RADAR BOGOR – Menjelang peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026, Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta dari Jepang kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan.
Belantara Foundation melakukan aksi penanaman pohon di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Riau, Kamis, 11 Juni 2026, mencegah kekeringan.
Kegiatan yang berlangsung bekerja sama dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan mitra Tahura SSH itu menjadi bagian dari upaya pemulihan kawasan hutan yang mengalami degradasi, oleh Belantara Foundation.
Baca Juga: Kemarau Mulai Menggigit, 2 Desa di Kabupaten Bogor Alami Krisis Air Bersih
Salah satu bibit yang ditanam adalah balangeran (Shorea balangeran), jenis pohon langka yang perlu dilestarikan.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, mengatakan restorasi ekosistem menjadi isu global yang semakin mendesak. Menurutnya, dunia saat ini tengah berupaya memulihkan sekitar 1,5 miliar hektare lahan terdegradasi pada 2030 melalui berbagai program restorasi.
“Restorasi ekosistem merupakan langkah strategis untuk mengurangi dampak perubahan iklim, menjaga ketahanan pangan, meningkatkan ketersediaan air, serta melindungi keanekaragaman hayati,” ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026.
Baca Juga: Kabar Baik! Jalan MA Salmun Kota Bogor Tak Jadi Ditutup, Fly Over Mulai Dibangun 2027
Ia menjelaskan, peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang jatuh setiap 17 Juni menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan sektor swasta dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan mengusung tema global “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” atau “Padang Rumput: Kenali. Hormati. Pulihkan”, kegiatan tersebut diharapkan mampu memperluas kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung pemulihan lahan dan hutan yang rusak.
Dolly menambahkan, aksi penanaman pohon ini merupakan bagian dari program Forest Restoration Project: SDGs Together! yang telah berjalan sejak 2020.
Baca Juga: Kementerian HAM Butuh 200 Orang, Ini 13 Persyaratan Rekrutmen Penggerak HAM Tahun 2026
Program tersebut berfokus pada pemulihan hutan terdegradasi sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Program ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi ekologis hutan, memperbaiki tata air, mengurangi risiko bencana lingkungan, serta meningkatkan kualitas udara dan habitat satwa liar,” jelasnya.
Selain aspek lingkungan, program tersebut juga dirancang untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar secara berkelanjutan melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Baca Juga: 300 Lebih Reklame Diawasi, Pemkot Depok Siap Tertibkan yang Tak Berizin
Sementara itu, Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian, menyatakan pihaknya akan terus mengajak berbagai pihak di Jepang untuk terlibat dalam program restorasi hutan di Indonesia.
“Kami berharap semakin banyak pemangku kepentingan internasional yang mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together! sehingga dampaknya dapat semakin luas,” katanya.
Di sisi lain, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, mengungkapkan bahwa kawasan Tahura Sultan Syarif Hasyim yang memiliki luas lebih dari 6.000 hektare saat ini menghadapi tantangan berupa deforestasi dan degradasi akibat aktivitas ilegal seperti perambahan dan pembalakan liar.
Baca Juga: Bawa Sajam dan Diduga Tunggu Lawan, 20 Pelajar Ditangkap Satgas di Jalan Baru Bogor
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, organisasi lingkungan, masyarakat, dan sektor swasta dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan fungsi kawasan konservasi tersebut.
“Pemulihan kawasan hutan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kerja sama dari berbagai pihak agar restorasi berjalan optimal dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga