Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

3B Masuk Prioritas Utama MBG, Apa Itu? BGN Ngaku Sering Diskusi dengan Pakar

Lucky Lukman Nul Hakim • Jumat, 5 Juni 2026 | 02:36 WIB
Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang jelaskan kategori 3B jadi prioritas dapat MBG.
Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang jelaskan kategori 3B jadi prioritas dapat MBG.

RADAR BOGOR - Badan Gizi Nasional (BGN) semakin memusatkan perhatian pada kelompok yang dinilai paling membutuhkan intervensi gizi. 

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026), Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang menegaskan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini diprioritaskan untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) serta kelompok yang masuk kategori 3B, yakni Bu hamil, Bu menyusui, dan Balita.

Menurut Nanik, kebijakan tersebut diambil setelah BGN melakukan serangkaian diskusi bersama para pakar kesehatan dan gizi guna memastikan program berjalan tepat sasaran.

Hasil Kajian Pakar Ungkap Masa Emas Tumbuh Kembang Anak

Nanik menjelaskan, berbagai masukan dari profesor, dokter anak, dan ahli gizi menunjukkan bahwa periode paling penting untuk intervensi gizi berada sejak awal masa kehamilan hingga anak berusia sekitar 9 tahun atau setara jenjang sekolah dasar.

Baca Juga: BPN Kabupaten Bogor I Klaim Tuntutan Petani Cijeruk dan Cigombong Sudah Disampaikan ke Kementerian

“Berdasarkan hasil diskusi dengan para pakar, intervensi gizi yang paling efektif dilakukan sejak bulan pertama kehamilan hingga anak berusia sekitar sembilan tahun. Karena itu, kami berupaya mengejar target pada kelompok usia tersebut,” papar Nanik kepada wartawan.

Ia menilai pemenuhan kebutuhan gizi pada fase tersebut menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

SPPG Wajib Layani 3B

Untuk memastikan kebijakan berjalan optimal, BGN menerapkan aturan yang mewajibkan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melayani kelompok 3B. 

Nanik mengungkapkan, pihaknya tidak segan memberikan sanksi kepada SPPG yang tidak memenuhi ketentuan tersebut.

BGN sebelumnya telah mengingatkan seluruh penyelenggara program agar memberikan porsi layanan yang memadai bagi 3B sebagai kelompok prioritas penerima manfaat MBG.

Langkah itu, kata dia, dilakukan agar manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tetapi juga kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan gizi harian.

Dua Pekan, Penerima Manfaat Kelompok 3B Tembus 22 Juta Orang

Kebijakan yang dijalankan BGN mulai menunjukkan hasil positif. Dalam dua pekan terakhir, jumlah penerima manfaat dari kelompok 3B yang memperoleh layanan MBG telah mencapai sekitar 22 juta orang.

Capaian tersebut dinilai menjadi indikator bahwa penguatan fokus program pada kelompok prioritas mampu memperluas jangkauan layanan gizi nasional secara signifikan.

Baca Juga: Melalui Rembuk Stunting, Desa Cileungsi Kidul Bogor Perkuat Sinergi Pencegahan hingga Tingkat Akar Rumput

“Alhamdulillah, hasilnya cukup baik. Dalam 2 minggu terakhir, jumlah penerima manfaat dari kelompok 3B sudah mencapai sekitar 22 juta orang,” kata Nanik.

Fokus Anggaran untuk Percepat Perbaikan Gizi Nasional

Lebih lanjut, Nanik menegaskan, penguatan sasaran penerima manfaat juga bertujuan memastikan penggunaan anggaran berjalan lebih efektif dan berdampak langsung terhadap perbaikan status gizi masyarakat.

Dengan memprioritaskan wilayah 3T serta kelompok 3B, BGN berharap, target peningkatan kualitas gizi nasional dapat tercapai lebih cepat sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #gizi #Mbg #Nanik Sudaryati Deyang #BGN