RADAR BOGOR - Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap alasan pemerintah akhirnya menyetujui pengalokasian anggaran untuk insentif mobil listrik mulai Juni 2026. Padahal sebelumnya, ia sempat menolak pemberian stimulus bagi industri kendaraan listrik.
Menurut Purbaya, keputusan insentif mobil listrik tersebut dipengaruhi oleh potensi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat memicu kenaikan harga minyak dunia dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, setelah melakukan kunjungan ke AS dan mempelajari pola negosiasi yang ditawarkan Negeri Paman Sam kepada Iran, dirinya menilai skema tersebut cenderung berat sebelah dan kemungkinan besar akan ditolak Iran.
Baca Juga: Viral di Kota Depok! Teman Gak Tahu Diri, Dikasih Pinjam Motor Malah Dijual, Kini Berakhir di Bui
Kondisi itu membuatnya memperkirakan konflik masih akan berlangsung cukup lama.
Purbaya mengatakan, jika pemerintah tidak segera mendorong perubahan konsumsi energi dari bahan bakar minyak (BBM) ke listrik, maka ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor akan semakin besar di tengah harga minyak global yang terus naik.
Karena itu, pemerintah memilih mempercepat penggunaan kendaraan listrik melalui pemberian insentif.
Baca Juga: Polemik Soal Larangan Fotokopi KTP Elektronik, Begini Penjelasan dan Klarifikasi Kemendagri
Menurutnya, langkah tersebut juga dapat membantu menekan impor BBM secara signifikan. Selain itu, Indonesia dinilai memiliki pasokan listrik yang sangat berlebih.
Ia menyebut kapasitas listrik nasional baru terpakai sekitar 70 persen, sementara sisanya tetap harus dibayar biaya produksinya meski tidak digunakan.
Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, pemerintah berharap konsumsi listrik domestik bisa lebih optimal sekaligus menekan subsidi energi, baik di sektor BBM maupun kelistrikan.
Purbaya sebelumnya memperkirakan konflik AS-Iran dapat mereda menjelang pemilu AS pada September 2026. Namun, melihat perkembangan terbaru, ia menilai situasi geopolitik tersebut masih berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga