RADAR BOGOR - Upaya menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak usia sekolah digencarkan oleh Star Energy Geothermal Salak Ltd. (SEGS).
Salah satunya melalui kegiatan edukasi interaktif yang digelar Star Energy Geothermal Salak di SDN Pasirwalang, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Sukabumi, dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Suasana ruang kelas SDN Pasirwalang mendadak hidup ketika para siswa disuguhi tayangan gambar Elang Jawa.
Antusiasme langsung terlihat, banyak pelajar berlomba menjawab identitas satwa tersebut, bahkan sebagian lainnya penasaran apakah spesies itu masih dapat dijumpai di kawasan hutan Gunung Salak.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Eco Kids Festival yang diselenggarakan SEGS pada Rabu, 3 Juni 2026, sebagai bentuk edukasi lingkungan berbasis pengalaman langsung untuk anak-anak sekolah dasar.
Dalam sesi pengenalan fauna, tim SEGS memperkenalkan tiga satwa penting yang menjadi penanda kesehatan ekosistem Gunung Salak, yakni Elang Jawa, Owa Jawa, dan Macan Tutul Jawa.
Ketiga hewan ini dikenal sebagai spesies kunci yang keberadaannya mencerminkan kondisi hutan yang masih terjaga.
Perwakilan SEGS, Safety Health & Environmental Engineer Shefira Herlindya Putri, mengatakan para siswa menunjukkan ketertarikan tinggi selama sesi berlangsung.
Banyak di antara mereka aktif bertanya mengenai keberadaan satwa tersebut serta cara menjaga kelestariannya agar tidak punah.
Menurutnya, Elang Jawa merupakan predator puncak yang hanya ditemukan di Pulau Jawa dan menjadi indikator penting keseimbangan ekosistem hutan.
Sementara itu, Owa Jawa memiliki peran dalam penyebaran biji tanaman yang membantu proses regenerasi hutan secara alami, sedangkan Macan Tutul Jawa berfungsi menjaga stabilitas populasi satwa lain di habitatnya.
Tidak hanya fauna, para siswa juga diperkenalkan pada berbagai jenis flora khas kawasan Gunung Salak seperti puspa, rasamala, saninten, pasang, kayu manis, huru, hingga berbagai jenis pakis.
Melalui permainan edukatif dan kuis interaktif, anak-anak diajak memahami bahwa tumbuhan memiliki peran vital dalam menjaga sumber air, kesuburan tanah, serta menjadi habitat bagi satwa liar.
Kegiatan juga diisi dengan edukasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Materi disampaikan dengan pendekatan sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seperti larangan membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sampah di area kering, serta pentingnya segera melaporkan potensi kebakaran sejak dini.
Shefira menegaskan bahwa pelestarian hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau perusahaan, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Baca Juga: Bantuan PIP Jenjang SMP Termin 2 Terpantau Cair Awal Juni 2026, Buruan Cek Nama Penerima Lewat HP
Ia menilai kesadaran tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan generasi muda.
“Menjaga kelestarian hutan adalah tugas bersama. Kepedulian terhadap lingkungan sebaiknya sudah dibentuk sejak anak-anak agar tumbuh menjadi kebiasaan di masa depan,” ujar Shefira dengan makna yang disampaikan kembali secara berbeda.
Usai sesi pembelajaran di kelas, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon kuncup merah di lingkungan sekolah.
Para siswa bersama guru dan tim SEGS turut serta menanam pohon sambil mendapatkan penjelasan langsung tentang manfaat pohon bagi kehidupan manusia dan lingkungan.
Kepala SDN Pasirwalang, Eti Mulyati, memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut karena dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan mudah dipahami siswa.
“Anak-anak mendapatkan pengalaman baru yang dekat dengan lingkungan mereka. Pembelajaran seperti ini membuat mereka lebih cepat memahami materi karena langsung dipraktikkan,” ungkapnya
Ia berharap generasi muda yang tinggal di sekitar Gunung Salak semakin peduli terhadap kelestarian alam dan keanekaragaman hayati yang ada di wilayah mereka.(***)
Editor : Yosep Awaludin