8 Juta Sarjana Disebut Bekerja di Bawah Level Pendidikan, 5 Jurusan Ini Paling Banyak Menganggur

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:33 WIB
Ratusan pencari kerja memadati arena Job Fair di lantai 2 Plaza Jambu Dua Kota Bogor, Senin 8 Juni 2026. (Foto : Sofiansyah/Radar Bogor)
Ilustrasi. Ratusan pencari kerja memadati arena Job Fair di lantai 2 Plaza Jambu Dua Kota Bogor, Senin 8 Juni 2026. (Foto : Sofiansyah/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Gelar sarjana ternyata belum menjadi jaminan seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia bekerja pada posisi yang berada di bawah kualifikasi pendidikannya.

Temuan tersebut tercantum dalam laporan Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026 bertajuk “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?” yang disusun Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD.

Laporan itu tidak hanya membahas fenomena lulusan S1 yang bekerja di posisi dengan tuntutan pendidikan lebih rendah. Peneliti LPEM FEB UI juga memetakan bidang studi yang paling banyak ditemukan di kalangan pengangguran berpendidikan sarjana.

Baca Juga: Rumah Makan Solideo, Kuliner Prasmanan Rp33 Ribu, Ambil Lauk Sepuasnya dengan View Laut

Data tersebut menjadi sorotan di tengah rencana pemerintah membangun perguruan tinggi baru, Universitas Republik Indonesia (URI).

LPEM FEB UI menilai pendirian kampus baru perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata pasar kerja, bukan sekadar mengejar program studi yang populer atau mudah dibuka.

Menurut laporan tersebut, URI perlu mempertimbangkan kompetensi yang masih langka, kebutuhan tenaga kerja di berbagai wilayah dan sektor, serta posisi yang dapat diisi lulusannya setelah menyelesaikan pendidikan.

Baca Juga: Kualifikasi Liga Champions, Celje vs Ararat Armenia 11 Agustus 2026, Misi Balikkan Keadaan

Fenomena sarjana yang bekerja di bawah tingkat pendidikannya dapat menjadi indikasi bahwa pertumbuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi berlangsung lebih cepat dibandingkan penciptaan lapangan kerja profesional yang membutuhkan keterampilan tinggi.

Selain itu, kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan antara program pendidikan, kompetensi lulusan, dan kebutuhan dunia kerja masih perlu diperkuat.

Karena itu, penambahan kapasitas pendidikan tinggi melalui pembangunan universitas baru tanpa perencanaan yang terintegrasi dengan kebutuhan ekonomi justru berisiko menambah jumlah lulusan tanpa diiringi peningkatan kesempatan memperoleh pekerjaan yang sesuai.

Baca Juga: Daftar Lengkap Kategori Penerima dan Besaran Indeks Bantuan PKH Tahun 2026

5 Jurusan dengan Porsi Pengangguran Sarjana Terbesar

LPEM FEB UI menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 untuk melihat bidang studi terakhir dari pengangguran dengan pendidikan minimal S1.

Hasilnya, lulusan dari jurusan manajemen menjadi kelompok terbesar.

Secara keseluruhan, lima bidang studi menyumbang sekitar 40 persen dari pengangguran lulusan sarjana.

Berikut rinciannya:

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Almeria Spanyol, 14 Orang Meninggal, 5.200 Hektare Lahan Terbakar

  1. Manajemen: 10,3 persen

  2. Hukum: 9,0 persen

  3. Ekonomi: 8,7 persen

  4. Pendidikan: 7,1 persen

  5. Akuntansi: 5,1 persen

Data tersebut menunjukkan pengangguran sarjana cukup banyak berasal dari program studi dengan cakupan keilmuan luas dan jumlah lulusan yang besar.

Manajemen, misalnya, memiliki cakupan yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, aset hingga berbagai sektor industri.

Namun, luasnya pilihan karier tidak otomatis membuat lulusan lebih mudah masuk ke dunia kerja.

Baca Juga: Hunian Hotel di Kabupaten Bogor Naik, Wisatawan Menurun

Pada tahap awal karier, lulusan rumpun bisnis harus bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan bisnis, tetapi juga dengan lulusan dari bidang lain seperti ekonomi, hukum hingga komunikasi.

Hal serupa terjadi pada lulusan bidang pendidikan yang mencakup beragam program, mulai dari pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi hingga pendidikan vokasi.

Peluang lulusan pendidikan untuk memasuki pasar kerja juga sangat dipengaruhi oleh pola rekrutmen guru, kebutuhan sekolah di setiap daerah, ketersediaan formasi, serta persyaratan profesi.

Temuan LPEM FEB UI tersebut menjadi pengingat bahwa memperluas akses pendidikan tinggi perlu dibarengi dengan strategi yang memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
jurusan sarjana pengangguran s1 ui