RADAR BOGOR – Pemerintah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan bahan bakar nabati berbasis jerami, Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (BOBIBOS), yang terungkap dalam audiensi PT Inti Sinergi Formula dengan Dewan Energi Nasional (DEN), Selasa, 31 Maret 2026.
Dalam pertemuan DEN tersebut, BOBIBOS dipaparkan sebagai salah satu alternatif energi baru terbarukan berbasis biomassa generasi kedua, yakni limbah pertanian berupa jerami.
Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula sekaligus anggota DPR RI Mulyadi, menyebut pemerintah membuka ruang untuk menindaklanjuti pengembangan BOBIBOS tersebut, termasuk melalui uji produksi dan kelayakan.
“Prinsipnya, pemerintah mulai melihat potensi ini. Tinggal bagaimana kita dorong agar ada uji lanjutan, baik dari sisi produksi maupun kelayakan secara menyeluruh,” ujarnya.
Dalam paparan audiensi, BOBIBOS disebut mampu menghasilkan bioetanol dari jerami yang kemudian dapat diolah menjadi bensin maupun solar. Bahkan, dalam skala laboratorium, 1 kilogram jerami diklaim bisa menghasilkan sekitar 1 liter bioetanol.
Selain itu, hasil pengujian di Lemigas menunjukkan angka oktan (RON) mencapai 98,1. Uji emisi yang dilakukan di sejumlah laboratorium perguruan tinggi juga menunjukkan hasil yang sangat rendah.
Baca Juga: Depok Sudah Terapkan WFH untuk ASN, Kini Siap Evaluasi Ikuti Aturan Pusat
“Ini menunjukkan bahwa secara kualitas, produk ini sangat kompetitif. Tinggal bagaimana kita buktikan dalam skala yang lebih besar,” kata Mulyadi.
BOBIBOS juga diklaim kompatibel dengan mesin kendaraan yang ada saat ini tanpa perlu modifikasi, serta memiliki biaya produksi yang relatif rendah, yakni di kisaran Rp3.900 hingga Rp5.000 per liter.
Meski demikian, dalam forum tersebut pemerintah juga menyoroti sejumlah tantangan, terutama terkait skala produksi dan keekonomian. Saat ini, pengembangan BOBIBOS masih berada pada tahap laboratorium dan belum masuk tahap komersialisasi.
Sejumlah anggota DEN bahkan meminta agar proses produksi dapat dijelaskan secara rinci, termasuk neraca massa, kebutuhan energi, serta validasi bahan baku seperti lignin dan selulosa dalam jerami.
“Memang masih ada PR besar, terutama di pembuktian skala industri. Tapi ini langkah awal yang penting karena pemerintah sudah mulai terlibat. Intinya DEN men-support dan akan membahas (Bobibos) dengan Kementerian ESDM,” jelasnya.
Mulyadi menegaskan, pihaknya siap membuka proses produksi untuk dipantau langsung oleh pemerintah guna memastikan transparansi dan validitas teknologi yang digunakan.
“Kalau memang ini mau jadi solusi nasional, tentu harus melalui tahapan yang benar. Kami siap diuji,” tegasnya.
Ke depan, ia berharap dukungan pemerintah tidak hanya berhenti pada kajian, tetapi berlanjut pada penyusunan regulasi dan dukungan investasi agar BOBIBOS dapat berkembang sebagai alternatif energi nasional.
“Ini momentum. Ketika pemerintah sudah mulai tertarik, kita harus dorong sampai benar-benar bisa diproduksi massal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga