RADAR BOGOR - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah tengah mengupayakan pencarian sumber alternatif bahan baku plastik menyusul terganggunya rantai pasok global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kebijakan ini diambil setelah Kementerian Perdagangan Republik Indonesia menerima sejumlah laporan dari pelaku industri mengenai kenaikan harga kantong plastik yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Budi, industri plastik nasional masih bergantung pada impor nafta sebagai bahan baku utama. Selama ini, pasokan nafta banyak berasal dari negara-negara di Timur Tengah.
Namun, memanasnya konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi global menjadikan kenaikan harga kantong plastik.
Salah satu titik penting yang terdampak adalah Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan turunannya, termasuk nafta.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap kawasan tersebut, pemerintah kini mulai menjajaki kerja sama dengan negara lain sebagai pemasok alternatif.
Baca Juga: 111 Gempa Bumi Guncang Jawa Barat Selama Maret 2026, BMKG: Terbesar M 5,4
“Kami terus menjalin komunikasi dengan asosiasi dan pelaku industri untuk mencari sumber pasokan baru. Selain itu, perwakilan Indonesia di luar negeri juga ikut membantu membuka akses terhadap pemasok potensial,” ujar Mendagri Budi Santoso, pada Sabtu, 4 April 2026.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan sekaligus meredam gejolak harga di dalam negeri.
Gangguan rantai pasok ini tidak hanya dirasakan Indonesia. Sejumlah negara di kawasan Asia juga mengalami tekanan serupa karena ketergantungan pada bahan baku yang sama.
Baca Juga: Setelah Viral Bocah SD Menangis karena Sepeda Dicuri di Sukmajaya Depok, Kini Senang Dapat yang Baru
Beberapa negara di antaranya adalah Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, serta Thailand.
Editor : Maulidia