RADAR BOGOR - Potensi kopi khas Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, tengah dibedah oleh IPB University untuk mendorong petani dan pelaku usaha kopi naik kelas.
Upaya itu dilakukan tim peneliti IPB University bersama Universitas Negeri Malang (UM) dengan turun langsung melihat persoalan yang dihadapi.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 7 hingga Agustus 2026 melalui Program Bestari Saintek yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek).
Desa Sumberdem dipilih karena aktivitas kopinya telah berkembang dari tingkat budidaya, pengolahan hingga pemasaran.
Ekosistem tersebut juga melibatkan petani, pelaku usaha, BUMDes, Kampoeng Kopi Sumberdem hingga pemerintah desa.
Tim peneliti kemudian mengidentifikasi sejumlah persoalan yang masih menjadi kendala dalam pengembangan kopi Sumberdem.
Baca Juga: Rela Tekor Rp520 Juta, Dokter di Bogor Ini Tetap Beri Pengobatan Gratis untuk Anak Yatim dan Lansia
Hasil pemetaan itu mengerucut pada tiga persoalan utama, yakni pengelolaan limbah kopi, sistem ketertelusuran atau traceability, serta kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia.
Dari persoalan tersebut, IPB bersama mitra menyusun tiga pilar Revolusi Kopi Sumberdem, yakni Waste to Energy, Digital Traceability, serta penguatan kelembagaan dan kapabilitas sumber daya manusia.
Dosen Departemen Fisika IPB University, Dr. Yessie Widya Sari, mengatakan pendekatan yang dilakukan tidak sekadar membawa teknologi dari kampus ke desa.
“Kami tidak ingin datang dengan teknologi lalu meminta masyarakat menggunakannya. Kami mulai dari persoalan yang mereka hadapi, kemudian bersama-sama menentukan apa yang dapat dilakukan,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi perhatian yakni pemanfaatan limbah kopi. Melalui pilar Waste to Energy, limbah organik diarahkan agar tidak sekadar menjadi buangan, tetapi dapat diolah menjadi sumber energi.
Tim memperkenalkan teknologi biogas yang memungkinkan limbah organik dimanfaatkan untuk menghasilkan energi sekaligus bio-slurry yang dapat digunakan kembali untuk mendukung pertanian.
Pembahasan itu dilanjutkan melalui pelatihan pengelolaan limbah dan teknologi biogas bersama IPB University dan Sustainability dan Resilience (Su-re.co)
Tim juga melakukan survei lokasi bersama masyarakat untuk melihat titik yang sesuai bagi penempatan kantong biogas.
Selain persoalan limbah, pengembangan kopi Sumberdem juga diarahkan pada penguatan identitas produk melalui sistem Digital Traceability.
Sistem ini memungkinkan perjalanan kopi ditelusuri mulai dari kebun dan petani, proses pengolahan hingga produk sampai ke tangan konsumen.
Baca Juga: Danesh Dario Tembus 4 Besar Klasemen Nasional Autokhana 2026, Selisih 5 Poin dari Puncak
Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dikky Indrawan, terlibat dalam pengembangan sistem ketertelusuran tersebut.
Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan transparansi rantai pasok sekaligus memperkuat daya saing kopi Sumberdem.
Dengan ketertelusuran yang jelas, produk kopi nantinya tidak hanya menjual rasa, tetapi juga membawa informasi mengenai asal kebun, petani, proses produksi hingga nilai keberlanjutan di balik produk tersebut.
Dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Rer.nat. Rina Mardiana, berfokus pada penguatan tata kelola dan kepemimpinan lokal.
Salah satunya dengan membangun leadership in product knowledge. Konsep tersebut diarahkan untuk melahirkan champion lokal yang memiliki pengetahuan mengenai kopi secara menyeluruh, mulai dari budidaya, kualitas, pengolahan hingga pemasaran.
Keberadaan champion lokal dinilai penting agar pengetahuan yang dibangun selama program tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Masyarakat diharapkan dapat melanjutkan dan mengembangkan inovasi secara mandiri.
Upaya tersebut juga mendapat respons dari petani kopi Sumberdem. Trisno, salah seorang petani, berharap pengembangan kopi dapat membuat petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat.
Baca Juga: KKS Mandiri Cair Masif di 40 Daerah, Ini Bukti Struk Bansos Terupdate
“Harapannya, kita sebagai petani kopi dapat menentukan sendiri harga jual kopi kita tanpa dimainkan tengkulak, kopi kita bisa semakin dikenal, dan kita bisa terus menjalin komunikasi dengan tim untuk mencapai mimpi ini,” ungkap Trisno.
Menurutnya, persoalan kopi bukan hanya mengenai peningkatan produksi. Petani juga membutuhkan akses dan kemampuan untuk mendapatkan nilai lebih dari kopi yang mereka hasilkan.
Hal senada disampaikan Sekretaris Desa Sumberdem, Hadi Prasetyo Wanto. Ia berharap kolaborasi yang dilakukan bersama perguruan tinggi dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Harapannya, untuk kita semua, apa yang kita pelajari dan diskusikan dari acara temu kolaborasi ini dapat membawa dampak yang baik dan berkelanjutan bagi Desa Sumberdem,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin