RADAR BOGOR - Ada hari-hari tertentu yang membuat hati manusia lebih mudah luluh.
Hari ketika orang yang biasanya kuat mendadak ingin menangis.
Hari ketika doa-doa yang lama dipendam kembali disebut pelan-pelan di hadapan Allah.
Salah satunya adalah Hari Arafah.
Hari ini selalu terasa berbeda.
Bukan hanya karena jutaan manusia sedang berkumpul di Padang Arafah.
Tetapi karena pada hari itu manusia seperti diingatkan kembali tentang dirinya sendiri.
Tentang betapa kecil dirinya.
Tentang betapa hidup sebenarnya tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan.
Di Arafah, semua orang terlihat hampir sama. Pakaian sederhana.
Tidak ada tanda jabatan.
Tidak ada kemewahan yang benar-benar berarti.
Yang dibawa hanyalah hati.
Baca Juga: Indonesia Tempati Peringkat Pertama Transparansi Pelaporan Belanja Perpajakan Terbaik Dunia
Dan mungkin memang itu yang paling Allah lihat.
Ada orang yang datang membawa dosa bertahun-tahun.
Ada yang datang dengan hati yang lelah.
Ada yang diam-diam menyimpan ketakutan tentang hidupnya.
Tentang keluarganya.
Tentang anak-anaknya.
Tentang masa depannya.
Dan ada pula yang datang hanya dengan satu harapan sederhana: semoga Allah masih berkenan mendengarkan doanya.
Karena kadang manusia terlihat baik-baik saja di luar, padahal di dalamnya sedang runtuh pelan-pelan.
Di Arafah, pemandangan seperti itu sangat mudah ditemukan.
Ada jamaah yang sejak berangkat terlihat biasa saja.
Tidak banyak bicara.
Tetapi ketika doa mulai dipanjatkan, ia menangis lama sekali sampai suaranya bergetar.
Setelah ditanya pelan-pelan, ternyata ia sudah bertahun-tahun memendam keinginan agar anaknya kembali dekat dengan agama.
Ada juga seorang ayah yang terus menyebut nama anak-anaknya satu per satu dalam doa.
Bahkan lebih banyak menyebut keluarganya daripada dirinya sendiri.
Sebab ternyata beginilah hati orang tua.
Saat berada di tempat mustajab, yang paling dulu diingat justru orang-orang yang dicintainya.
Ada pula jamaah yang hanya duduk diam memandang langit Arafah sambil menggenggam tasbih.
Tidak banyak kata-kata keluar dari mulutnya.
Tetapi air matanya tidak berhenti jatuh.
Kadang memang ada doa yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kalimat.
Dan di tempat seperti Arafah, manusia sering kali merasa lebih jujur kepada dirinya sendiri.
Hari Arafah mengajarkan bahwa tidak apa-apa menjadi lemah di hadapan Allah.
Tidak perlu terlihat kuat.
Tidak perlu berpura-pura tegar.
Sebab Allah tahu isi hati yang paling dalam, bahkan sebelum seorang hamba mengangkat kedua tangannya.
Mungkin itu sebabnya Rasulullah Saw mengatakan bahwa sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.
Karena pada hari itu manusia benar-benar belajar menjadi hamba.
Meminta dengan sungguh-sungguh.
Berharap dengan sungguh-sungguh.
Dan menangis tanpa gengsi.
Arafah juga seperti gambaran kecil Padang Mahsyar.
Manusia berkumpul.
Membawa amalnya masing-masing.
Lalu menyadari bahwa pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa dibanggakan selain rahmat Allah.
Harta tidak ikut menyelamatkan.
Kedudukan tidak ikut menenangkan.
Yang paling dibutuhkan manusia ternyata hanyalah ampunan Allah.
Karena itu di Hari Arafah banyak orang memohon husnul khatimah.
Memohon agar kuburnya dilapangkan.
Memohon agar diselamatkan di Padang Mahsyar.
Dan berharap suatu hari bisa berkumpul bersama orang-orang yang dicintai di surga-Nya.
Hari Arafah bukan hanya tentang meminta dunia.
Tetapi tentang memperbaiki hati.
Tentang kembali lembut kepada sesama.
Tentang meminta maaf.
Tentang memaafkan.
Sebab sering kali hati terasa berat bukan karena hidup terlalu sulit, tetapi karena terlalu banyak luka yang disimpan sendiri.
Dan pada akhirnya, Hari Arafah selalu mengajarkan satu hal penting: bahwa sebesar apa pun dosa manusia, rahmat Allah selalu lebih besar.
Karena itu jangan berhenti berdoa.
Jangan berhenti berharap.
Mungkin ada doa yang belum Allah kabulkan karena sedang disiapkan waktu terbaiknya.
Mungkin ada air mata yang selama ini jatuh diam-diam, lalu justru paling didengar oleh Allah.
Dan mungkin, di Hari Arafah itulah, ada satu doa yang akhirnya membuka jalan bagi banyak hal dalam hidup kita. (*)
Hilaludin Safary
Ketua Harian Pimpinan Pusat Forum Santri Nasional (FSN)
Tenaga Ahli Anggota DPR-RI