RADAR BOGOR – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan melanjutkan program penataan besar-besaran terhadap BUMN.
Dari total 1.077 entitas BUMN yang ada saat ini, pemerintah menargetkan hanya sekitar 250 perusahaan yang akan dipertahankan demi meningkatkan efisiensi dan kinerja.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri acara di KSTI Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (Kemendikti), Minggu 28 Juni 2026.
Prabowo mengungkapkan bahwa proses perampingan telah berjalan dan hingga kini lebih dari 200 BUMN sudah ditutup atau dikonsolidasikan.
"Dari lebih dari seribu BUMN yang ada, sekarang lebih dari 200 sudah kita tutup. Ke depan jumlahnya akan terus dikurangi hingga sekitar 300, dan pada akhirnya tinggal sekitar 250 perusahaan," ujar Prabowo.
Menurut Kepala Negara, langkah tersebut akan memangkas ratusan jabatan direksi maupun komisaris yang selama ini membebani biaya operasional perusahaan negara.
Baca Juga: Daftar 32 Tim Lolos ke Babak Gugur Piala Dunia 2026, Asia Sisakan Dua Wakil
"Kalau lebih dari 750 perusahaan ditutup, berarti ratusan posisi direktur utama, direksi, dan komisaris juga ikut berkurang. Ini berkaitan dengan efisiensi penggunaan uang negara," katanya.
Prabowo menilai banyak perusahaan pelat merah yang tidak mampu menghasilkan keuntungan, tetapi tetap menghabiskan anggaran negara untuk membayar biaya operasional, termasuk gaji manajemen.
"Dana itu berasal dari rakyat. Tidak seharusnya perusahaan yang tidak memberikan keuntungan hanya menjadi beban karena biaya overhead yang terus berjalan," tegasnya.
Presiden menargetkan proses restrukturisasi tersebut dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun.
Pemerintah berharap jumlah BUMN yang lebih ramping akan membuat perusahaan negara bekerja lebih efektif, transparan, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
"Target kami dalam dua tahun ke depan, BUMN menjadi jauh lebih efisien, lebih transparan, dan benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat," tambahnya.
Sebelumnya, arah kebijakan perampingan BUMN sudah terlihat setelah rapat terbatas yang digelar di kediaman Prabowo di Kertanegara bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, pada Minggu 21 Juni 2026.
Dalam pembahasan tersebut dilaporkan bahwa dari total 1.077 entitas BUMN, sebanyak 258 entitas telah berkurang melalui proses konsolidasi.
Pemerintah menargetkan jumlah tersebut kembali dipangkas hingga tersisa sekitar 300 entitas sebagai tahap awal sebelum mencapai target akhir sebanyak 250 perusahaan.
Di sisi lain, Direktur Investasi PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Ridha Farid Lesmana, dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta menyampaikan bahwa proses pembubaran BUMN yang masuk dalam program restrukturisasi diperkirakan baru akan selesai secara penuh pada 2029.
Baca Juga: Bosan Staycation Biasa? 4 Resort Pedesaan di Jawa Barat Ini Tawarkan Liburan yang Berbeda
Sejumlah perusahaan pelat merah yang telah resmi ditutup antara lain:
- PT Industri Sandang Nusantara (Persero)
- PT Kertas Kraft Aceh (Persero)
- PT Industri Gelas (Persero)
- PT Istaka Karya (Persero)
- PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)
- PT Kertas Leces (Persero)
- PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero)
- PT PANN Multi Finance, anak usaha PT PANN
Program restrukturisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki tata kelola BUMN agar lebih sehat secara finansial, efisien dalam operasional, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional. (***)
Editor : Yosep Awaludin