Oleh: Maruto Saptomargo
RADAR BOGOR - Dalam dunia profesional yang bergerak serba cepat, 'performa' sering kali menjadi kata yang mengerikan sekaligus mendewakan. Di ruang-ruang rapat, kita terbiasa melihat grafik yang menanjak dan angka-angka target yang ambisius sebagai satu-satunya parameter keberhasilan.
Namun, jika kita mengambil jeda sejenak menepi dari hiruk-pikuk target jangka pendek, muncul sebuah pertanyaan mendasar, ‘apakah organisasi yang performanya hebat secara finansial otomatis telah menebar manfaat bagi manusia di dalamnya?
Menilai kesehatan sebuah organisasi hanya dari laporan laba rugi ibarat menilai kesehatan manusia hanya dari berat badannya. Kita mengabaikan detak jantung, ketenangan pikiran, dan kekuatan mental.
Di sinilah pentingnya kita menilik kembali konsep manajemen kinerja yang lebih membumi dan manusiawi, salah satunya melalui pendekatan Maslahah Performa (MaP) yang dikembangkan oleh Prof. Achmad Firdaus, praktisi dan Guru Besar Universitas Tazkia.
Paradigma Baru Kemaslahatan
Maslahah Performa menawarkan sudut pandang bahwa organisasi bukanlah sekadar mesin pencetak profit, melainkan sebuah entitas moral. Jika manajemen konvensional sering kali terjebak pada efisiensi yang ketat, MaP menuntut adanya "kemaslahatan" atau kebaikan yang meluas.
Kinerja tidak lagi hanya diukur dari apa yang didapat oleh pemegang saham, tetapi bagaimana organisasi tersebut menjaga nilai-nilai agama, jiwa manusia, keturunan, harta, dan yang paling krusial di era disrupsi ini adalah akal pikiran.
Menghidupkan Akal Kolektif
Salah satu pilar yang sering terlupakan namun menjadi jantung dari keberlanjutan organisasi adalah Orientasi Pembelajaran atau dalam kaidah aslinya disebut Hifdz al-'Aql (menjaga akal). Banyak pemimpin organisasi terjebak dalam rutinitas operasional dan menganggap pengembangan SDM hanyalah biaya tambahan atau formalitas tahunan.
Padahal, sebuah organisasi yang berhenti belajar sebenarnya sedang merencanakan kegagalannya sendiri. Dalam Maslahah Performa, menjaga akal bukan sekadar mengirim karyawan ke pelatihan teknis, namun hal ini adalah tentang menciptakan ekosistem di mana pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi bertransformasi menjadi kekayaan institusi.
Di dalamnya ada proses asah asuh, di mana etika berpikir dikedepankan. Karyawan didorong untuk kritis tetapi tetap berlandaskan pada integritas moral, sehingga solusi yang lahir bukan sekadar efektif secara bisnis, tapi juga benar secara etis. Implementasi dimensi ini menuntut organisasi untuk memiliki adaptabilitas literasi yang tinggi, kemampuan tim untuk menyerap disrupsi teknologi dan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai luhur organisasi.
Menuju Performa yang Berkelanjutan
Ketika sebuah organisasi mampu menghidupkan akal kolektifnya, ia tidak lagi sekadar mengejar target. Ia sedang membangun sebuah peradaban kecil di dalam lingkungan kerjanya. Performa yang dihasilkan bukan lagi beban yang melelahkan, melainkan buah dari kecerdasan yang dioptimalkan untuk membawa manfaat yang lebih luas.
Pada akhirnya, tantangan bagi para pemimpin organisasi saat ini adalah berani melangkah keluar dari zona nyaman angka-angka dingin. Kita butuh organisasi yang tidak hanya "berlari kencang", tapi juga tahu ke mana arah kemaslahatan yang sedang dituju.
Dengan mengintegrasikan nilai pembelajaran dan etika ke dalam sistem kinerja, kita tidak hanya mencetak organisasi yang unggul, tapi juga organisasi yang memiliki jiwa dan integritas di mata manusia maupun Tuhan.
Profil Penulis:
Maruto Saptomargo, SE. adalah praktisi organisasi yang saat ini sedang menempuh studi di Program Pascasarjana Magister Ekonomi Syariah, Universitas Tazkia. Penulis aktif mengamati isu manajemen kinerja berbasis nilai kemaslahatan dan etika organisasi.
Editor : Eka Rahmawati