RADAR BOGOR - Ketika seorang jemaah haji ditanya apakah yang membekas saat anda berhaji, jawabannya akan sangat beragam karena memang haji adalah perjalanan panjang spritual yang langsung dengan Allah, berbeda dengan ibadah lainnya.
Mengapa langsung, karena ada beberapa kegiatan yang allah langsung terima permohonannya tanpa sekat atau hijab.
Yang menjadi pertanyaan, apakah kemudian semua allah jawab atau allah terima ketika para jemaah yang berhaji tidak mampu menyelami semua proses kegiatan yang ada dalam haji atau saat berhaji.
Banyak diantara jemaah yang kemudian hanya menjalankan ritual begitu-begitu saja, ada yang khusus ngambil afdolnya saja tanpa memikirkan aspek lainnya, ada yang mematok bahwa amalan berhajinya yang sesuai syariat, ada yang kemudian mencari keuntungan semata.
Semua ada, saya jawab ada lantas mengapa ada, padahal Allah yang memanggil mereka untuk datang, yang artinya mereka para jemaah ini menjadi orang yang sangat teristimewa yang diundang langsung oleh sang khalik disaat jutaan orang menunggu untuk datang ke Baitullah.
Saya mengambil perumpamaan seperti orang yang akan hajat, si punya hajat menyebarkan undangan untuk datang, apakah semuanya bisa datang, tentu saja tidak.
Bagi yang datang tentu banyak juga niatannya, karena rasa cinta, karena memenuhi undangan itu wajib, atau memang ada ikatan lainnya dan tentu saja cara mereka datang juga berbeda-beda menghargai yang punya hajat, ada yang memberi hadiah besar, ada yang hanya mau makan saja, atau bahkan memberikan hadiah kosong atau hanya ucapan saja.
Semuanya nampak atau terlihat tentu bisa terlihat tapi apakah semua orang kemudian bisa melihat hadiah dari orang-orang yang hadir tentu tidak pastinya hanya si punya hajat yang tahu.
Pun demikian dengan Haji, allah khusus undang yang terpilih tapi apakah kemudian para undangan ini memanfaatkan hal-hal yang allah berikan khusus dalam setiap kegiatannya. Bisa iya bisa tidak.
Berkaitan dengan panggilan ini, tersirat dalam Surat Al-Hajj Ayat 27:
"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh."
Tentunya jika sudah terpanggil untuk berhaji ada banyak hal yang mestinya menjadi renungan setiap jemaah, waktu yang panjang untuk jemaah haji Indonesia sekitar 40 hari harusnya menjadi media peningkatan kualitas ibadah, tapi yang terpenting adalah rangkaian pada puncak haji yaitu di Arafah, Muzdalifah dan Mina.
Mengapa demikian, karena di tiga tempat itulah proses manusia yang hadir benar-benar digodok oleh Allah SWT melalui apa, melalui banyak hal karena Arofah jadi miniatur atau sebuah diafragma hari akhir atau berkumpulnya manusia dipadang masyar.
Oleh karenanya, jantungnya berhaji adalah wukuf di Arofah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa haji adalah arafah.
Mengapa penegasan ini langsung dilakukan karena disinilah puncak kenikmatan ibadah, segala macam ujian ada disana spiritual seseorang diuji disana kesabaran ada disana, keikhlasan ada disana, kerelaan berbagi ada disana bahkan keimanan seseorang ada disana, mulai dari datang hingga keluar Arafah semuanya mengandung ujian.
Contoh kecilnya ketika ada jemaah tak mendapatkan kasur, maka ujian jemaah disitu diuji apakah bersabar ketika belum mendapatkan tempat atau rela tidak berbagi tempat untuk jemaah lainnya, justru disinilah banyak yang kemudian belum bisa melepaskan ego, jabatan, dan pengaruh padahal seharusnya sudah selesai ketika niat Labaik allahumma Hajjan wa Ahromtu Bihi, karena ikrarnya langsung dengan Allah SWT, secara otomatis langsung dipantau Allah dalam setiap pergerakan di Arofah mulai dari siang hari hingga menjelang magrib.
Dan Arafah juga simbol kerelaan nabi Adam menjalani kehidupan yang sepi dimana dirinya terpisah dengan orang yang dicintai, karena ketakwaan akhirnya allah mempertemukan kembali mereka berdua di padang arafah tepatnya di jabal rahmah.
Oleh karenanya, Momen wukuf mengajarkan kesederajatan di mana seluruh jemaah melebur menjadi satu, memakai pakaian ihram yang sama (putih), tanpa memandang status sosial, ras, maupun asal negara.
Tak hanya itu, dua rangkaian haji lainnya yaitu Mabit di Muzdalifah juga tak kalah penting, banyak jemaah juga terjebak pada ketidaksabaran dengan jemaah lainnya ketika hendak keluar dari muzdalipah.
Padahal, ujian besarnya sudah dilewati di arafah bahkan sudah berjanji langsung dengan sang khalik untuk kembali bersih dan menjadi hamba yang hanif. Mabit hanya sebentar, justru ujian kedua inilah ada banyak hikmah salah satunya kembali merenungi sejenak arti menjadi manusia, sudahkah kita kembali menjadi manusia yang rela, rela untuk mengalah.
Terakhir, ujian yang tidak kalah pentingnya adalah di mina, ujian terbesar bukan pada saat melontar jumroh, tapi bagaimana mereka hati untuk bersabar atas kondisi yang terjadi atau yang dialami ketika berada di Tenda Mina.
Saat tak mendapatkan tempat tidur, tidak kebagian kasur, antre lama di kamar mandi, terlambat kebagian makan, atau bahkan jemaah tak lagi menjadi hamba yang berpilaku bersih dengan membuang sampah sembarangan atau bahkan tak mau berbagi dengan sesama teman jemaahnya, belum lagi ada sumpah serapah atau kalimat tak pantas yang keluar dari jemaah, bersitegang dengan petugas atau dengan sesama jemaah.
Maka ujian apalagi yang sesungguhnya yang tidak dilewati setiap jemaah, justru perjalanan spiritual itu tak melulu soal pembalasan akan dosa atau kesalahan ketika ada di tanah air.
Justru perjalanan spritual itu ada pada hal-hal kecil yang membuat jemaah tersadar bahwa sesungguhnya haji adalah latihan kesabaran dan kerelaaan atau merelakan ke'aku'an sebagai manusia yang sejatinya sama di mata Allah.
Maka untuk memaknai rangkaian haji yang sudah dilewati secara bersama ini, sejatinya kita memaknai Surat Al-Baqarah Ayat 197:
"(Musim) haji adalah bulan-bulan yang telah maklum. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..."
Tulisan ini hanya sekedar ifda bi nafsi, sudah berhaji kah kita?, sudah merelakan kah kita?, sudah membuang sifat-sifat hewani kita kah?sudah mengubur ego kita kah? Atau justru 40 hari ini hanya menjadi simbol untuk mempertinggi rasa ke'aku'an itu.
Jika kita kembali menelaah soal kerelaan, kesabaran dan keimanan maka Haji adalah potret cosmotik 3 nabi, nabi Adam dan siti hawa bagaimana terpisahkan dari surga mereka rela menjalani kehidupan yang sepi, dan nabi Ibrahim harus merelakan meninggalkan isteri yang dicintainya dan harus menyembelih anak yang sangat dicintainya, dan nabi Muhammad harus merelakan terusir dari tanah kelahirannya oleh kaumnya tersendiri.
Di penghujung kepulangan haji ini, saya hanya bisa berdoa semoga Kita semua yang sudah Allah berikan kesempatan tahun 2026 untuk berhaji semoga kita bisa memaknai haji dengan sebaik-baiknya makna, dan semoga bisa kembali ke tengah-tengah masyarakat dengan amalan yang sama dengan yang dilakukan di Tanah suci.
Pada akhirnya, kita hanya bermohon kepada Allah semoga selalu menjaga amalan kita semua dan kita terus ditunjuki jalan yang lurus. Aamiin ya rabbal alaamiin. (*)
H. Ade Irawan, MM (Pengurus PCNU Kabupaten Bogor)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim