RADAR BOGOR – Sawinah (48), warga Desa Poh Gading, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, menjalani hidup penuh perjuangan demi membesarkan dua anaknya seorang diri.
Tinggal di rumah sederhana beratap seng, ia harus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi setelah ditinggal suami yang merantau tanpa kabar hingga kini.
Di dinding rumahnya bahkan tertera status sebagai keluarga prasejahtera penerima bantuan sosial.
Baca Juga: Kisah Haru di Balik UTBK IPB: Perjuangan Orang Tua Antar Anak Demi Masa Depan
Meski demikian, rumah tersebut menjadi saksi keteguhan Sawinah dalam memperjuangkan masa depan anak-anaknya.
Sejak ditinggal sang suami, ia menjadi tulang punggung keluarga. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pendidikan anak, Sawinah bekerja sebagai pedagang kecil dengan penghasilan harian berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000.
Jumlah tersebut diakuinya masih jauh dari cukup. Namun, ia tetap berusaha mengatur keuangan seadanya demi kelangsungan hidup keluarganya.
“Penghasilannya segitu, ya harus dicukup-cukupkan. Mau tidak mau harus tetap jalan karena ada dua anak yang harus saya hidupi,” ungkapnya, Sabtu 25 April 2026.
Kondisi ekonomi yang sulit sempat membuat anaknya, Bayu Laksono, terpaksa menghentikan sekolah.
Ia hanya sempat mengenyam pendidikan di tingkat SMP selama satu bulan karena terkendala biaya transportasi dan tidak ada yang mengantar.
Baca Juga: Dari Umbi Tradisional Jadi Dessert Kekinian: Inovasi Mahasiswa IPB Ini Bikin Talas Naik Kelas
Situasi tersebut membuat Bayu sering menangis karena tidak bisa berangkat ke sekolah, yang kemudian menjadi beban tersendiri bagi sang ibu.
Harapan baru muncul ketika Sawinah mendapatkan informasi mengenai program Sekolah Rakyat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Ia pun berinisiatif mencari tahu lebih lanjut dengan bertanya kepada berbagai pihak, mulai dari masyarakat sekitar hingga tenaga pendidik.
“Saya berusaha mencari informasi, tanya ke orang-orang, guru, sampai akhirnya diarahkan untuk koordinasi dengan pihak desa,” tuturnya.
Usaha tersebut membuahkan hasil. Kini, Bayu dapat kembali melanjutkan pendidikan di SRMP 12 Pati tanpa dipungut biaya.
Tak hanya gratis, Bayu juga mendapatkan berbagai fasilitas penunjang seperti seragam, tas, buku, sepatu, hingga perlengkapan sekolah lainnya.
Selain itu, keberadaan asrama gratis menjadi solusi atas kendala transportasi yang sebelumnya dihadapi.
Bayu kini dapat tinggal dekat dengan sekolah tanpa harus memikirkan ongkos perjalanan.
Sawinah mengaku anaknya merasa nyaman dan senang belajar di lingkungan barunya.
Ia pun merasakan dampak positif secara ekonomi karena kini dapat menyisihkan sedikit penghasilannya untuk keperluan lain, termasuk menjenguk anaknya.
“Anaknya juga betah di sana. Sekarang saya bisa sedikit menabung untuk menjenguk dia dua kali dalam sebulan,” katanya.
Ia menyampaikan rasa syukur atas program tersebut yang dinilai sangat membantu masyarakat kurang mampu, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam membuka peluang masa depan anak.
Sawinah juga berharap adik Bayu nantinya dapat mengikuti jejak yang sama untuk bersekolah di Sekolah Rakyat.
Menurutnya, perubahan yang dialami Bayu cukup signifikan, baik dari segi kemandirian maupun sikap sehari-hari.
Baca Juga: Wind Hill Mountain View Resort: Penginapan View Gunung di Bogor, Bebas Macet Puncak
“Sekarang dia lebih mandiri, cara bicaranya juga lebih sopan. Perubahannya terasa sekali,” ujarnya.
Di akhir, Sawinah menyampaikan apresiasi atas hadirnya program Sekolah Rakyat yang telah membantu keluarganya.
Ia berharap program tersebut dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi lebih banyak masyarakat di seluruh Indonesia. (***)
Editor : Yosep Awaludin