Bromo Ditutup, Kerugian Wisata Mulai Dihitung

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:16 WIB
Kepala Disbudpar Jawa Timur, Evy Afianasari.
Kepala Disbudpar Jawa Timur, Evy Afianasari.

RADAR BOGOR - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tidak hanya menyisakan persoalan ekologis.

Penutupan total kawasan wisata tersebut, juga mulai berdampak pada roda perekonomian masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pariwisata.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur kini tengah menghitung potensi kerugian yang muncul akibat penghentian sementara aktivitas wisata di salah satu destinasi unggulan tersebut.

Baca Juga: Aksi HKAN 2026 di Telaga Warna Puncak Bogor, Bersihkan Kawasan Hutan hingga Lepas Burung

Kepala Disbudpar Jawa Timur, Evy Afianasari mengatakan, penutupan kawasan Bromo memberikan tekanan terhadap berbagai sektor usaha yang selama ini bergantung pada arus kunjungan wisatawan.

Dampaknya dirasakan mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga penyedia jasa pemandu wisata.

Kunjungan Wisatawan Capai Ribuan Orang per Hari

Evy menjelaskan, nilai kerugian belum dapat dihitung secara pasti karena Balai Besar TNBTS masih memprioritaskan proses pemadaman dan penanganan kebakaran.

Meski demikian, besarnya potensi dampak ekonomi dapat diperkirakan dari jumlah wisatawan yang biasanya datang setiap hari.

Pada hari biasa, kawasan Bromo dapat menerima sekitar 1.000 hingga 2.000 kunjungan.

Jumlah tersebut meningkat tajam ketika memasuki masa liburan.

Dalam kondisi ramai, kunjungan wisatawan bahkan dapat mencapai sekitar 6.000 orang dalam sehari.

Dari sisi penerimaan tiket, wisatawan domestik dikenakan tarif Rp54 ribu per orang pada hari kerja dan Rp79 ribu pada hari libur.

Sementara, wisatawan mancanegara harus membayar tiket sebesar Rp225 ribu per orang.

Kondisi ini menjadi perhatian karena Agustus biasanya termasuk periode ramai kunjungan wisatawan mancanegara ke kawasan Bromo.

Baca Juga: Industri Makanan dan Minuman Keluhkan Tarif Pajak Air Tanah di Kabupaten Bogor

Disbudpar Jatim pun masih melakukan pendataan untuk mengetahui besaran dampak ekonomi secara lebih menyeluruh.

Selain menghitung kerugian, pemerintah daerah juga menyiapkan kemungkinan program pendampingan untuk membantu memulihkan aktivitas pariwisata setelah kawasan dinyatakan aman dan kembali dibuka.

Kebakaran Bromo Mulai Mereda

Di tengah dampak ekonomi tersebut, kondisi kebakaran di kawasan sabana Gunung Bromo mulai menunjukkan perkembangan positif.

Memasuki hari kedelapan penanganan pada Senin, 10 Agustus 2026, api dilaporkan berangsur mereda.

Meski demikian, tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pendinginan di dua lokasi yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan.

Danrem 083/Bdj sekaligus Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan menjelaskan, api sempat kembali terlihat pada Minggu malam, 9 Agustus 2026. Namun, pada Senin pagi kondisi tersebut mulai berangsur terkendali.

Dua lokasi yang masih menjadi perhatian petugas berada di kawasan P30 atau Pundak Lembu, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta Lembah Dingklik di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Menurut Wahyu, kedua lokasi tersebut merupakan bagian yang terdampak rembetan api dari kebakaran sebelumnya.

Dua Titik Masih dalam Pendinginan

Penanganan kebakaran dilakukan melalui berbagai metode.

Selain operasi darat, tim gabungan mengerahkan dua helikopter untuk melakukan pemadaman melalui udara menggunakan teknik water bombing.

Asap dan titik api berukuran kecil masih ditemukan di sejumlah lokasi. Namun, secara umum kondisi kawasan disebut sudah aman dan terkendali.

Baca Juga: Bantuan PIP Tak Kunjung Masuk? Hati-Hati, Perubahan Data Ini Penentunya

Untuk mengantisipasi munculnya kembali api, personel masih ditempatkan selama 24 jam.

Pemantauan juga dilakukan secara berkala melalui patroli darat dan penggunaan drone, terutama untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses petugas.

Dari total sekitar 742 hektare kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran, Wahyu memperkirakan, titik api aktif yang tersisa kini hanya sekitar 10 persen.

Area yang masih menjadi fokus berada di P30 dan Lembah Dingklik.

Api Sempat Merambat ke Penanjakan

Perkembangan kebakaran juga terjadi di kawasan Penanjakan, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Kapolsek Tosari, Iptu Sumbut Pujaningwang mengatakan, api sempat merambat dan membakar area tersebut dengan panjang wilayah terdampak mencapai sekitar tujuh kilometer.

Kebakaran di Penanjakan diketahui mulai terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, sekitar pukul 12.00.

Sehari berikutnya, tepatnya sekitar pukul 13.00, kondisi api mulai mereda.

Walaupun api telah melemah, petugas tetap melakukan pemadaman sekaligus pengawasan untuk mencegah kobaran kembali membesar dan menjalar ke area lain.

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Di sisi lain, aparat masih menyelidiki penyebab awal kebakaran yang melanda kawasan Bromo. Informasi dari berbagai pihak terus dikumpulkan untuk mengetahui sumber munculnya api.

Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan menyatakan bahwa petugas belum ingin menarik kesimpulan mengenai penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan api berasal dari aktivitas wisatawan maupun masyarakat di sekitar kawasan.

Kemungkinan faktor alam juga masih menjadi bagian dari penelusuran.

Baca Juga: Penting bagi KPM, Lakukan Langkah Ini Jika Status Desil PKH Tak Sesuai Kondisi Asli

Namun, menurut Wahyu, kemungkinan tersebut dinilai relatif kecil karena meskipun vegetasi di kawasan Bromo dalam kondisi kering, suhu udara di kawasan tersebut masih tergolong dingin.

Untuk sementara, fokus utama tim gabungan adalah memastikan seluruh titik api benar-benar padam dan mencegah kebakaran kembali meluas.

Sementara itu, dampak penutupan terhadap sektor pariwisata Jatim masih terus dihitung pemerintah. (ian/gus/zen/hn/ttg)

Editor : Siti Dewi Yanti
TNBTS taman nasional bromo tengger semeru bromo