Indonesia Bikin Geger Venice Biennale 2026, Printing the Unprinted Angkat Imajinasi Nusantara ke Panggung Dunia

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Sabtu, 9 Mei 2026 | 07:25 WIB
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat memberikan penjelasan.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat memberikan penjelasan.

RADAR BOGOR - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia kembali menegaskan, eksistensi seni rupa Tanah Air di panggung internasional melalui kehadiran Paviliun Indonesia pada ajang bergengsi Venice Biennale 2026 di Venesia, Italia.

Mengusung tema “Printing the Unprinted”, Indonesia menghadirkan pendekatan artistik yang tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog global tentang sejarah, identitas, dan masa depan budaya Nusantara.

Paviliun Indonesia resmi dibuka pada masa pratinjau 7 Mei 2026 dan akan berlangsung untuk publik mulai 9 Mei hingga 22 November 2026 di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia.

Baca Juga: Gagal Seleksi Kompetensi Koperasi Desa? Jangan Patah Semangat, CPNS 2026 Diprediksi Segera Dibuka, Siapkan Dokumen Ini

Kehadiran Indonesia dalam pameran seni internasional edisi ke-61 ini, menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya partisipasi Indonesia berada di bawah Kementerian Kebudayaan RI yang berdiri sendiri.

Penyelenggaraan Paviliun Indonesia dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan dengan dukungan Danantara Indonesia Trust Fund.

Program ini juga berkolaborasi bersama Scuola Internazionale di Grafica, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, serta Venice Art Factory.

Baca Juga: Kartu KKS Rusak Jangan Dibiarkan, Begini Cara Ganti agar Bansos PKH dan BPNT Tetap Bisa Cair

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam pembukaan paviliun menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan fondasi penting bagi masa depan bangsa.

Ia menyampaikan, Indonesia hadir di Venice Biennale bukan sekadar memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga ingin ikut membentuk percakapan global melalui seni.

Menurut Fadli Zon, Indonesia merupakan peradaban megadiversitas yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, 1.340 kelompok etnis, dan ratusan bahasa daerah yang terus hidup dan berkembang.

Baca Juga: Saldo PKH BPNT Bisa Dicairkan di Luar Bank Himbara? Ini Penjelasan Resmi dan Kebijakan Kemensos RI

Kekayaan tersebut lahir dari sejarah panjang pertukaran maritim, tradisi spiritual, hingga inovasi artistik yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia.

Ia juga menilai, warisan prasejarah Indonesia menunjukkan bahwa Nusantara telah lama menjadi pusat kreativitas manusia.

Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia, tempat bertemunya tradisi, imajinasi, dan masa depan.

Baca Juga: Status 'Gagal Cek Rekening' Muncul di Bansos Tahap 2? Jangan Panik, Ini yang Harus Segera Dilakukan KPM

Semangat itu diterjemahkan melalui tema “Printing the Unprinted” yang menghadirkan gagasan tentang suara-suara yang belum terdengar, ingatan yang terlupakan, hingga kemungkinan masa depan yang belum pernah dibayangkan.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman Indonesia mencoba menghadirkan narasi spekulatif yang melampaui batas realitas dan pembacaan sejarah konvensional.

Paviliun Indonesia tahun ini dikuratori oleh Aminudin TH Siregar.

Baca Juga: Ada 475 Ribu KPM Baru PKH dan BPNT 2026, Penerima Baru Bisa Langsung Cair Tahap 2? Ini Penjelasannya

Dalam pendekatan kuratorialnya, lokasi Scuola Internazionale di Grafica dipilih karena memiliki kedekatan kuat dengan praktik seni grafis dan produksi artistik berbasis proses.

Pendekatan tersebut membuat karya seni tidak hanya diproduksi di Indonesia lalu dikirim ke Venesia, melainkan juga dikembangkan melalui residensi, dialog, dan kolaborasi langsung di ruang pamer tersebut.

Proses kreatif menjadi bagian penting dari keseluruhan pengalaman artistik yang ingin dibangun.

