RADAR BOGOR - Gempa susulan masih terus mengguncang pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga hari kedelapan pascagempa utama. Kondisi itu membuat warga di Kabupaten Manggarai masih bertahan di pengungsian dan mulai menghadapi keterbatasan logistik.
Hal itu disampaikan Endang Sri Wahyuni, guru MAN 1 Manggarai, saat dihubungi Radar Bogor Sabtu, 22 Agustus 2026. Ia mengatakan gempa kecil masih terasa hampir setiap beberapa menit, sedangkan gempa berkekuatan lebih besar terjadi dengan jeda sekitar 30 menit hingga satu jam.
"Yang kecil-kecil terus-terusan, hampir per menit itu. Kalau 4 koma ke atas, biasanya 30 menit atau satu jam baru gempa lagi," kata Endang.
Menurutnya, warga mulai terbiasa dengan gempa berkekuatan sekitar M 2. Namun, gempa dengan kekuatan M 5 ke atas masih membuat warga panik karena getarannya terasa kuat dan menimbulkan suara gemuruh.
Baca Juga: Pemkab Bogor Dorong Pemerataan Ekonomi, Kembangkan Pusat Pertumbuhan di Barat dan Timur
"Kalau yang lima ke atas itu langsung panik karena takut seperti semula. Gemuruh, terasa betul tanah," ujarnya.
Gempa susulan juga masih mengancam bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Rumah yang tidak roboh saat gempa utama, tetapi hanya menyisakan dinding atau tiang, berpotensi kembali runtuh ketika diguncang gempa berkekuatan besar.
"Rumah-rumah yang tidak sampai rubuh waktu gempa pertama itu sudah dalam posisi rusak. Kadang sisa satu dinding yang berdiri, kadang sisa tiangnya. Pas ada gempa lima ke atas, mereka bisa rubuh," jelasnya.
Kondisi tersebut membuat warga belum berani kembali tinggal di rumah. Mereka masih bertahan di sejumlah pengungsian, termasuk tenda-tenda besar yang ditempati puluhan orang.
Endang menyebut terdapat sejumlah pengungsian besar di Kecamatan Reok tempatnya berada. Namun, masih banyak warga yang memilih membuat posko mandiri di sekitar rumah karena sulit menjangkau pengungsian utama.
"Mereka bikin posko mandiri di tempat yang dirasa agak tinggi. Misalnya di belakang rumah ada gunung atau bukit. Mereka bikin posko sendiri," tuturnya.
Persoalannya, warga yang berada di posko mandiri tersebut banyak yang belum terdata. Jarak menuju pusat kecamatan dan keterbatasan kendaraan membuat proses pendataan maupun distribusi bantuan tidak mudah.
"Posko-posko mandiri ini banyak yang belum tersentuh bantuan. Mereka tidak terdata karena akses ke kecamatan jauh," kata Endang.
Kondisi logistik juga mulai menjadi persoalan. Endang mengatakan pada hari pertama pascagempa, warga belum menerima bantuan pemerintah dan mengandalkan donasi dari warga setempat.
"Hari pertama itu kami tidak dapat apa-apa. Yang ada donatur dari kampung masing-masing. Mereka yang punya toko membagikan barang," ungkapnya.
Bantuan mulai datang pada hari kedua. Setiap tenda didata berdasarkan jumlah pengungsi dan mendapatkan kupon untuk mengambil makanan. Namun, menurut Endang, jumlah distribusi yang diterima warga kini tidak sebanyak pada awal masa pengungsian.
"Awal-awal gempa bisa diklaim sampai tiga kali. Sekarang satu kali saja biasanya tidak bisa," ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di salah satu posko pengungsian. Warga sudah menunggu sejak pagi untuk mendapatkan makanan, tetapi bantuan baru datang menjelang malam.
"Kemarin kami tunggu dari pagi. Katanya jam 11. Kami tunggu sampai siang, sampai sore, sampai magrib. Baru ada pengumuman dari TNI Polri," katanya.
