RADAR BOGOR - Anggota Komisi IX DPR RI Ravindra Airlangga meminta pemerintah (Kemenkes) tidak lengah menghadapi potensi masuknya hantavirus varian andes ke Indonesia.
Terlebih, Indonesia juga telah mencatat kasus hantavirus tipe lain, hantavirus strain Seoul Virus.
“Meski angka reproduksi dasar atau R0 hantavirus jauh lebih rendah dibanding Covid-19, langkah mitigasi yang komprehensif tetap harus dipersiapkan pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan,” ujar Ravindra dalam keterangannya, Selasa 19 Mei 2026.
Ancaman penyebaran hantavirus mulai menjadi perhatian dunia internasional setelah muncul kasus varian Andes di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia, Argentina.
Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan risiko globalnya masih rendah dan belum mengarah pada pandemi baru seperti Covid-19, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.
Ravindra menjelaskan, varian Andes yang ditemukan di MV Hondius merupakan satu-satunya tipe hantavirus yang dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.
Baca Juga: Remaja Kota Depok yang Tenggelam Saat Memancing di Sungai Ciliwung Ditemukan
Varian yang berasal dari Amerika Latin itu menyebabkan cardiopulmonary syndrome dengan tingkat kematian cukup tinggi, mencapai 35-40 persen di wilayah endemik.
Berbeda dengan varian Andes, kasus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe Hantavirus strain Seoul Virus yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui tikus got maupun tikus perkotaan. Penularannya tidak terjadi antarmanusia.
Data Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 terdapat 23 kasus terkonfirmasi Hantavirus strain Seoul Virus di Indonesia. Sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia.
Kasus tersebar di sembilan provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Konsentrasi kasus tertinggi tercatat berada di Jakarta dan Jawa Barat.
Ravindra mendorong pemerintah memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk negara, terutama bandara internasional dan pelabuhan laut.
Menurut dia, skrining kesehatan terhadap penumpang dari negara berisiko tinggi, khususnya kawasan Amerika Selatan, perlu diperkuat.
Hal ini dalam rangka mencegah masuknya Hanta Virus varian andes yang memiliki case fatality rate lebih tinggi dibanding varian Seoul.
Baca Juga: Ditarget Rampung Juni 2026, Begini Kondisi Terbaru Longsor di Jalan Kebon Pedes Kota Bogor
Selain itu, ia meminta adanya kolaborasi lebih erat antara pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki sanitasi lingkungan, pengendalian populasi tikus, hingga pengawasan kesehatan di wilayah rawan seperti kawasan padat penduduk, gudang logistik, pelabuhan, dan daerah pascabanjir.
Hal ini ia sebut dalam rangka mencegah Hanta Virus varian Seoul yang hanya menyebar secara zoonis. Varian yang selama sering ditemukan di eropa dan Asia.
“Ketahanan kesehatan nasional harus menjadi bagian penting dari ketahanan negara. Kita membutuhkan sistem mitigasi yang lebih terintegrasi mulai dari surveilans, laboratorium, kesiapan rumah sakit hingga respons cepat di daerah,” tegasnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin