RADAR BOGOR - Presiden Prabowo Subianto menegaskan optimisme terhadap pemerintah dalam menghadapi potensi krisis energi global di masa depan.
Pernyataan itu disampaikan langsung saat memberikan taklimat dalam Rapat Kerja Pemerintah bersama Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 8 April 2026.
Rapat Kerja Pemerintahan ini ikut dihadiri oleh beberapa menteri dan pejabat, seperti pejabat eselon I kementerian dan lembaga serta pimpinan BUMN.
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menyatakan di tengah ketidakpastian krisis global, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas nasional dan mengendalikan arah pembangunan.
“Kita dapat mengendalikan arah perkembangan bangsa kita dan mampu melewati berbagai tantangan. Dalam satu setengah tahun terakhir, pemerintah telah membuktikan kinerja yang efektif dan andal,” ujar Presiden Prabowo, pada Kamis, 9 April 2026.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo juga mengingatkan dunia saat ini menghadapi ancaman krisis global di tiga sektor utama, yakni pangan, energi, dan air.
Baca Juga: DPRD Serahkan Ribuan Pokir di RKPD 2027, Infrastruktur hingga Kesehatan Jadi Prioritas
Menurutnya, hal tersebut telah lama diproyeksikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Terkait kondisi global terkini, Presiden menyoroti konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga energi dunia.
Meski demikian, ia memastikan posisi Indonesia relatif aman berdasarkan laporan terbaru dari para menteri.
Baca Juga: Ajang Porprov XV Jawa Barat 2026 Diproyeksi Putar Ekonomi Kota Bogor Secara Masif
“Saya telah mempelajari data dan laporan. Kondisi kita cukup aman, meskipun ada tantangan, kita mampu menghadapinya,” tegasnya.
Untuk menjaga stabilitas energi nasional, pemerintah telah menyiapkan langkah strategis dalam jangka pendek, khususnya untuk periode 12 bulan ke depan yang dinilai krusial.
“Dalam satu tahun ke depan ini kita fokus mengendalikan konsumsi bahan bakar. Setelah itu, kita akan berada pada posisi yang jauh lebih kuat,” jelasnya.
Selain itu, Presiden memastikan kebijakan subsidi energi akan tetap dipertahankan bagi masyarakat kecil.
Ia menegaskan sekitar 80 persen rakyat Indonesia akan tetap mendapatkan akses BBM bersubsidi, sementara kelompok masyarakat mampu akan diarahkan untuk membayar sesuai harga pasar.
Lebih lanjut, Presiden menekankan pentingnya percepatan transformasi menuju kemandirian energi nasional berbasis sumber daya dalam negeri dan energi terbarukan.
Baca Juga: M. Zaidan Ahsan Sabet Emas di Jepang, Wali Kota Bogor Beri Hormat
Menurutnya, situasi krisis justru menjadi momentum untuk melakukan reformasi.
“Krisis adalah peluang untuk bekerja lebih efisien, tidak boros, dan memastikan tidak ada kebocoran maupun korupsi,” tuturnya.***
Editor : Maulidia