RADAR BOGOR – Kementerian Sosial (Kemensos) mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan program Sekolah Rakyat, salah satu kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas asrama.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, mengatakan kebutuhan guru, hingga sarana pendukung masih belum sepenuhnya terpenuhi, terlebih menjelang pengembangan Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
"Apalagi nanti ada transisi dari sekolah rintisan yang di 166 titik itu, sementara gedungnya baru mencapai sekitar 100 gedung kemarin. Jadi ini adalah tantangan kita yang cukup serius," ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu, 3 Juni 2026.
Meski demikian, Kemensos terus melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di lingkungan Sekolah Rakyat. Salah satunya melalui proses rekrutmen tenaga pendidik yang dilakukan secara selektif bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
Baca Juga: Mitra MBG Minta Kepala BGN yang Baru Dorong Program Makan Bergizi Gratis Jadi Undang-Undang
Gus Ipul menjelaskan, calon guru yang ingin mengajar di Sekolah Rakyat harus melalui tahapan seleksi yang melibatkan Badan Kepegawaian Negara (BKN), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), serta instansi terkait lainnya.
"Syaratnya mereka sudah PPG, sudah mengikuti proses pendidikan guru, setelah itu ada proses yang sangat ketat, diterima dan kemudian ditempatkan," ucapnya.
Ia mengungkapkan, dalam pelaksanaannya terdapat sebagian kecil peserta sekitar lima persen yang telah lolos seleksi memilih mengundurkan diri. Faktor domisili dan kesiapan pribadi menjadi beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
"Semua guru dan tenaga pendidikan, kecuali kepala sekolah, itu adalah PPPK," pungkasnya.(Cr1)
Editor : Eka Rahmawati