IPB University Himpun Peneliti dari 12 Negara, Bahas Masa Depan Kota Metropolitan

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 13:59 WIB
The 8th International Conference of Jabodetabek Study Forum (JSF) 2026 yang digelar IPB University.
The 8th International Conference of Jabodetabek Study Forum (JSF) 2026 yang digelar IPB University.

RADAR BOGOR – IPB University menjadi tuan rumah The 8th International Conference of Jabodetabek Study Forum (JSF) 2026, yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari 12 negara untuk membahas berbagai tantangan pembangunan kawasan metropolitan di negara-negara Global South.

Forum internasional ini menyoroti dampak mega-urbanisasi yang semakin kompleks, mulai dari persoalan lingkungan hingga kebutuhan akan kebijakan perkotaan yang berkelanjutan.

Konferensi yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026 tersebut diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB University.

Bekerja sama dengan Pusat Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (PPIW) ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kyoto University.

Mengusung tema "Towards Resilient and Sustainable Mega-Urbanization in the Global South", kegiatan ini menjadi wadah bagi para peneliti, akademisi, pemerintah, dan praktisi untuk bertukar gagasan mengenai strategi pembangunan metropolitan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Ketua Panitia, Dr. Setyardi Pratika Mulya, menjelaskan bahwa laju mega-urbanisasi tidak hanya membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memunculkan beragam tantangan baru yang harus diantisipasi secara bersama.

Baca Juga: Sambut Ajakan Bupati Bogor, PPLI Perkuat Komitmen Lestarikan Alam dan Sejarah Malasari

Perkembangan kawasan metropolitan membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga memicu persoalan seperti alih fungsi lahan, meningkatnya tekanan terhadap infrastruktur, penurunan kualitas lingkungan, hingga risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim.

"Melalui konferensi ini, kami ingin mempertemukan para ilmuwan, pemerintah, praktisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun solusi berbasis riset yang dapat diterapkan guna mewujudkan kawasan metropolitan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan," ujar Setyardi.

Dalam forum tersebut, Jabodetabek diposisikan sebagai salah satu kawasan metropolitan strategis dengan jumlah penduduk lebih dari 30 juta jiwa.

Kawasan ini dinilai memiliki potensi besar sebagai laboratorium kebijakan perkotaan yang dapat menjadi referensi bagi kota-kota besar di negara berkembang.

Konferensi turut menghadirkan sejumlah pakar internasional, di antaranya Prof. Dr. Ernan Rustiadi, Prof. Delik Hudalah, Dr. Dorina Pojani, Prof. Izuru Saizen, dan Prof. Jan Ženka.

Berbagai isu strategis menjadi pembahasan utama, mulai dari tata kelola kawasan metropolitan, sistem transportasi dan mobilitas perkotaan, fenomena urban sprawl. 

Kemudian perkembangan ekonomi digital, integrasi tata ruang darat dan laut, hingga prospek Jakarta setelah beroperasinya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Sebagai bagian dari luaran ilmiah konferensi, sekitar 50 makalah terbaik akan dipublikasikan dalam prosiding maupun jurnal ilmiah bereputasi.

Para peserta juga mengikuti forum editorial publikasi internasional untuk memperkuat kualitas hasil penelitian yang dipresentasikan.

Selain sesi ilmiah, panitia mengajak peserta mengikuti kunjungan lapangan ke Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Kampung Aquarium.

Baca Juga: Persib Hadapi DPMM FC di Piala Presiden 2026, Maung Bandung Berpotensi Rotasi

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai dinamika transformasi kawasan metropolitan serta implementasi kebijakan pembangunan di lapangan.

Ketua Jabodetabek Study Forum, Prof. Ernan Rustiadi, berharap konferensi ini dapat memperkuat kolaborasi lintas disiplin sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti ilmiah.

"Kami berharap forum ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pembangunan kawasan metropolitan, baik di Indonesia maupun di negara-negara Global South, secara lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap berbagai tantangan masa depan," ujar Ernan. (***)

Editor : Yosep Awaludin
peneliti ipb university tuan rumah