Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Waspada Masyarakat Bogor: BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Bisa Lebih Panjang dari Rata-Rata

Rani Puspitasari Sinaga • Senin, 6 April 2026 | 12:45 WIB
Musim kemarau diprediksi BMKG lebih panjang dari biasanya. Foto: Laman BPBD Jatim
Musim kemarau diprediksi BMKG lebih panjang dari biasanya. Foto: Laman BPBD Jatim

RADAR BOGOR - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hingga akhir Maret 2026, sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Bogor telah mulai memasuki musim kemarau.

BMKG juga memperkirakan sebagian besar daerah di Indonesia akan mengalami musim kemarau secara bertahap pada April hingga Juni 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, bahwa beberapa wilayah yang lebih dulu memasuki musim kemarau antara lain sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Saung Bahagia Sukamakmur Bogor, Wisata Keluarga Tepi Sawah dengan View Gunung Batu, Bisa Renang Sepuasnya lho

Serta sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Barat.

Ia menegaskan bahwa BMKG akan terus memantau dinamika iklim, baik global maupun regional, serta memberikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat pun diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan adanya potensi munculnya fenomena El Niño pada paruh kedua tahun 2026. Hingga akhir Maret, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral.

Baca Juga: Tak Ribet Lagi! Warga Bogor yang Mau Bayar Pajak Kendaraan Kini Lebih Cepat dan Mudah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Sebutkan 1 Syarat

Namun, hasil pemodelan iklim menunjukkan kemungkinan ENSO berkembang menjadi El Niño di semester kedua tahun ini.

Ia menambahkan bahwa intensitas El Niño diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen.

Meski demikian, terdapat kemungkinan kecil, kurang dari 20 persen, bahwa fenomena tersebut dapat berkembang menjadi lebih kuat.

Baca Juga: Alhamdulillah Angin Segar bagi KPM Bansos, Status KKS Baru Mulai SPM dan Penjelasan Teknis Percepatan Tahap 2

BMKG juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam menafsirkan prediksi iklim saat ini.

Hal ini disebabkan adanya fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan akurasi model prediksi cuaca dan iklim pada periode musim semi di belahan Bumi utara (Maret–Mei).

Pada periode ini, prediksi El Niño umumnya hanya cukup akurat untuk jangka waktu sekitar tiga bulan ke depan, sehingga diperlukan analisis mendalam terhadap berbagai faktor yang memengaruhi terbentuknya fenomena tersebut dan dampaknya bagi Indonesia.

Baca Juga: Info Bansos 6 April 2026, Jadwal Tahap 2, Pencairan Termin Susulan dan Lima Bantuan Tambahan yang Dikebut Penyalurannya

Oleh karena itu, BMKG akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan data secara berkala.

Tingkat kepercayaan terhadap prediksi intensitas El Niño diperkirakan akan meningkat pada hasil analisis bulan Mei 2026, yang secara statistik lebih andal untuk memproyeksikan kondisi hingga enam bulan ke depan.

Secara umum, BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan cenderung lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, yang juga dipengaruhi oleh variabilitas iklim alami di wilayah Indonesia.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #kemarau #bmkg