Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Nilai Literasi Majalengka Menurun, Perpusnas Minta Penguatan SDM dan Perpustakaan Jadi Prioritas

Muhammad Ruri Ariatullah • Kamis, 25 Juni 2026 | 14:25 WIB
Lokakarya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Kabupaten Majalengka pada Jumat 19 Juni 2026.
Lokakarya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Kabupaten Majalengka pada Jumat 19 Juni 2026.

RADAR BOGOR – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) mendorong Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk segera memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) serta layanan perpustakaan.

Langkah tersebut dinilai penting setelah hasil pengukuran terbaru menunjukkan penurunan signifikan pada Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan masih rendahnya Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di daerah tersebut.

Dorongan itu disampaikan Kepala Perpusnas RI, E. Aminudin Aziz, saat membuka Lokakarya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Kabupaten Majalengka pada Jumat 19 Juni 2026.

Kegiatan tersebut diikuti 36 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari pengelola perpustakaan desa, pegiat literasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Kemudian pengelola perpustakaan sekolah tingkat SD dan SMP, hingga perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Menurut Aminudin, penguatan SDM dan peningkatan kualitas layanan perpustakaan menjadi faktor utama yang harus segera dibenahi guna meningkatkan kemampuan literasi masyarakat.

Baca Juga: KPM di Wilayah Ini Mulai Terima Bansos PKH dan BPNT Tahap 2, Ada yang Cair Hingga Rp2,1 Juta

Ia menjelaskan bahwa literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, serta memanfaatkan informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari.

“Literasi memiliki makna yang jauh lebih luas. Kemampuan memahami dan menggunakan informasi secara tepat menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di era modern,” ujarnya.

Aminudin menambahkan, peningkatan literasi merupakan fondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa metode pengukuran IPLM dan TKM kini telah diperbarui agar lebih proporsional dan mampu menggambarkan kondisi nyata di lapangan secara lebih akurat.

Nilai IPLM Majalengka Turun Signifikan

Berdasarkan hasil pengukuran terbaru, nilai IPLM Kabupaten Majalengka tahun 2025 mengalami penurunan cukup tajam.

Nilai dasar yang sebelumnya berada di angka 11,81 turun menjadi 5,78 setelah dilakukan penyesuaian terhadap kecukupan data.

Sementara itu, nilai Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) tercatat sebesar 57,89 dan masih masuk kategori rendah.

“Data ini menunjukkan adanya dua persoalan utama yang perlu mendapat perhatian serius, yakni masih rendahnya performa pembangunan perpustakaan serta belum optimalnya cakupan pendataan yang dilakukan,” jelas Aminudin.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa aspek SDM dan pelayanan menjadi titik terlemah dalam pembangunan literasi di Kabupaten Majalengka.

Berdasarkan hasil evaluasi, indeks SDM dan pelayanan masing-masing hanya mencapai angka 0,101.

Baca Juga: Jadwal Bansos Tahap 3 Rilis, Cek 2 Bonus Tambahan Cair Akhir Juni 2026

Nilai tersebut menunjukkan masih terbatasnya jumlah tenaga perpustakaan, kompetensi pengelola, serta aktivitas layanan literasi yang menjangkau masyarakat secara aktif.

Selain itu, ketersediaan koleksi bahan bacaan juga dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dalam bentuk cetak maupun digital.

“Koleksi perpustakaan masih menjadi tantangan tersendiri. Ketersediaan dan pemanfaatan bahan bacaan, baik fisik maupun digital, perlu diperkuat agar masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber informasi,” katanya.

Pendataan Perpustakaan Belum Optimal

Perpusnas juga menyoroti rendahnya tingkat pendataan perpustakaan di Kabupaten Majalengka.

Dari sekitar 1.200 perpustakaan yang tersebar di wilayah tersebut, target pendataan seharusnya mencapai 816 perpustakaan. Namun hingga saat ini, data yang berhasil dihimpun baru mencakup 207 perpustakaan.

Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap akurasi pengukuran dan perencanaan program pengembangan literasi di daerah.

Perpusnas Salurkan Berbagai Bantuan Literasi

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan budaya baca dan penguatan layanan perpustakaan di Kabupaten Majalengka, Perpusnas RI telah menyalurkan sejumlah bantuan dalam beberapa tahun terakhir.

Bantuan tersebut meliputi satu unit motor perpustakaan keliling, satu unit mobil perpustakaan keliling, satu pojok baca digital, bantuan bahan bacaan bermutu di 40 lokasi.

Kemudian lima lokasi program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), tiga lokasi bantuan buku untuk lembaga pemasyarakatan, 13 lokasi bantuan buku bagi perpustakaan pondok pesantren, serta lima lokasi bantuan buku untuk komunitas masyarakat.

Pengukuran Literasi Kini Lebih Objektif

Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas, Nurhadi Saputra, menjelaskan bahwa sistem pengukuran IPLM kini menggunakan pendekatan berbasis kewenangan daerah, menggantikan metode sebelumnya yang berbasis kewilayahan.

Baca Juga: Kunci Kemajuan Bangsa, Dekan FEB Unpak Soroti Pentingnya Kemampuan Politik Ekonomi Indonesia 

Perubahan tersebut dilakukan agar hasil pengukuran menjadi lebih rinci, objektif, dan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

Sementara pada pengukuran TKM, Perpusnas juga melakukan pembaruan konsep yang sebelumnya hanya berfokus pada frekuensi membaca, durasi membaca, dan jumlah bahan bacaan yang dibaca masyarakat.

“Dengan pendekatan baru ini, berbagai faktor yang memengaruhi kebiasaan membaca masyarakat dapat dipetakan secara lebih komprehensif sehingga menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” jelas Nurhadi.

Perlu Kolaborasi untuk Tingkatkan Budaya Baca

Di sisi lain, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Majalengka, Ono Haryono, menegaskan bahwa IPLM dan TKM merupakan indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan literasi di daerah.

Karena itu, menurutnya, diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah, pengelola perpustakaan, lembaga pendidikan, komunitas literasi, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Kami membutuhkan sinergi dan komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan, serta menumbuhkan budaya membaca yang lebih kuat di Kabupaten Majalengka,” tegas Ono.

Dengan penguatan SDM, peningkatan layanan, serta dukungan berbagai program literasi yang berkelanjutan, Kabupaten Majalengka diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembangunan literasi masyarakat dan menciptakan generasi yang lebih cerdas serta berdaya saing di masa depan. (rur)

Editor : Yosep Awaludin
#majalengka #perpustakaan #Perpusnas