Saat bantuan datang, warga hanya mendapatkan beras dan telur. Persediaan tersebut kemudian dibagi kepada pengungsi yang tinggal di dalam tenda.
"Yang dibagi cuma telur dan beras. Untung di posko kami masih ada persediaan makanan dari sebelumnya," ucapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga juga harus patungan membeli bahan makanan. Sebagian warga masih mengandalkan hasil pertanian yang dapat dijual meski aktivitas ekonomi terganggu.
"Kadang kami patungan beli sayur. Ada yang jual sawi, ada yang jual jagung. Pertanian tetap jalan," katanya.
Endang mengatakan kebutuhan tenda juga belum mencukupi. Sejumlah warga, termasuk siswanya, masih tinggal di posko mandiri tanpa terpal atau tenda yang layak.
"Kasihan siswa saya, rumahnya tumbang, tidak ada terpal, tidak ada tenda sama sekali," ungkapnya.
Keterbatasan bantuan juga dirasakan pada kebutuhan tempat tinggal sementara. Warga bahkan menggunakan karung beras yang dijahit dan disambung untuk membuat tempat berteduh.
Endang menilai distribusi bantuan perlu diperluas hingga menjangkau posko-posko mandiri. Sebab, bantuan yang terkonsentrasi di posko utama belum sepenuhnya menjangkau warga yang tinggal di wilayah sulit akses.
"Yang paling mendesak sekarang sebenarnya jumlah bantuannya. Minimal distribusinya merata dan tidak terbatas," tegasnya.
Selain logistik, akses transportasi juga menjadi kendala. Sejumlah jalur darat rawan longsor dan beberapa titik sempat tidak bisa dilewati setelah gempa.
"Di beberapa tempat rawan longsor, kemarin ada enam titik yang benar-benar tidak bisa dilewati, hanya motor," jelas Endang.
Kondisi itu turut membuat harga kebutuhan meningkat. Endang mencontohkan harga terpal ukuran 5 x 7 meter yang mencapai Rp280 ribu.
"Terpal ukuran 5 x 7 meter harganya Rp280 ribu. Karena barang terbatas, mau tidak mau dibeli," ujarnya.
Aktivitas ekonomi warga juga belum pulih. Petani masih berusaha bekerja, sedangkan nelayan menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak karena tidak dapat melaut.
"Yang tidak beraktivitas sama sekali itu nelayan. Mungkin sekitar 50 persen atau lebih pekerjaan warga di sini adalah nelayan," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian warga mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan dengan memanfaatkan usaha yang masih bisa dijalankan. Warga yang memiliki bengkel, misalnya, tetap membuka usaha menggunakan peralatan yang berhasil diselamatkan dari rumah yang rusak.
"Mereka terpaksa buka bengkel. Mau bertahan hidup pakai cara apa kalau tidak buka usaha?" ujar Endang.
Sementara itu, sektor pendidikan juga ikut lumpuh. Sejumlah sekolah mengalami kerusakan sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat belajar.
"Kalau sekolah, rata-rata banyak yang rata dengan tanah. Jadi sangat tidak memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran," katanya.
Kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak diliburkan mulai 18 hingga 28 Agustus 2026. Setelah itu, kondisi akan kembali dievaluasi untuk menentukan bentuk pembelajaran berikutnya.
Endang menyebut sekolah juga menghadapi kendala ketika harus memberikan tugas secara daring. Tidak semua siswa memiliki telepon seluler dan sebagian perangkat rusak karena tidak sempat diselamatkan saat gempa.
Di sisi lain, BMKG mencatat lebih dari 5.012 gempa susulan hingga Sabtu pagi. Aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
Pemerintah juga telah menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 90 hari. Bagi warga Manggarai, tantangan saat ini bukan hanya menghadapi gempa susulan, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar tetap tersedia selama mereka belum berani kembali ke rumah. (uma)
Editor : Eka Rahmawati