-anak bangsa kita kreatif dan terus berinovasi, ini bisa membantu mengurangi beban subsidi energi pemerintah secara signifikan,” jelas Mulyadi.

Salah satu inovasi yang disorot adalah Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (BOBIBOS), bahan bakar nabati berbasis jerami yang digadang menjadi simbol energi mandiri Indonesia.

Dalam paparan podcast tersebut, Bobibos disebut memiliki potensi besar dari sisi produksi. Indonesia memiliki sekitar 11,35 juta hektare lahan sawah. Jika sebagian dimanfaatkan, setiap hektare mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter bahan bakar dalam satu kali panen.

Artinya, dalam skala besar, produksi energi dari jerami ini dapat mencapai puluhan miliar liter per tahun. Bahkan, jika dimaksimalkan, kontribusinya disebut mampu memangkas impor BBM secara signifikan.

Saat ini, kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 580 ribu barel. Ketimpangan ini membuat Indonesia masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.

“Dengan potensi seperti ini, kita bisa menekan impor secara drastis. Bahkan bukan tidak mungkin ke depan kita bisa menuju negara pengekspor energi,” jelasnya.

Mulyadi juga membandingkan arah pengembangan energi global dan Jepang, kata dia, mengandalkan hidrogen dengan teknologi tinggi tetapi biaya mahal. Sementara China fokus pada listrik dengan investasi ratusan miliar dolar serta berdampak besar terhadap lingkungan.

Di tengah itu, Indonesia dinilai memiliki jalur berbeda melalui energi nabati berbasis sumber daya lokal yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

“Indonesia punya peluang memilih jalur sendiri, energi yang lebih murah, sederhana, dan berbasis kekuatan lokal,” ungkapnya.

Ia menegaskan, revolusi energi bukan sekadar mengganti sumber daya, melainkan menyangkut masa depan bangsa, efisiensi anggaran, serta pemerataan akses energi.

“Ini tentang keberanian dan kemandirian, kalau kita bisa mengelola energi sendiri, dampaknya luar biasa, dari penghematan subsidi hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.(uma)

Editor : Eka Rahmawati
#dpr #Bobibos #mulyadi