Oleh: Ayu Nabila
RADAR BOGOR - Sistem MaP karya Prof. Achmad Firdaus menawarkan cara baru menilai kinerja organisasi kesehatan — bukan dari laba semata, melainkan dari sejauh mana ia menghadirkan kemaslahatan nyata.
Bayangkan sebuah rumah sakit yang di dindingnya tergantung kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an, perawatnya berhijab rapi, dan setiap waktu sholat bergema dari pengeras suara. Dari luar, semua tampak Islami. Namun di balik pintu-pintu ruang pasien, pertanyaan yang lebih dalam menunggu untuk dijawab: apakah nilai-nilai itu benar-benar mengalir dalam setiap keputusan klinis, setiap transaksi keuangan, setiap perlakuan terhadap pasien yang datang dengan kantong tipis namun penuh harapan?
Di banyak rumah sakit, kinerja masih diukur dari angka: tingkat hunian tempat tidur, waktu tunggu pasien, efisiensi biaya operasional. Angka-angka itu penting dan tidak boleh diabaikan. Namun ia hanya mencerminkan permukaan dari sebuah organisasi yang sejatinya bertugas merawat kehidupan manusia — makhluk yang tidak sekadar fisik, tetapi juga memiliki jiwa, akal, dan keturunan yang perlu dijaga.
Ketika Label “Islam” Belum Cukup
Inilah tantangan nyata yang dihadapi Rumah Sakit Islam (RSI) di Indonesia. Bagaimana membuktikan bahwa identitas syariah bukan sekadar label pada kop surat, melainkan benar-benar menjadi jiwa yang menghidupkan seluruh sistem kerja?
Prof. Achmad Firdaus, dalam bukunya Maslahah Performa (MaP) (Deepublish, 2014), hadir dengan tawaran yang menantang sekaligus menginspirasi. Ia merancang sistem manajemen berbasis maqashid al-syariah — tujuan-tujuan universal syariat Islam — yang mengukur performa organisasi dari sejauh mana ia menghadirkan kemaslahatan dan menjauhkan mafsadah bagi seluruh pemangku kepentingannya.
“Organisasi yang berkemaslahatan adalah organisasi yang berani jujur: performa terbaik bukan yang tertinggi di atas kertas, melainkan yang paling bermanfaat di hadapan Allah dan sesama manusia.”
Lima Tujuan, Enam Orientasi
MaP bekerja dengan menerjemahkan lima tujuan pokok syariat Islam — menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan — ke dalam enam orientasi kinerja yang operasional: ibadah, proses internal, pembelajaran, bakat (SDM), pelanggan, dan harta. Keenam orientasi ini bukan sekadar kata-kata indah. Masing-masing membawa pertanyaan-pertanyaan tajam yang jarang diajukan dalam evaluasi kinerja konvensional.
Ambil contoh soal kepuasan pasien. Dalam sistem konvensional, angka 85% di survei kepuasan sudah dianggap prestasi yang membanggakan. Namun MaP mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: apakah pasien miskin mendapat layanan yang setara dan bermartabat, atau mereka diperlakukan berbeda karena tak mampu membayar lebih? Apakah informed consent yang ditandatangani benar-benar dipahami pasien, atau hanya formalitas prosedural yang diselesaikan dalam dua menit?
Begitu pula soal keuangan. Laporan surplus di akhir tahun memang melegakan. Tapi MaP tidak berhenti di situ: dari mana sumber pembiayaan itu berasal? Apakah bebas dari riba? Dan ke mana surplus itu mengalir — apakah diputar untuk subsidi pasien dhuafa, atau dikelola dalam bentuk wakaf kesehatan yang berkelanjutan?
Bukan Sekadar Audit, Tapi Neraca Kejujuran
Dalam studi kasus hipotetis RSI “Ar-Rahmah” dengan 200 tempat tidur, MaP mengungkap dimensi-dimensi yang selama ini luput dari radar evaluasi standar. Di satu sisi, sistem ini mengidentifikasi maslahah yang berhasil dihadirkan: akses layanan berkualitas yang terbuka bagi semua kalangan, tenaga medis yang tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga berakhlak, kontribusi nyata bagi komunitas sekitar, serta pembuktian bahwa Islam dan profesionalisme bukan dua hal yang saling bertentangan.
Namun di sisi lain, MaP juga memetakan mafsadah yang mengancam jika pendekatan ini diabaikan: komersialisasi yang perlahan mengorbankan pasien tidak mampu, praktik keuangan yang terselip unsur riba, burnout tenaga medis akibat sistem SDM yang tidak adil, hingga yang paling menyedihkan — label “Islam” yang hanya berfungsi sebagai strategi pemasaran tanpa substansi.
Inilah yang membuat MaP berbeda dari sekadar audit kepatuhan syariah biasa. Ia bukan daftar centang yang mengonfirmasi apakah aturan sudah dijalankan. Ia adalah neraca organisasi yang jujur — yang menimbang seberapa dalam nilai kemaslahatan sungguh-sungguh mengakar, bukan sekadar tampak dari luar.
Melampaui Angka, Menemukan Jiwa
Rumah sakit, pada hakikatnya, adalah salah satu tempat di mana manusia paling rentan. Pasien datang dengan rasa sakit, ketakutan, dan ketidakpastian. Di sinilah sebuah institusi diuji — bukan oleh akreditasi atau reputasi, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan seorang ibu yang mengantre berjam-jam di IGD, bagaimana ia menjelaskan diagnosis kepada keluarga yang bingung, bagaimana ia memastikan bahwa pasien tidak pulang lebih miskin dari seharusnya karena biaya yang tidak transparan.
Maslahah Performa mengajak RSI di Indonesia untuk berani menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur. Bukan untuk menemukan angka yang lebih tinggi, melainkan untuk menemukan makna yang lebih dalam — bahwa kinerja terbaik sebuah rumah sakit Islam adalah ketika ia mampu membuktikan, dalam setiap keputusan kecil sekalipun, bahwa agama dan kemanusiaan berjalan beriringan.
Rumah Sakit Islam yang sejati bukan diukur dari besarnya pendapatan atau kecanggihan peralatan, melainkan dari seberapa dalam nilai kemaslahatan mengalir dalam setiap keputusan, prosedur, dan interaksi. MaP hadir untuk membantu organisasi melampaui angka — dan menemukan jiwa dalam performa mereka.
Tentang Penulis
Ayu Nabila, S.Farm. adalah Mahasiswi Program Pascasarjana Magister Ekonomi Syariah Universitas Tazkia. Berlatar belakang farmasi, ia berfokus pada kajian tata kelola organisasi kesehatan berbasis maqashid al-syariah.