RADAR BOGOR - Masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa, belakangan ini merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga menjelang pagi.
"Rasanya dingin banget ya," ucap Siti (39) warga Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Selasa 28 Juli 2026.
Kondisi yang dikenal dengan istilah bediding ini memang menjadi fenomena yang umum terjadi saat musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena tersebut bukan terjadi tanpa sebab. Ada sejumlah faktor meteorologis yang membuat suhu udara turun cukup signifikan di beberapa wilayah, khususnya daerah dataran tinggi.
Penguatan Monsun Australia Jadi Pemicu Utama
Melalui unggahan di akun Instagram resminya pada Senin, 27 Juli 2026, BMKG menjelaskan, salah satu penyebab utama suhu udara terasa lebih dingin adalah menguatnya Monsun Australia.
Baca Juga: Bansos BPNT Rp600.000 Cair di Kartu KKS BNI Baru Status SI, Ini Daftar Daerah yang Salur
Angin musim tersebut membawa massa udara yang lebih kering menuju wilayah Indonesia.
Kondisi ini menyebabkan kandungan uap air di atmosfer berkurang sehingga pembentukan awan menjadi lebih sedikit.
Minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer saat malam hari.
Dampaknya, suhu udara turun lebih cepat dan terasa semakin dingin hingga menjelang pagi.
BMKG juga mengungkapkan, berdasarkan data pengamatan selama 10 tahun terakhir, penurunan suhu mulai terasa sejak Juli dan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga Agustus.
Sebagai contoh, suhu udara minimum di Kabupaten Malang dapat turun hingga di bawah 19,5 derajat Celsius, jauh lebih rendah dibandingkan Jakarta yang cenderung memiliki suhu hangat dan relatif stabil.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa faktor topografi dan ketinggian wilayah memiliki peran besar dalam mempertahankan udara dingin.
Wilayah Pegunungan Menjadi Daerah Paling Dingin
BMKG menambahkan, hasil pengamatan melalui peta Land Surface Temperature (LST) pada malam hari yang diperoleh dari sensor MODIS di satelit cuaca memperlihatkan adanya zona bersuhu rendah yang memanjang mengikuti deretan pegunungan di Pulau Jawa.
Data tersebut menunjukkan bahwa kawasan pegunungan menjadi wilayah yang paling terdampak oleh fenomena bediding.
Dalam sebulan terakhir, BMKG mencatat suhu minimum di kawasan Gunung Bromo mencapai 3,9 derajat Celsius.
Baca Juga: Update SIKS-NG Bansos PKH BPNT Tahap 3 Akhir Juli 2026, Empat Bank Berhasil Cek Rekening
Sementara itu, suhu paling rendah terpantau di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, yang menyentuh 0,7 derajat Celsius.
Pada kondisi tertentu, suhu yang sangat rendah membuat embun yang menempel di dedaunan membeku menjadi kristal es.
Fenomena alam ini dikenal masyarakat dengan sebutan embun upas, yang kerap muncul saat musim kemarau di wilayah dataran tinggi.
Fenomena Musiman yang Wajar Terjadi
BMKG menegaskan, bediding merupakan fenomena alam yang lazim terjadi selama musim kemarau di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Selama Monsun Australia masih mendominasi dan kondisi langit cenderung cerah pada malam hari, suhu udara diperkirakan masih akan terasa lebih dingin, terutama di wilayah pegunungan dan dataran tinggi.
Masyarakat diimbau, menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca, terutama saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari, serta menjaga kondisi tubuh agar tetap hangat di tengah suhu udara yang terus menurun. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim