Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB University Dorong Petani Terapkan Strategi Cegah Hama Sejak Dini, Hadapi Ancaman Perubahan Iklim

Rani Puspitasari Sinaga • Minggu, 12 Juli 2026 | 09:15 WIB
Ilustrasi kekeringan di pertanian. Foto: PPID Kota Cimahi
Ilustrasi kekeringan di pertanian. Foto: PPID Kota Cimahi

RADAR BOGOR - Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) bersama Bidang Pengembangan Tani dan Nelayan, Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University menggelar Webinar Dokter Tanaman Series #4 bertajuk “Pengelolaan Preemtif OPT Padi untuk Mempersiapkan Musim yang Akan Datang”.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari dosen, peneliti, penyuluh pertanian, praktisi, petani, mahasiswa, hingga pemangku kepentingan di sektor pertanian. Webinar tersebut membahas pentingnya langkah pencegahan dini terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Kepala LPA2I IPB University, Dr. Handian Purwawangsa, dalam sambutannya menekankan bahwa perubahan iklim dan pola musim yang sulit diprediksi menuntut adanya perubahan strategi dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Baca Juga: PORSIP 2026 Meriah! Puluhan Lomba Jadi Ajang Unjuk Bakat dan Prestasi Siswa SMK SMAK Bogor

Menurutnya, pendekatan yang selama ini cenderung reaktif perlu beralih menjadi lebih antisipatif dan berbasis data.

Senada dengan itu, Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Dr. Giyanto, menyebut konsep pengelolaan preemtif OPT perlu terus diperkenalkan agar petani mampu mencegah serangan hama dan penyakit sebelum menimbulkan kerugian di lapangan.

Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Prof. Hermanu Triwidodo, menjelaskan bahwa musim kemarau yang lebih panjang, panas, dan kering berpotensi memicu peningkatan populasi sejumlah hama utama padi, seperti penggerek batang, wereng batang cokelat, tikus, hingga belalang kembara.

Baca Juga: Buddha Hands Up Prequel, Kisah Kocak Biksu Cilik Nyasar ke Gereja dan Ikut Dance K-Pop

Menurutnya, suhu yang semakin tinggi dapat mempercepat perkembangan hama, sementara populasi musuh alami justru cenderung menurun. Karena itu, pengendalian yang efektif harus dilakukan jauh sebelum serangan terjadi.

“Pengelolaan OPT yang efektif dimulai dari langkah pencegahan melalui penangkalan, pengekangan, dan penekanan yang disusun berdasarkan data, pengalaman, serta kondisi musim tanam sebelumnya,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa petani memegang peran sentral dalam pengelolaan OPT melalui penerapan persemaian sehat, penggunaan agen hayati, konservasi musuh alami, dan rekayasa ekologi untuk menekan risiko ledakan hama.

Baca Juga: Bekuk Norwegia 2-1, Inggris Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026 Secara Dramatis

Sementara itu, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Dr. Hagia Sophia Khairani, mengungkapkan bahwa perubahan iklim turut mempercepat kemampuan adaptasi patogen penyebab penyakit tanaman. Akibatnya, karakteristik penyakit yang menyerang tanaman saat ini berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan fungisida secara berulang dengan bahan aktif yang sama dapat memicu resistensi patogen. Selain itu, petani juga perlu mewaspadai munculnya penyakit baru, seperti bercak daun akibat jamur Nigrospora spp., yang gejalanya sering menyerupai penyakit blas padi.

Menurutnya, sanitasi lahan, pemilihan varietas yang tepat, pemantauan kondisi lingkungan, serta pemanfaatan teknologi modern menjadi langkah penting dalam pengelolaan penyakit tanaman yang lebih efektif.

Baca Juga: Pola Rasa Cinere, Eksplorasi Kuliner Nusantara dengan Sentuhan Kreatif dan Unik

Melalui webinar ini, IPB University berharap semakin banyak petani dan pelaku sektor pertanian memahami pentingnya pengelolaan preemtif OPT. Dengan strategi pencegahan yang tepat, sektor pertanian diharapkan lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga produktivitas dan ketahanan pangan nasional.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#perubahan iklim #kemarau #petani #ipb university