Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

AMSI Gelar Pelatihan Jurnalisme Lingkungan dan Cek Fakta Iklim, Radar Bogor Ikut Berpartisipasi

Muhammad Ali • Kamis, 18 Juni 2026 | 20:37 WIB
Pelatihan Jurnalisme Lingkungan dan Cek Fakta Iklim digelar AMSI di Hotel Santika Premiere Slipi, DKI Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. (Dok. AMSI)
Pelatihan Jurnalisme Lingkungan dan Cek Fakta Iklim digelar AMSI di Hotel Santika Premiere Slipi, DKI Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. (Dok. AMSI)
RADAR BOGOR - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menyelenggarakan pelatihan bertajuk Training on Climate Misinformation, Disinformation, and Environmental Journalism pada 18–19 Juni 2026 di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta Barat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas jurnalis dalam menghadapi tantangan penyebaran informasi yang menyesatkan terkait isu perubahan iklim.

Sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang media mengikuti pelatihan tersebut, mulai dari media nasional, media alternatif, hingga pers mahasiswa yang berasal dari wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Salah satu peserta yang turut berpartisipasi berasal dari Radar Bogor.

Program ini dirancang untuk memperkuat kualitas penyebaran informasi mengenai perubahan iklim di Indonesia, terutama di tengah meningkatnya arus misinformasi dan disinformasi yang beredar melalui berbagai platform digital.

Baca Juga: Layanan Biskita Diprotes Sopir Angkot, Dishub Kota Bogor Bakal Surati Operator

Selain memperluas wawasan peserta terkait isu lingkungan dan iklim, pelatihan juga memberikan pembekalan mengenai teknik verifikasi informasi, cek fakta, serta penyusunan karya jurnalistik lingkungan yang informatif dan mudah dipahami masyarakat.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, menilai bahwa media memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai perubahan iklim berdasarkan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, kemampuan jurnalis dalam mengidentifikasi serta membongkar misinformasi dan disinformasi terkait isu iklim menjadi semakin relevan di era digital. Ia menyebut perhatian publik terhadap isu tersebut terus meningkat, tetapi kemampuan untuk mendeteksi informasi yang menyesatkan dan melakukan verifikasi terhadap berbagai klaim masih perlu diperkuat.

Soroti Isu Perubahan Iklim

Wahyu menjelaskan bahwa isu perubahan iklim memiliki karakteristik yang cukup kompleks karena banyak bergantung pada data ilmiah dan kajian teknis. Situasi tersebut sering kali membuka ruang munculnya perbedaan interpretasi maupun penyebaran narasi yang tidak sesuai dengan fakta.

Karena itu, menurutnya, jurnalis perlu memiliki kemampuan yang memadai untuk memahami informasi ilmiah, melakukan verifikasi terhadap sumber yang digunakan, serta menerjemahkan informasi tersebut ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Ia juga berharap kegiatan ini dapat mendorong terbangunnya jejaring kolaborasi yang lebih kuat antara media arus utama, media alternatif, dan pers mahasiswa dalam memproduksi serta mendistribusikan informasi lingkungan yang kredibel dan berkualitas.

“Perubahan iklim adalah isu yang sangat teknikal dan banyak menggunakan rujukan ilmiah yang bisa menjadi sumber perdebatan karena itu, kemampuan jurnalis untuk memahami, memverifikasi, dan menjelaskan informasi tersebut kepada publik menjadi sangat penting,” ujar Wahyu.

Dinamika Informasi Iklim pada Era Digital

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi yang membahas dinamika informasi iklim di era digital. Topik yang diangkat meliputi pola penyebaran misinformasi dan disinformasi, strategi kolaborasi dalam jurnalisme lingkungan, teknik verifikasi dan cek fakta untuk isu perubahan iklim, hingga pengembangan metode storytelling digital yang efektif untuk berbagai platform media.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berpengalaman dalam bidang jurnalistik lingkungan dan sains, termasuk Ahmad Arif serta Aghnia. Selain sesi pemaparan materi dan diskusi, peserta juga terlibat dalam berbagai kegiatan praktik, termasuk studi kasus dan lokakarya produksi konten kolaboratif.

Melalui lokakarya tersebut, para peserta menghasilkan beragam produk jurnalistik, seperti artikel, video pendek, podcast, konten media sosial, dan berbagai bentuk narasi digital lainnya yang mengangkat tema perubahan iklim dan lingkungan.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, AMSI berharap kapasitas media dalam menghadapi tantangan penyebaran informasi keliru terkait perubahan iklim dapat semakin meningkat. Selain itu, kerja sama lintas media yang terbangun melalui kegiatan ini diharapkan mampu menghadirkan informasi lingkungan yang akurat, berbasis data, dan lebih mudah diakses serta dipahami oleh masyarakat luas.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#radar bogor #amsi