RADAR BOGOR – Program Electrifying Agriculture yang dijalankan PT PLN (Persero) terbukti memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian di Desa Cicau, Kabupaten Bekasi.
Melalui pemanfaatan energi listrik untuk sistem irigasi dan peralatan pertanian, petani kini mampu meningkatkan frekuensi panen dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun, sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Bekasi sebagai upaya mendukung produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Desa Cicau merupakan wilayah yang berada di sekitar jalur transmisi SUTET 500 kV Cibatu–Deltamas.
Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian dari sektor pertanian.
Selama ini, keterbatasan pasokan air pada musim kemarau membuat petani hanya mampu melakukan dua kali masa tanam dalam setahun.
Baca Juga: Siap-Siap Beras 30 Kg Cair, Cek 3 Syarat Berkas Pengambilan Bansos Pangan Juli-September
Selain itu, penggunaan pompa air berbahan bakar minyak (BBM) menyebabkan biaya operasional cukup tinggi sehingga efisiensi usaha tani belum optimal.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PLN menghadirkan program Electrifying Agriculture dengan menyediakan sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 VA yang terintegrasi dengan pompa irigasi listrik dan instalasi pendukung.
Program tersebut juga dilengkapi berbagai sarana penunjang, seperti dua unit traktor listrik, mesin perontok padi berbasis listrik, mesin pemotong rumput listrik, pembangunan saung petani yang dilengkapi panel listrik sebagai pusat operasional, bantuan bibit padi dan cabai, hingga pelatihan pengolahan hasil panen serta pemasaran produk pertanian.
Hasilnya mulai dirasakan oleh Kelompok Tani Berkah Sakabeh. Berkat pasokan air yang tersedia sepanjang tahun, petani kini dapat meningkatkan intensitas tanam menjadi tiga kali panen dalam setahun.
Di sisi lain, penggunaan teknologi berbasis listrik juga mempercepat proses pengolahan lahan hingga pascapanen, sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien dan biaya operasional menurun.
Program ini berhasil menghemat biaya produksi petani hingga sekitar Rp36,36 juta per tahun, terutama karena berkurangnya penggunaan bahan bakar minyak untuk mengoperasikan pompa air.
Pemanfaatan listrik di sektor pertanian juga berdampak pada peningkatan konsumsi energi sebesar 11.994 kWh per tahun, yang turut memberikan kontribusi terhadap penjualan tenaga listrik PLN sekitar Rp4,78 juta setiap tahun.
Secara keseluruhan, program tersebut telah memberikan manfaat kepada Kelompok Tani Berkah Sakabeh yang beranggotakan 24 petani dengan luas lahan garapan sekitar 40 hektare.
Produktivitas lahan meningkat hingga 50 persen, sementara rata-rata pendapatan petani bertambah sekitar Rp12 juta per tahun.
Selain itu, penggunaan pompa listrik berhasil mengurangi konsumsi BBM sekitar 2.560 liter per tahun, sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Baca Juga: Pertamina Dapat Penghargaan Jawa Pos Digital Excellence Award 2026, Ini Strategi Komunikasinya
Masum, petani yang juga menjadi Local Hero Kelompok Tani Berkah Sakabeh, mengaku perubahan terbesar yang dirasakan adalah ketersediaan air yang kini tidak lagi bergantung pada musim.
"Dulu kami harus mengandalkan pompa berbahan bakar minyak sehingga biaya operasional cukup besar dan pasokan air bergantung pada musim. Sekarang, dengan pompa listrik, air tersedia setiap saat. Pengeluaran menjadi lebih hemat, pekerjaan lebih efisien, dan kami bisa panen tiga kali dalam setahun. Pendapatan petani pun meningkat sekitar Rp12 juta setiap tahun," ungkap Masum.
Sementara itu, Manager PLN UPT Bekasi, Indra Kurniawan, mengatakan program Electrifying Agriculture menunjukkan bahwa pemanfaatan energi listrik mampu memberikan nilai tambah bagi sektor produktif, khususnya pertanian.
"Program ini membuktikan bahwa listrik tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun industri, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Ketika biaya produksi turun, hasil panen meningkat, dan pendapatan petani bertambah, maka energi listrik menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Kami berharap model seperti ini dapat diterapkan di lebih banyak daerah yang memiliki potensi pertanian," jelas Indra.
Program Electrifying Agriculture juga mendukung kebijakan pemerintah dalam mempercepat modernisasi sektor pertanian.
Pemanfaatan listrik sebagai sumber energi untuk kegiatan budidaya hingga pascapanen diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat daya saing petani di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan.
Sepanjang periode 2025 hingga 2026, PLN UIT Jawa Bagian Tengah telah melaksanakan empat program Electrifying Agriculture, terdiri atas dua program pada 2025 dan dua program pada 2026.
Pada pelaksanaan tahun 2025, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 76 penerima, yang terdiri atas 24 anggota Kelompok Tani Berkah Sakabeh dan 52 anggota Kelompok Tani Jayawangi.
Sementara dua program yang berjalan pada 2026 masih dalam tahap implementasi dengan melibatkan 20 anggota kelompok tani sebagai penerima manfaat awal.
Baca Juga: KKS Bank BRI Jadi yang Pertama Cairkan Bansos PKH dan BPNT Per 3 Agustus 2026
Seluruh program ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya TPB 2 Tanpa Kelaparan, TPB 7 Energi Bersih dan Terjangkau, TPB 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta TPB 13 Penanganan Perubahan Iklim.
Bagi Kelompok Tani Berkah Sakabeh, kehadiran listrik kini bukan sekadar memenuhi kebutuhan energi, tetapi telah menjadi penggerak utama peningkatan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta kesejahteraan petani.
Peralihan dari pompa berbahan bakar minyak ke pompa listrik menjadi bukti bahwa akses energi yang andal mampu menghadirkan perubahan nyata bagi sektor pertanian. (***)
Editor : Yosep Awaludin