RADAR BOGOR - Setiap hari jutaan pelajar Indonesia melihat Garuda Pancasila terpajang di ruang kelas.
Lambang negara yang berdiri gagah dengan perisai di dada dan pita bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" itu seolah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bangsa.
Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa desain Garuda Pancasila yang digunakan saat ini merupakan hasil perjalanan panjang yang melibatkan sejumlah tokoh penting nasional, mulai dari Sultan Hamid II, Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) Soekarno, hingga Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta.
Kisah tersebut tercatat dalam buku Kisah Pancasila yang disusun Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Setelah Menang Sayembara, Sultan Hamid II Diminta Menyempurnakan Desain Garuda
Sejarah mencatat, Sultan Hamid II berhasil memenangkan sayembara perancangan lambang negara yang diselenggarakan pemerintah Republik Indonesia Serikat pada awal tahun 1950.
Namun, kemenangan tersebut bukanlah akhir dari proses.
Setelah ditetapkan sebagai pemenang, Sultan Hamid II melakukan serangkaian pembahasan bersama Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta untuk menyempurnakan desain yang telah dibuat.
Dalam proses tersebut, sejumlah perubahan penting dilakukan.
Lima simbol yang merepresentasikan sila-sila Pancasila dimasukkan ke dalam perisai di dada Garuda.
Selain itu, ditambahkan pula pita bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" yang menjadi semboyan resmi bangsa Indonesia.
Pada rancangan awal hasil penyempurnaan tersebut, Garuda masih digambarkan memiliki sepasang tangan yang memegang erat perisai Pancasila.
Diperkenalkan Soekarno pada 15 Februari 1950, Tetapi Belum Dianggap Sempurna
Perjalanan desain Garuda Pancasila ternyata masih berlanjut.
Setelah menerima berbagai masukan, Sultan Hamid II kembali melakukan revisi terhadap rancangan yang telah dibuat.
Salah satu perubahan penting adalah menghilangkan gambar tangan Garuda serta menyempurnakan bentuk kepala burung tersebut agar terlihat lebih proporsional.
Desain hasil revisi itu kemudian diperkenalkan kepada publik oleh Presiden RIS Soekarno pada 15 Februari 1950 dalam sebuah acara yang digelar di Hotel Des Indes, Jakarta.
Momen tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah lahirnya lambang negara Indonesia. Untuk pertama kalinya, masyarakat dapat melihat bentuk Garuda yang diproyeksikan menjadi simbol resmi negara.
Mengapa Garuda Harus Direvisi Lagi? Ternyata Karena Mirip Lambang Amerika Serikat
Meski telah diperkenalkan kepada masyarakat, desain tersebut masih menuai sejumlah catatan.
Saat itu muncul pandangan bahwa bentuk kepala Garuda masih terlalu menyerupai burung elang botak yang menjadi lambang nasional Amerika Serikat.
Karakter khas Garuda yang selama ini dikenal dalam berbagai kisah dan tradisi Nusantara dinilai belum tergambar secara kuat.
Masukan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan menambahkan jambul pada bagian depan dan belakang kepala Garuda.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat identitas visual Garuda sebagai makhluk mitologis yang memiliki akar budaya Nusantara.
Perubahan tersebut menjadi salah satu penyempurnaan paling penting dalam sejarah desain lambang negara.
Peran Pelukis Istana Dullah dalam Membentuk Garuda Pancasila Modern
Selain Sultan Hamid II dan Soekarno, terdapat satu nama lain yang memiliki kontribusi besar dalam penyempurnaan Garuda Pancasila, yaitu Dullah, pelukis Istana Kepresidenan.
Menurut catatan sejarah, Soekarno meminta Dullah untuk menggambar ulang desain Garuda dengan sejumlah penyesuaian visual.
Baca Juga: 12 Tempat Wisata Paling Hits di Bogor 2026, Nomor 9 Bikin Serasa Liburan ke Jepang
Salah satunya adalah mengubah posisi cakar Garuda.
Jika pada rancangan sebelumnya cakar tampak mencengkeram pita dari bagian belakang, dalam desain baru posisi cakar dibuat terlihat dari bagian depan pita.
Perubahan ini menghasilkan tampilan yang lebih tegas dan estetis.
Penyempurnaan tersebut menjadi bagian dari proses akhir sebelum lambang negara ditetapkan secara resmi.
Versi Terakhir yang Bertahan Hingga Kini
Setelah berbagai revisi dilakukan, Sultan Hamid II kembali melakukan penyelarasan akhir terhadap desain Garuda Pancasila.
Tahap ini meliputi penyempurnaan komposisi warna, ukuran, serta proporsi keseluruhan lambang.
Hasil akhir dari proses panjang tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk patung perunggu berlapis emas yang ditempatkan di Ruang Kemerdekaan Museum Nasional.
Desain itulah yang kemudian dijadikan acuan resmi lambang negara Republik Indonesia dan digunakan hingga sekarang.
Lebih dari tujuh dekade berlalu, Garuda Pancasila tetap menjadi simbol persatuan, identitas nasional, dan semangat kebangsaan yang diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Dari Ruang Kelas hingga Istana Negara, Garuda Menjadi Simbol Persatuan Indonesia
Bagi sebagian masyarakat, Garuda Pancasila mungkin hanya dianggap sebagai lambang yang tergantung di dinding sekolah atau kantor pemerintahan.
Namun di balik setiap detailnya tersimpan kisah panjang tentang diskusi, perdebatan, revisi, hingga semangat para pendiri bangsa dalam merumuskan simbol yang mampu mewakili Indonesia.
Melalui tangan Sultan Hamid II, arahan Soekarno, masukan Mohammad Hatta, dan sentuhan artistik Dullah, lahirlah Garuda Pancasila yang kini dikenal sebagai lambang resmi negara.
Sebuah simbol yang tidak hanya menggambarkan kekuatan dan keberanian, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang menjadi fondasi kehidupan bangsa Indonesia. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti