RADAR BOGOR – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) mengambil langkah besar dalam transformasi energi hijau dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar di sektor industri semen Indonesia.
Proyek energi terbarukan tersebut memiliki total kapasitas mencapai 71,9 MW yang tersebar di tiga kompleks pabrik utama Indocement, yakni Citeureup, Cirebon, dan Tarjun.
Langkah strategis ini sekaligus menegaskan posisi Indocement sebagai salah satu pelopor dekarbonisasi industri berat di Indonesia, sekaligus menjadi bukti bahwa transisi energi kini telah masuk ke skala operasional industri besar.
Tak hanya sekadar proyek energi, pembangunan PLTS tersebut juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menekan jejak karbon operasional secara menyeluruh.
Indocement menjalankan berbagai upaya transformasi, mulai dari pemanfaatan bahan bakar alternatif seperti refuse-derived fuel (RDF), penggunaan bahan baku alternatif untuk menekan emisi proses produksi, pengembangan roadmap energi rendah karbon, hingga inovasi produk semen ramah lingkungan.
Sebagai bagian dari grup global Heidelberg Materials, Indocement juga menerapkan standar keberlanjutan internasional dalam operasional industrinya di Indonesia.
Baca Juga: 5 Makanan Underrated di AEON Sentul Bogor yang Wajib Dicoba!
Direktur Indocement, Holger Mørch, mengatakan industri semen saat ini dituntut melakukan transformasi menuju operasional yang lebih ramah lingkungan.
“Industri semen tidak memiliki banyak pilihan selain bertransformasi. Indocement memilih menjadi pihak yang memimpin perubahan tersebut. Pembangunan PLTS terbesar di sektor ini membuktikan bahwa dekarbonisasi dapat dilakukan secara nyata, terukur, dan tetap terintegrasi dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, Indocement bekerja sama dengan SUN Energy sebagai mitra strategis penyedia solusi energi terbarukan.
Melalui pendekatan sustainability-as-a-service, SUN Energy menghadirkan sistem energi yang dirancang mendukung kebutuhan industri berat dengan tetap menjaga efisiensi biaya dan ketahanan energi jangka panjang.
Director of Power SUN Energy, Jefferson Kuesar, menegaskan pihaknya tidak hanya berperan sebagai penyedia PLTS, tetapi juga sebagai mitra transformasi energi industri.
“Kami memastikan solusi energi yang dihadirkan tetap adaptif terhadap kebutuhan operasional industri, andal untuk jangka panjang, dan relevan secara bisnis. Kolaborasi ini membuktikan bahwa transisi energi dapat berjalan tanpa mengganggu produktivitas, bahkan mampu meningkatkan daya saing industri,” katanya.
Proyek PLTS tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan lebih dari 108 juta kWh energi bersih setiap tahun.
Selain itu, instalasi ini juga diperkirakan dapat menekan emisi karbon lebih dari 85 ribu ton CO2 per tahun atau setara dengan dampak lingkungan dari penanaman sekitar 1,4 juta pohon setiap tahunnya.
Langkah Indocement ini juga dinilai menjadi kontribusi nyata terhadap target pemerintah Indonesia dalam mencapai net zero emission tahun 2060 serta mempercepat peningkatan bauran energi terbarukan nasional.
Di tengah tekanan global terhadap industri semen yang dikenal sebagai sektor hard-to-abate atau industri dengan emisi tinggi yang sulit ditekan, transformasi yang dilakukan Indocement menunjukkan bahwa dekarbonisasi tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan efisiensi maupun daya saing perusahaan.
Kolaborasi antara Indocement dan SUN Energy pun menjadi sinyal kuat bahwa keberlanjutan kini bukan lagi sekadar program tambahan, melainkan telah menjadi strategi utama dalam operasional industri modern di Indonesia. (***)
Editor : Yosep Awaludin