Baca Juga: Belum Terima Bansos Tahap 2? Jangan Panik, Pemerintah Siapkan Pencairan Susulan untuk KPM yang Masih Proses

Sebanyak tujuh seniman lintas generasi terlibat dalam pameran ini, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Melalui medium seni cetak grafis atau printmaking, para seniman menghadirkan karya yang lahir dari proses perjumpaan gagasan, pertukaran budaya, hingga pembacaan ulang tentang identitas Nusantara di tengah lanskap global.

Secara konseptual, pameran ini berangkat dari kisah fiksi mengenai pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit, Sumatra.

Baca Juga: KPM Wajib Waspada, Nama Bisa Hilang dari Penerima Bansos PKH-BPNT Mei 2026, Ini Penyebab Saldo KKS Tak Kunjung Masuk

Narasi tersebut membuka ruang spekulatif tentang hubungan Asia dan Eropa sekaligus mempertanyakan cara pandang sejarah global yang selama ini banyak dibangun dari perspektif penemuan dan klaim sepihak.

Tidak hanya menghadirkan pameran utama, Paviliun Indonesia juga menyelenggarakan berbagai program pendukung seperti residensi seniman, diskusi seni, lokakarya, hingga simposium.

Seluruh program dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan sekaligus memperluas jejaring seni Indonesia di tingkat internasional.

Baca Juga: Rekening KKS Mulai Terisi Dana PKH-BPNT Tahap 2 Mei 2026, Ini Wilayah yang Sudah Masuk Saldo Bansos

Dalam penguatan ekosistem talenta seni budaya, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN) turut melibatkan tujuh talenta muda Indonesia yang berkolaborasi langsung dengan para seniman paviliun.

Kolaborasi tersebut menggunakan pendekatan art therapy yang menjadikan seni sebagai medium membangun empati, merawat memori, meredakan trauma, serta memperkuat ketahanan personal dan kolektif.

Dengan konsep tersebut, Paviliun Indonesia tidak hanya menjadi ruang pamer karya seni, tetapi juga ruang dialog lintas generasi dan ruang penyembuhan bersama.

Baca Juga: Lihat Hasil Karya PFI di Taman Siliwangi Bogor, Wamendagri Bima Arya Tersentuh dengan Foto Erupsi Gunung Semeru

Fadli Zon juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masa depan kebudayaan Indonesia.

Menurutnya, budaya membutuhkan dukungan pemerintah, publik, hingga sektor swasta agar mampu berkembang menjadi kekuatan global.

Ia menilai budaya merupakan sumber identitas dan imajinasi bangsa, sementara ekonomi kreatif menjadi sarana untuk mengubah budaya menjadi inovasi dan peluang internasional.

Karena itu, Indonesia terus memperkuat hubungan antara seni, tradisi, dan industri kreatif, mulai dari seni visual, film, musik, sastra, hingga animasi dan budaya digital.

Baca Juga: 439 Calon Jemaah Haji Kloter 14 Asal Kabupaten Bogor Dilepas ke Tanah Suci, Berikut Jemaah Tertua dan Termuda

Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon turut membuka peluang kolaborasi internasional melalui penguatan kemitraan budaya dan berbagai program residensi global.

Ia menyebut, Paviliun Indonesia sebagai ruang terbuka untuk dialog budaya dan pertukaran gagasan yang lebih luas di masa depan.

Pembukaan Paviliun Indonesia turut dihadiri sejumlah tokoh penting internasional, di antaranya David Neo, Junimart Girsang, serta Susi Marleny Bachsin.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Turun Tangan di Tasikmalaya, Bocah Kelas 1 SD yang Mogok Nulis Akhirnya Mau Pegang Pulpen Lagi Usai Ketemu Gubernur Jawa Barat

Melalui “Printing the Unprinted”, Indonesia tidak hanya menghadirkan karya seni di Venice Biennale 2026, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium diplomasi budaya, ruang kolaborasi, dan percakapan global yang berakar kuat pada pengalaman dan imajinasi Nusantara. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
Venice Biennale 2026 Kementerian Kebudayaan indonesia fadli zon