RADAR BOGOR - Jelang Hari Raya Idul Adha umat Islam pastinya akan mempersiapkan sapi atau kambing untuk disembelih.
Hal ini menandakan umat muslim sedang berbahagia atas nikmat dan karunia-Nya karena bisa melaksanakan ibadah kurban di Hari Raya Idul Adha.
Namun, beredar di tengah masyarakat sebuah pemahaman mengenai hewan qurban yang disembelih akan menjadi kendaraan bagi orang yang berqurban saat melewati jembatan shirath di akhirat.
Pertanyaannya, benarkah hewan kurban akan menjadi kendaraan di akhirat dan apakah hal itu memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam? Simak penjelasan Ustadz Adi Hidayat.
Sejumlah riwayat memang menyebutkan anjuran untuk memilih hewan qurban terbaik, bahkan dikaitkan dengan balasan di akhirat.
Salah satu riwayat yang sering dikutip menyebutkan hewan qurban akan menjadi tunggangan atau kendaraan saat melewati shirath.
Namun, para ulama ahli hadis menilai riwayat-riwayat tersebut sangat lemah (dha’if), bahkan sebagian dinilai tidak memiliki sanad yang jelas.
Ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, As-Sakhawi, dan Al-Munawi menegaskan hadis-hadis tentang keutamaan hewan qurban tidak dapat dijadikan landasan utama dalam beribadah.
Bahkan sebagian ulama lain menyebut, riwayat tersebut mendekati kategori hadis bermasalah atau tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Memahami Secara Kiasan (Majas)
Meski demikian, sebagian ulama memberikan penjelasan yang lebih bijak. Mereka menilai makna “kendaraan di akhirat” bisa dipahami secara kiasan (majas), bukan secara harfiah.
Artinya, bukan hewan qurban itu sendiri yang benar-benar menjadi kendaraan, melainkan pahala dari ibadah qurban yang akan membantu seseorang dalam menghadapi kehidupan akhirat, termasuk saat melewati shirath.
Semakin baik kualitas qurban seseorang baik dari sisi niat, keikhlasan, maupun kualitas hewan maka semakin besar pula pahala yang didapatkan. Pahala inilah yang menjadi “penolong” di akhirat.
Pelajaran dari Kisah Anak Nabi Adam (Habil dan Qabil)
Al-Qur’an sendiri memberikan gambaran penting melalui kisah dua anak Nabi Adam dalam Al-Qur'an (QS. Al-Ma’idah: 27).
Dalam kisahnya, salah satu qurban diterima karena dipersembahkan dengan kualitas terbaik dan penuh ketakwaan, sementara yang lain ditolak karena tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Baca Juga: Kisah Haru Nenek 70 Tahun di Sragen, Berharap Sekolah Rakyat Ubah Nasib Cucu dari Kemiskinan
Hal ini menunjukkan yang dinilai oleh Allah bukan sekadar bentuk fisik qurban, melainkan kualitas keimanan dan ketakwaan di baliknya.
Penegasan paling jelas terdapat dalam firman Allah di Al-Qur'an surat Al-Hajj ayat 37:
“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” Q.S. Al-Hajj:37.
Untuk itu, umat Islam harus perhatikan poin penting sebagai berikut:
- Niat Berqurban dengan ikhlas
- Memilih hewan terbaik sesuai kemampuan
- Menjadikan qurban sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah.
Ayat ini menegaskan esensi qurban adalah ketakwaan, bukan sekadar ritual penyembelihan.***
Editor : Maulidia