Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengenal Silent Treatment, Perilaku yang Kerap Dikeluhkan Remaja

Muhamad Rifki Fauzan • Jumat, 3 Juli 2026 | 18:54 WIB
Psikolog Serenity Welness Home Retno Widayanti. (Dok. Retno)
Psikolog Serenity Welness Home Retno Widayanti. (Dok. Retno)

RADAR BOGOR - Silent Treatment belakang jadi buah bibir di kalangan remaja. Perilaku ini kerap dikeluhkan bagi mereka yang tengah menjalin asmara. 

Psikolog Serenity Welness Home Retno Widayanti, menjelaskan silent treatment adalah perilaku ketika seseorang sengaja memutus komunikasi. 

"Dan ini sebagai bentuk respons terhadap konflik, rasa marah, atau untuk memengaruhi perilaku orang tersebut," ujar Retno kepada Radar Bogor. 

Ada dua bentuk utama silent treatment, pertama sebagai cara untuk seseorang menenangkan diri, pada posisi ini pelakunya cenderung masih sehat. 

Baca Juga: Dunia Kerja Semakin Berubah, Menaker Minta Generasi Muda Kejar Keterampilan Masa Depan

"Biasanya disertai penjelasan, kalau dia butuh waktu sendiri dan melanjutkan bicara kalau kondisinya sudah lebih tenang," jelas Retno. 

Dalam kondisi tersebut silent treatment dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pertengkaran lebih buruk bukan menghukum lawan biacara. 

Bentuk silent treatment berikutnya yakni berdiam diri dengan orientasi untuk menghukum lawan bicaranya, posisi ini cenderung tidak sehat. 

"Ini bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan emosional jika dilakukan berulang kali untuk mengendalikan pasangan atau orang lain," terangnya. 

Penyebab Silent Treatment cukup beragam, tidak semua orang yang berdiam diri ketika terjadi masalah memiliki alasan serupa. 

Namun, pada umumnya silent treatment bisa terjadi karena beberapa faktor, salah satunya seseorang tengah kewalahan dalam mengelola emosi.

"Kesulitan mengungkapkan perasaan, mereka sebenarnya ingin menjelaskan, tapi tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang dirasakan," ujarnya.

Retno menjelaskan silent treatment tidak hanya terjadi pada remaja, perilaku ini kerap kali juga terjadi pada orang dewasa atau bahkan lansia. 

Terdapat enam cara untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang kerap silent treatment, pertama tetap tenang, dan jangan ikut mendiamkan. 

"Berikan ruang jika memang dibutuhkan, ada orang yang memang perlu waktu untuk menenangkan diri sebelum bisa berbicara," ujarnya. 

Berikutnya jangan memaksa lawan bicara untuk segera berbicara, perilaku ini hanya akan membuat pola komunikasi semakin buruk. 

"Tetapkan batasan jika perilaku ini terus berulang, kasih sayang tetap penting, tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan komunikasi dan saling menghormati," pungkasnya. (bay)

Editor : Eka Rahmawati
#remaja #Silent treatment