Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Stroke Iskemik Dominasi Kasus Stroke, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kelumpuhan

Dede Supriadi • Kamis, 9 Juli 2026 | 22:13 WIB
Dokter Spesialis Bedah Vaskular Eka Hospital Depok dr. Tom Christy Adriani menyapaikan pentingnya deteksi dini gangguan pembuluh darah untuk mencegah stroke iskemik dan risiko kecacatan permanen. (Dede/Radar Bogor)
Dokter Spesialis Bedah Vaskular Eka Hospital Depok dr. Tom Christy Adriani menyapaikan pentingnya deteksi dini gangguan pembuluh darah untuk mencegah stroke iskemik dan risiko kecacatan permanen. (Dede/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Ancaman stroke tidak hanya datang secara tiba-tiba, tetapi sering kali diawali gangguan pada pembuluh darah yang tidak terdeteksi. Dari berbagai jenis, stroke iskemik menjadi kasus paling dominan dengan menyumbang sekitar 87 persen dari seluruh kejadian stroke di dunia.

Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah menuju otak tersumbat akibat penyempitan pembuluh darah atau gumpalan darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan sel otak hingga berujung pada kecacatan permanen apabila tidak segera ditangani.

Dokter Spesialis Bedah Vaskular Eka Hospital Depok, dr. Tom Christy Adriani, Sp.B, Subsp.BVE (K), menjelaskan penyebab utama stroke iskemik umumnya berasal dari penumpukan plak pada dinding pembuluh darah atau aterosklerosis serta terbentuknya bekuan darah yang menghambat aliran darah ke otak.

“Stroke iskemik terjadi akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah yang membawa darah menuju otak, penyebabnya bisa berupa plak maupun gumpalan darah yang menyumbat arteri di leher atau pembuluh darah dalam otak,” ujar dr. Tom, Kamis, 9 Juli 2026.

Baca Juga: Usai Potongan Aplikasi Dipangkas, Driver Ojol di Bogor Kini Soroti Skema Paket Hemat

Menurutnya, pasien dengan risiko tinggi stroke maupun mereka yang pernah mengalami stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA) perlu mendapatkan perhatian khusus. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah melalui intervensi vaskular.

“Intervensi vaskular merupakan tindakan invasif minimal tanpa operasi terbuka yang bertujuan membuka kembali pembuluh darah yang menyempit agar aliran darah ke otak kembali lancar dan risiko stroke dapat ditekan,” ujarnya.

Ia menjelaskan terdapat dua tindakan intervensi vaskular yang umum dilakukan dalam menangani maupun mencegah stroke iskemik.

Pertama, Carotid Angioplasty and Stenting (CAS), yakni prosedur untuk pasien dengan penyempitan arteri karotis, yaitu pembuluh darah utama yang membawa pasokan darah menuju otak.

Dalam tindakan tersebut, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah di area pangkal paha atau pergelangan tangan menuju lokasi penyempitan. Setelah itu, balon khusus digunakan untuk membuka penyempitan dan dilanjutkan pemasangan stent agar pembuluh darah tetap terbuka.

“Stent berfungsi menjaga arteri tetap terbuka sehingga aliran darah menuju otak kembali optimal,” kata dr. Tom.

Sementara tindakan kedua adalah Mechanical Thrombectomy, yaitu prosedur darurat bagi pasien stroke iskemik akut akibat penyumbatan pembuluh darah besar di otak.

Melalui kateter yang dimasukkan ke pembuluh darah, dokter menggunakan alat khusus untuk mengambil dan mengeluarkan gumpalan darah yang menghambat aliran darah.

“Tindakan ini harus dilakukan dalam periode penanganan optimal atau golden period. Semakin cepat dilakukan, peluang pemulihan pasien semakin besar dan risiko kecacatan dapat ditekan,” jelasnya.

Dibandingkan operasi bedah terbuka, intervensi vaskular memiliki sejumlah keunggulan. Prosedur ini hanya membutuhkan sayatan kecil, risiko perdarahan lebih rendah, kerusakan jaringan lebih minimal, serta waktu pemulihan pasien yang relatif lebih cepat.

Namun, dr. Tom menegaskan pencegahan tetap menjadi langkah utama. Pemeriksaan pembuluh darah sangat dianjurkan bagi kelompok berisiko, seperti pasien dengan penyempitan arteri karotis lebih dari 60–70 persen berdasarkan pemeriksaan USG Doppler karotis atau CT Angiografi, penderita TIA, riwayat stroke berulang, diabetes, hipertensi kronis, serta kolesterol tinggi.

Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai tanda awal gangguan aliran darah ke otak, seperti pusing berputar, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, hingga gangguan bicara mendadak.

“Pencegahan stroke iskemik harus dilakukan sebelum terjadi penyumbatan total yang menyebabkan kerusakan permanen pada sel otak. Deteksi dini kondisi pembuluh darah merupakan perlindungan terbaik untuk mencegah kelumpuhan akibat stroke,” tegasnya.

Eka Hospital Depok menyediakan layanan skrining stroke secara menyeluruh, evaluasi pembuluh darah saraf menggunakan Digital Subtraction Angiography (DSA), hingga tindakan intervensi vaskular yang dilakukan oleh tim dokter spesialis. (ded)

Editor : Eka Rahmawati
#kelumpuhan #stroke #Eka Hospital