RADAR BOGOR - Lebih dari satu dekade sudah Indonesia menjalankan kebijakan hilirisasi di sektor perkebunan. Bea keluar untuk biji kakao mentah, mandat biodiesel untuk sawit, dan berbagaiinstrumen serupa diarahkan pada satu tujuan besar: mendorong industri dalam negeri mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah, daripada hanya sebatas mengirimbahan baku ke luar negeri.
Di atas kertas, logikanya masuk akal. Namun setelah lebih dari sepuluh tahun berjalan, hasilnya ternyata tidak seragam. Justru dari perbedaan hasil itulah kita dapat melihat satupersoalan yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Empat komoditas unggulan perkebunan Indonesia, yaitu kakao, kopi, sawit, dan karet, sama-sama memulai perjalanan dari titik yang menjanjikan pada pertengahan 2000-an ketika hargakomoditas dunia sedang tinggi. Namun ketika era hilirisasi mulai berjalan pada awal 2010-an, arah perkembangannya mulai berbeda.
Baca Juga: Bansos PKH Tahap 3 Semakin Meluas, KKS Mandiri Banyak Terima Saldo, Ini Rinciannya
Data perdagangan internasional selama periode 2005 hingga 2023 menunjukkan bahwaketiga komoditas, yaitu kakao, sawit, dan karet, mengalami tekanan terhadap pangsa pasar global.
Perubahan ini terjadi di tengah persaingan dengan negara-negara produsen lain yang terus meningkatkan produktivitas dan strategi pemasarannya. Sementara itu, kopi relatifmampu bertahan.
Nilai ekspornya tetap tumbuh meskipun pangsa pasarnya sedikitmengalami penyusutan.
Jika kebijakan hilirisasi diterapkan dengan semangat yang sama, mengapa hasil akhirnya bisaberbeda?
Efisien di Pabrik, Belum Tentu Menang di Pasar
Baca Juga: Dosen Unida Bogor Bicara Masa Depan ASEAN di Filipina, Soroti Peran Gen Z dan Gen Alpha
Sebagian jawabannya memang berada pada sisi produksi. Kakao menjadi contoh yang menarik. Sejak bea keluar dikenakan pada biji kakao mentah, ekspor bahan baku memangsengaja ditekan agar lebih banyak terserap oleh industri pengolahan dalam negeri. Dari sisiindustri, kebijakan ini dapat dikatakan berhasil.
Kapasitas pengolahan meningkat dan industrikakao nasional bergerak mendekati batas efisiensi ekspor potensialnya.
Namun keberhasilan di sektor hilir berlangsung bersamaan dengan tantangan di tingkat hulu. Luas lahan panen yang terus menyusut dan produktivitas per hektare yang cenderung stagnanmembuat pasokan biji kakao domestik semakin terbatas.
Karena itu, penurunan pangsa pasar kakao Indonesia tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor. Ada kombinasi antarakebijakan yang membatasi ekspor bahan mentah dan persoalan struktural di sektor produksiyang belum sepenuhnya terselesaikan.
Baca Juga: Hampir 20 Juta KPM Terima PKH BPNT Tahap 3, Bansos Beras 30 Kg Menyusul 17 Agustus 2026
Dari sini ada satu pelajaran penting. Kebijakan yang berhasil membuat produksi lebih efisienbelum tentu otomatis membuat produk lebih diminati di pasar internasional.
Efisiensi ada di pabrik. Daya tarik ada di benak konsumen dan mitra dagang di luar negeri. Dua hal tersebut tidak selalu berjalan beriringan.
Kopi memberikan perbandingan yang menarik. Ketahanannya tentu tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Pergeseran selera dunia menuju kopi spesialti dan berkembangnyabudaya "kopi generasi ketiga" turut berperan. Namun ada satu faktor lain yang semakinpenting dalam persaingan global, yaitu kemampuan membangun identitas dan narasi yang melekat pada sebuah produk.
Ketika Kopi Berhenti Menjadi Sebatas Komoditas
Baca Juga: Pemkot Bogor Gandeng IKIGAI Fitness, Atlet Kini Dapat Fasilitas Gym dan Recovery Modern
Dalam beberapa tahun terakhir, kopi Indonesia mulai diposisikan bukan hanya sebagaibarang dagangan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas bangsa.
Promosi kopi tidak lagisemata-mata berbicara tentang volume produksi atau kualitas fisik, tetapi juga tentang asal-usul geografis, budaya minum kopi, keberlanjutan, dan cerita para petani di balik produktersebut.
Pendekatan ini terlihat melalui berbagai inisiatif seperti Indonesia Spice Up the World, sebuah program lintas kementerian untuk memperkenalkan kuliner dan rempah Indonesia di pasar global, serta S'RASA sebagai bagian dari diplomasi kuliner Indonesia.
Program-program tersebut tidak hanya berbicara tentang nilai ekonomi, tetapi juga membawa cerita mengenai budaya, masyarakat, dan kekayaan lokal.
Baca Juga: Progres PKH dan BPNT Tahap 3 Hari Ini: Kedua Bansos Masuk Fase SI
Di sisi lain, pelaku usaha juga mulai menerjemahkan identitas tersebut ke dalam pengalamankonsumen. Sejumlah merek kopi Indonesia, termasuk Kopi Kenangan, membawa unsuridentitas "Wonderful Indonesia" ke pasar luar negeri melalui gerai mereka di Singapura.
Pendekatan seperti ini masih relatif jarang ditemukan pada komoditas seperti kakao, sawit, dan karet yang selama ini lebih banyak dipromosikan melalui aspek teknis, seperti volume produksi, harga, tarif, atau regulasi.
Tanpa selalu dirancang sebagai satu strategi besar, pemerintah dan pelaku usaha kopi sebenarnya mulai membangun hubungan antara negara dan pasar. Pemerintah memberikanarah melalui penguatan citra Indonesia, sementara pelaku usaha menerjemahkannya menjadipengalaman yang dapat dirasakan konsumen.
Hilirisasi Industri Perlu Dibarengi Hilirisasi Cerita
Yang dimaksud dengan "hilirisasi cerita" bukan hanya membuat kampanye promosi saja. Konsep ini merujuk pada upaya mengubah komoditas menjadi produk yang memilikiidentitas, makna, dan nilai di mata pasar global.
Baca Juga: Update Terbaru Penerima Bansos PKH Tahap 3 dan Status BPNT Rp600 Ribu
Dalam pemasaran internasional, fenomena ini dikenal sebagai country-of-origin effect, yaituketika negara asal suatu produk ikut membentuk persepsi konsumen terhadap kualitas dan keaslian produk tersebut.
Kolombia membangun citra kopinya melalui narasi mengenaipetani dan asal-usul produk. Ethiopia menonjolkan sejarah panjang sebagai tempat lahirnyakopi dunia.
Namun strategi ini tidak dapat diterapkan dengan cara yang sama untuk semua komoditas.
Kopi dan kakao memiliki kedekatan yang lebih besar dengan konsumen akhir, sehinggacerita mengenai asal-usul, cita rasa, dan budaya memiliki ruang untuk memengaruhikeputusan pembelian.
Sebaliknya, sawit dan karet lebih banyak diperdagangkan antarindustri. Dalam pasar seperti ini, pembeli lebih mempertimbangkan harga, kontrak, serta kepatuhanterhadap standar keberlanjutan seperti EUDR, RSPO, atau ISPO.
Baca Juga: Manajemen RSUD Kota Bogor Masih Dibayangi Beban Operasional, Direksi Baru Diminta Terus Berbenah
Karena itu, cerita yang dibutuhkan juga berbeda. Bukan cerita mengenai gaya hidup, melainkan cerita mengenai keberlanjutan, ketertelusuran, dan komitmen terhadap lingkunganserta petani.
Hilirisasi tetap menjadi fondasi penting bagi daya saing Indonesia. Tanpa industri pengolahanyang kuat dan sektor hulu yang sehat, posisi Indonesia di pasar global akan sulitdipertahankan.
Namun pengalaman berbagai komoditas perkebunan menunjukkan bahwa membangunkapasitas produksi saja belum cukup. Indonesia juga perlu membangun kemampuan untukmembuat dunia mengenal, mempercayai, dan memilih produk yang dihasilkan.
Pada akhirnya, yang perlu diolah bukan hanya biji kakao, biji kopi, getah karet, atau tandan buah segar. Indonesia juga perlu mengolah cerita yang melekat pada setiap komoditastersebut. Sebab di pasar global yang semakin kompetitif, produk tidak hanya bersaing melaluiapa yang dimiliki, tetapi juga melalui bagaimana dunia melihat dan memaknainya.
Muhammad Ikrar Nur Fikri
Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor
Editor : Rani Puspitasari Sinaga