Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Makan Korban 1.300 Jiwa, BMKG Pastikan Indonesia Tak Alami Heatwave yang Landa Eropa

Rani Puspitasari Sinaga • Kamis, 2 Juli 2026 | 12:23 WIB
Ilustrasi Heatwave. BMKG pastikan Indonesia tidak kena gelombang panas kaya di Eropa. Foto: IQAir
Ilustrasi Heatwave. BMKG pastikan Indonesia tidak kena gelombang panas kaya di Eropa. Foto: IQAir

RADAR BOGOR – Gelombang panas ekstrem atau heatwave yang melanda Eropa menjadi perhatian dunia setelah dilaporkan menyebabkan lebih dari 1.300 warga meninggal dunia sejak 21 Juni 2026. Termasuk warga Indonesia.

Heatwave di Eropa tersebut dipicu suhu udara yang terus meningkat akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Soal heatwave, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, bahkan peningkatan suhunya mencapai dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Baca Juga: Rumah Tangga Retak! Larissa Chou Gugat Cerai Ikram Rosadi, Ungkap Alasan Berpisah

Menurutnya, fenomena gelombang panas yang dulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir muncul setiap tahun.

Dia juga menilai banyak bangunan dan infrastruktur di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem.

Di tengah kabar tersebut, masyarakat Indonesia juga mulai merasakan cuaca yang lebih terik. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kondisi di Indonesia berbeda dengan heatwave yang terjadi di Eropa.

Baca Juga: Rakernas APEKSI 2026, Wamenko Pangan Tekankan Peran Strategis 98 Kota dalam Ketahanan Pangan

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan cuaca panas di Indonesia lebih dipengaruhi oleh gerak semu matahari serta langit cerah saat musim kemarau.

"Fenomena heatwave hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis bersifat dinamis dan cepat berubah," ujarnya.

Hal senada disampaikan Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani. Ia menjelaskan bahwa Indonesia yang berada di wilayah ekuator memiliki karakteristik atmosfer yang berbeda dengan kawasan lintang menengah hingga tinggi seperti Eropa, Asia Tengah, dan Amerika.

Baca Juga: 6 Cara Paling Gampang Liburan ke PIK dan PIK 2, Bisa Naik Bus Gratis hingga dari Bandara dan Bandung

Dengan kondisi geografis tersebut, Indonesia dinilai sangat kecil kemungkinannya mengalami gelombang panas ekstrem seperti yang saat ini melanda sejumlah negara di Eropa.

BMKG pun mengimbau masyarakat agar tidak menyamakan cuaca panas musiman di Indonesia dengan fenomena heatwave, meski tetap disarankan menjaga kesehatan dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menghindari paparan sinar matahari berlebihan saat beraktivitas di luar ruangan.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#Heatwave #indonesia #eropa #bmkg