RADAR BOGOR – Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu program strategis Presiden Prabowo Subianto.
Menjelang satu tahun penyelenggaraan proses pembelajaran pada Juli mendatang, Kemensos mencatat sejumlah perkembangan positif, baik dari sisi peserta didik maupun pembangunan sarana pendidikan.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, mengatakan berbagai capaian tersebut telah dilaporkan kepada Presiden sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang diamanatkan kepada Kemensos.
Menurutnya, perkembangan peserta didik di Sekolah Rakyat menunjukkan hasil yang menggembirakan. Selain peningkatan kemampuan akademik, perubahan juga terlihat pada aspek karakter dan kedisiplinan siswa.
Baca Juga: Apresiasi Petugas MBG di Pelosok, Prabowo: Terima Kasih atas Kesetiaan Kalian
"Kami berusaha terus untuk konsolidasi ke dalam dengan seluruh sumber daya yang dimiliki, baik itu sumber daya manusia, anggaran bersama Kementerian PU untuk bisa menghadirkan gedung permanen sekolah rakyat yang akan menampung lebih dari 1.000 siswa," ujar Gus Ipul Rabu, 3 Juni 2026.
Saat ini, sebanyak 93 titik gedung permanen telah memasuki tahap pembangunan. Sementara itu, tujuh titik lainnya masih dalam proses lelang dan empat titik berada pada tahap persiapan.
"Diharapkan di tahun ini bisa selesai, mudah-mudahan ya ada 104 titik, dan di akhir tahun nanti akan dimulai pembangunan yang diharapkan selesai pada tahun 2027," katanya usai open house di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Cibinong, Kabupaten Bogor.
Ia menargetkan pada 2027 sebanyak 200 gedung permanen Sekolah Rakyat sudah dapat beroperasi dan melayani peserta didik dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain pembangunan fisik, Kemensos juga terus melakukan penjangkauan calon siswa melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Penjangkauan dilakukan kepada anak-anak usia sekolah yang berpotensi putus sekolah, belum pernah bersekolah, maupun yang ditemukan masih beraktivitas di jalanan saat jam belajar berlangsung.
Gus Ipul mengungkapkan, pihaknya menemukan lebih dari 400 anak di jalan yang kemudian didatangi ke rumah masing-masing untuk diberikan pemahaman dan diajak bergabung ke Sekolah Rakyat.
"Beberapa di antaranya mereka sudah putus sekolah, belum pernah sekolah, dan berpotensi untuk putus sekolah, itulah kira-kira penjangkauan kami," ungkapnya.
Berdasarkan perhitungan Kemensos, Sekolah Rakyat akan mampu menampung sekitar 32 ribu siswa baru pada tahun ini. Jika digabungkan dengan sekitar 15 ribu siswa yang telah mengikuti pembelajaran pada tahun sebelumnya, jumlah peserta didik yang belajar di Sekolah Rakyat pada tahun ajaran ini diperkirakan mencapai lebih dari 47 ribu siswa.
"Dalam penjangkauan yang dilakukan tim Kemensos bersama pemerintah daerah, sudah ada lebih dari 42 ribu siswa yang terjangkau," tuturnya.
Ia menambahkan, untuk jenjang SMP dan SMA, jumlah pendaftar bahkan telah melampaui kapasitas yang tersedia. Namun, pada jenjang SD masih terdapat sekitar 3 ribu kursi yang belum terisi dan masih membutuhkan tambahan peserta didik.
Kemensos optimistis program Sekolah Rakyat akan terus berkembang sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan kelompok rentan di berbagai wilayah Indonesia. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati