RADAR BOGOR - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tidak selalu mengharuskan pembangunan dapur baru.
Sebaliknya, pemerintah akan mengoptimalkan fasilitas yang sudah tersedia di wilayah setempat untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang menjelaskan, pendekatan tersebut dipilih agar pelaksanaan program lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan, terutama di daerah yang jumlah penerima manfaatnya relatif sedikit.
Jumlah Penerima Manfaat Sedikit, Dapur Eksisting Jadi Solusi
Dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026), Nanik mengatakan pembangunan dapur baru tidak selalu menjadi pilihan utama, khususnya di wilayah 3T yang memiliki jumlah sasaran terbatas.
Baca Juga: Tekan Angka Putus Sekolah, PKBM Kabupaten Bogor Buka Pendaftaran Serentak Tahun Ajaran 2026/2027
Menurutnya, terdapat sejumlah daerah yang hanya memiliki puluhan hingga ratusan penerima manfaat, sehingga pembangunan fasilitas baru dinilai kurang efisien.
“Di wilayah 3T ada daerah yang jumlah penerima manfaatnya sekitar 200 orang, bahkan ada yang hanya 81 orang dan 47 orang. Dalam kondisi seperti itu, membangun dapur baru tentu tidak menjadi pilihan yang efektif,” ujar Nanik kepada wartawan.
Ia menegaskan, prinsip utama yang diterapkan BGN adalah memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia agar program tetap berjalan optimal tanpa menambah beban pembangunan infrastruktur yang tidak diperlukan.
Kantin Sekolah dan Dapur Komunitas Bisa Digunakan
Nanik menjelaskan bahwa berbagai fasilitas yang telah beroperasi di masyarakat berpotensi dimanfaatkan sebagai pusat pengolahan makanan untuk program MBG. Salah satu fasilitas yang menjadi opsi adalah kantin sekolah.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang penggunaan dapur umum maupun fasilitas memasak lain yang sudah ada di daerah setempat.
“Yang terpenting bukan membangun dapur baru, melainkan memastikan ada fasilitas yang layak dan dapat digunakan untuk menyiapkan makanan bergizi bagi para penerima manfaat,” katanya.
Fokus pada Efektivitas dan Jangkauan Program
Kebijakan pemanfaatan dapur yang sudah tersedia dinilai dapat mempercepat implementasi program MBG di berbagai wilayah, terutama daerah dengan akses terbatas dan jumlah sasaran yang tidak terlalu besar.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap distribusi makanan bergizi dapat menjangkau masyarakat lebih cepat tanpa harus menunggu pembangunan fasilitas baru yang membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya BGN, untuk memastikan program berjalan fleksibel sesuai kebutuhan masing-masing daerah, termasuk wilayah 3T yang memiliki karakteristik geografis dan jumlah penerima manfaat yang berbeda-beda. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim