RADAR BOGOR - Tekanan global yang terjadi di jalur distribusi minyak dunia mulai berdampak ke sektor yang tak terduga, termasuk kemasan pangan.
Kenaikan dan gangguan pasokan bahan baku plastik kini ikut memengaruhi pelaku usaha beras dan gula, yang sangat bergantung pada kemasan karung untuk distribusi.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Website @bapanas.go.id, pelaku usaha di sektor tersebut menjadi salah satu yang terdampak cukup signifikan.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Liburan, Pengalaman Bermakna Siswa Surau Academy di Belitung
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa dinamika geopolitik mendorong kenaikan harga plastik.
Ia menyebutkan bahwa bahan baku plastik yang berasal dari hasil samping pengolahan minyak bumi banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Sehingga ketika terjadi gejolak di wilayah tersebut, dampaknya ikut terasa pada harga plastik di dalam negeri.
Baca Juga: Tak Ada Kenaikan, PLN Tegaskan Tarif Listrik April 2026 Tetap Berlaku untuk Semua Golongan
Sebagai langkah antisipasi, Bapanas telah menggelar diskusi dengan pelaku usaha di sektor beras dan gula untuk menghitung dampak kenaikan harga plastik terhadap biaya produksi.
Dari hasil pembahasan tersebut, pelaku usaha memperkirakan adanya tambahan biaya sekitar Rp350 per kilogram untuk beras dan Rp150 per kilogram untuk gula.
Angka tersebut dinilai cukup berpengaruh terhadap harga jual, sehingga perlu diantisipasi agar tidak membebani konsumen.
Meski demikian, hasil pemantauan Bapanas menunjukkan bahwa pergerakan harga beras dan gula dalam satu bulan terakhir masih relatif terkendali.
Untuk beras medium, harga di Zona I hanya mengalami perubahan tipis dari Rp12.964 menjadi Rp12.965 per kilogram.
Di Zona II, harga bergerak dari Rp13.585 menjadi Rp13.622 per kilogram, sementara di Zona III naik dari Rp15.056 menjadi Rp15.154 per kilogram.
Adapun untuk komoditas gula, harga di wilayah Indonesia bagian barat mengalami kenaikan dari Rp18.240 menjadi Rp18.615 per kilogram.
Baca Juga: Sering Bersin dan Gatal Tanpa Sebab? Dokter IPB Ungkap Tanda Alergi yang Sering Diabaikan
Sementara itu, di Indonesia Timur justru terjadi penurunan harga dari Rp20.412 menjadi Rp20.163 per kilogram.
Ketut menambahkan bahwa pihaknya akan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian guna mencegah dampak kenaikan harga plastik semakin meluas.
Ia menegaskan bahwa Bapanas akan bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk memastikan ketersediaan pasokan plastik tetap terjaga serta mencari alternatif sumber pasokan yang lebih stabil.
Baca Juga: BRI Perkuat Keuangan Berkelanjutan, Salurkan Pembiayaan Hijau dan Sosial Ratusan Triliun
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian menyatakan optimisme terhadap kondisi stok plastik nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa pihaknya telah mempertemukan pelaku industri dari berbagai lini.
Mulai dari hulu petrokimia hingga industri daur ulang, untuk membahas kondisi terkini dan langkah mitigasi.
Dari hasil pertemuan tersebut, industri menyatakan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan pasokan, khususnya bagi pelaku usaha kecil agar tetap mampu bersaing.
Namun demikian, pemerintah tetap mencermati perkembangan global, terutama dampak dari ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan biaya logistik dan pengiriman, termasuk adanya tambahan biaya seperti surcharge premium.
Selain itu, waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri yang sebelumnya sekitar 15 hari kini berpotensi molor hingga 50 hari, sehingga turut meningkatkan beban biaya produksi di dalam negeri. (Dian/Vokasi IPB)
Editor : Yosep Awaludin