RADAR BOGOR - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih dihadapkan pada sejumlah kendala. Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Dr. Deni Lubis, menilai distribusi program ini belum berjalan efisien dan belum sepenuhnya tepat sasaran.
Dalam kegiatan Strategic Discussion Series 1 pada 29 April di Kampus IPB University Dramaga, ia menjelaskan bahwa MBG memiliki landasan filosofis yang kuat.
Dari sudut pandang ekonomi syariah, menurur Pakar IPB University pemberian makanan kepada masyarakat yang membutuhkan sejalan dengan prinsip zakat, khususnya zakat fitrah sebagai salah satu rukun Islam. Meski demikian, ia menekankan pentingnya penyaluran bantuan sosial, termasuk MBG, dilakukan secara terarah agar tidak menimbulkan pemborosan.
Baca Juga: Jaga Kelestarian Budaya, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB Hadirkan Festival Budaya Nusantara 2026
Ia juga mengungkapkan bahwa kemiskinan merupakan fenomena yang akan selalu ada di setiap negara, termasuk negara maju, karena berbagai faktor seperti kehilangan pekerjaan atau pencari nafkah.
Oleh sebab itu, bantuan harus benar-benar diberikan kepada pihak yang membutuhkan.
Dalam implementasinya, ditemukan adanya siswa yang tidak mengonsumsi makanan dari program MBG karena sudah terbiasa membawa bekal dari rumah atau memesan makanan dari katering. Hal ini berpotensi menimbulkan pemborosan makanan akibat distribusi yang kurang tepat sasaran.
Baca Juga: Warga Bogor Kini Tak Perlu ke Purwakarta, Sate Maranggi Sindanglaya Legendaris Kini Ada di Cibubur
Sebagai solusi, Dr. Deni mengusulkan agar penyaluran bantuan tidak hanya berbasis sekolah atau komunitas, tetapi juga terintegrasi dengan sistem perlindungan sosial yang sudah ada, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Melalui mekanisme ini, penerima manfaat dapat menukarkan bantuan dalam bentuk bahan pangan atau makanan di koperasi yang telah ditunjuk.
Menurutnya, skema penukaran berbasis KIP atau KIS akan membuat bantuan lebih fleksibel dan tepat sasaran. Selain itu, kebutuhan pangan dapat dipasok langsung dari petani lokal melalui koperasi, sehingga mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Bersiap Libur Panjang Lagi, Ini Alternatif Tempat Wisata Anti Macet, Hidden Gem Seru di Bogor
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menghasilkan dampak yang lebih besar dengan anggaran yang sama. Ia pun berharap program MBG dapat terus disempurnakan agar semakin efektif, efisien, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga