RADAR BOGOR – Istilah anak AC belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah tersebut juga disorot pakar IPB University Bogor.
Melansir laman IPB University, istilah anak AC dikaitkan dengan Generasi Alfa yang dianggap lebih terbiasa hidup nyaman dan menghadapi tantangan ketika harus berada di kondisi yang kurang nyaman, seperti mengikuti upacara di tengah cuaca panas.
Fenomena anak AC tersebut turut menjadi perhatian ahli pengasuhan dan perkembangan anak IPB University, Prof. Dwi Hastuti.
Baca Juga: Gelombang Baru Bansos PKH Tahap 3 Dimulai, KKS Mandiri Banyak Terima Saldo di Wilayah Ini
Menurutnya, kemudahan teknologi dan fasilitas memang memberikan banyak manfaat, tetapi anak tetap perlu mendapatkan pengalaman menghadapi berbagai situasi agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan adaptif.
Generasi Alfa umumnya merujuk pada anak-anak yang lahir pada 2010 hingga 2025. Mereka tumbuh ketika perkembangan teknologi digital berlangsung sangat pesat, termasuk kemudahan mendapatkan berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan sehari-hari.
“Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membuat anak-anak gen Alfa cenderung terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya,” ujar Prof Tuti.
Gaya Hidup Ikut Membentuk Karakter Anak
Baca Juga: Siswa SMK SMAK Bogor Dibekali Etika Gunakan AI dan Cara Lindungi Data Pribadi
Prof Tuti menjelaskan, karakter anak tidak hanya dipengaruhi oleh fasilitas yang tersedia di rumah. Lingkungan sosial dan gaya hidup yang mereka lihat sehari-hari juga turut memberikan pengaruh.
Keberadaan media sosial, misalnya, membuat anak lebih mudah membandingkan kehidupan yang mereka jalani dengan pengalaman orang lain maupun figur yang mereka ikuti di dunia maya.
“Gaya hidup di sekitar lingkungan anak-anak ini juga akan mempengaruhi karakter gen Alfa, karena mereka kerap membandingkan situasi yang dihadapi dengan apa yang dialami orang lain dan tokoh di media sosial,” katanya.
Kemudahan fasilitas juga dapat membuat anak terbiasa mencari solusi yang paling praktis. Ketika merasa panas, misalnya, anak bisa langsung memilih menggunakan AC tanpa mencoba alternatif sederhana lainnya.
Baca Juga: Animalium BRIN di Cibinong Bogor Suguhkan Wisata Edukasi Satwa
Menurut Prof Tuti, kebiasaan tersebut perlu diimbangi dengan pembiasaan anak untuk mencari solusi dan menghadapi kondisi yang tidak selalu ideal.
Selain itu, pola hidup minim aktivitas fisik atau sedentary life juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat terbentuk dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga budaya yang semakin mengutamakan kepraktisan.
Jika sebelumnya anak lebih sering berjalan kaki untuk beraktivitas, saat ini banyak yang menggunakan kendaraan pribadi atau layanan antar-jemput karena pertimbangan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi.
Orang Tua Diminta Tidak Selalu Memanjakan Anak
Baca Juga: Status SIKS-NG Exclude? Ini Solusi bagi 1,4 Juta KPM Bansos Terindikasi Game Online Terlarang
Dalam kondisi tersebut, orang tua dinilai memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk mengalami berbagai situasi dan belajar menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Prof Tuti menyarankan orang tua memberikan teladan sekaligus menjelaskan alasan di balik setiap keputusan. Dengan begitu, anak dapat belajar berpikir, menganalisis situasi, dan mengambil keputusan.
“Ajak anak untuk mengalami juga bagaimana jika ia harus jalan kaki, bagaimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya aneka fasilitas yang membantu mereka. Hal ini agar anak terbiasa dengan manajemen risiko, sehingga ia tidak mudah menyerah serta mudah putus asa,” jelasnya.
Anak juga dapat diajak mengenal berbagai kondisi sosial di lingkungan sekitarnya. Pengalaman tersebut dapat membantu membangun empati sekaligus mengajarkan anak memahami bahwa tidak semua situasi dalam kehidupan dapat berlangsung sesuai keinginannya.
Baca Juga: Hilirisasi Saja Tidak Cukup: Ketika Dunia Membeli Cerita, Bukan Hanya Komoditas
Menurut Prof Tuti, anak yang terlalu bergantung pada fasilitas dan selalu mendapatkan bantuan berisiko lebih sulit beradaptasi ketika menghadapi tantangan. Karena itu, kemandirian perlu dilatih secara bertahap melalui kegiatan sehari-hari.
Pembiasaan tersebut diharapkan membuat anak memiliki kemampuan mengelola diri, mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan, serta tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan.
“Hal ini karena salah satu kunci keberhasilan anak di masa depan adalah individu yang agile, mudah beradaptasi dan menyelesaikan masalah serta kreatif,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga