RADAR BOGOR - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang membawa sebaran abu vulkanik kini makin meluas.
Dalam kondisi ini, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Melalui akun Instagram resminya, @idai_ig, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa abu vulkanik berbeda dari debu biasa.
Baca Juga: Hotel Nawana dan Taman Budaya Dukung Penanaman Pohon Sentul City Bogor pada Hari Pelanggan Nasional
Abu vulkanik mengandung silika kristalin yang tajam dan berisiko mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
Pada anak penderita asma, paparan abu ini bisa memicu kekambuhan yang lebih berat.
Dalam jangka panjang, paparan kronis dapat menyebabkan penyakit paru serius yang dikenal sebagai pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis (PUSVC).
Baca Juga: Pemekaran Bogor Selatan Kembali Disuarakan, Ini Alasannya
Tidak hanya fisik, situasi bencana dan kondisi udara yang buruk juga berisiko mengganggu psikologis anak, seperti timbulnya stres, kecemasan, hingga gejala trauma (PTSD subklinis).
Untuk menjaga anak tetap aman, simak lima langkah perlindungan yang direkomendasikan oleh IDAI berikut ini:
1. Tetap Berada di Dalam Rumah
- Tutup rapat semua akses udara: Pastikan pintu dan jendela tertutup rapat. Gunakan lakban untuk menutup celah-celah kecil jika diperlukan.
- Alihkan aktivitas: Tunda semua kegiatan di luar dan pindahkan area bermain anak ke dalam rumah.
- Ubah cara membersihkan rumah: Hindari menyapu debu dalam kondisi kering karena abu akan terbang kembali ke udara. Gunakan kain pel basah untuk membersihkan lantai.
Baca Juga: Pencairan TPG Susulan Juli-Agustus 2026 Masih Bertahap, Cek Persentase dan Status Terbarunya
- Jaga kebersihan konsumsi: Tutup tandon atau wadah penampungan air. Cuci buah dan sayuran secara lebih teliti di bawah air mengalir sebelum dikonsumsi.
2. Gunakan Masker yang Tepat Sesuai Usia
- Anak usia besar: Gunakan masker yang menutup rapat seperti tipe N95 atau KN95 saat terpaksa keluar rumah. Jika tidak ada, masker bedah berlapis atau kain lembap masih lebih baik daripada tidak memakai perlindungan sama sekali.
- Bayi dan balita: Jangan memaksakan penggunaan masker N95 pada bayi dan balita karena berisiko tinggi menyebabkan sesak napas. Perlindungan terbaik bagi mereka adalah tetap berada di dalam ruangan yang tertutup.
- Anak penderita asma: Pastikan obat pelega napas senantiasa siap di tangan dan selalu ikuti instruksi atau rencana penanganan dari dokter spesialis anak.
3. Lindungi Mata dan Kulit
Baca Juga: 2 Cara Cek Bansos Lewat HP, Ini Update PKH BPNT Tahap 3 September 2026
- Perawatan mata: Jika mata anak terasa perih akibat terpapar abu vulkanik, segera bilas dengan air bersih yang mengalir. Jangan mengucek mata.
- Penggunaan kacamata: Minta anak remaja untuk melepas lensa kontak. Gunakan kacamata pelindung (goggle) atau kacamata renang jika terpaksa beraktivitas di luar.
- Perlindungan kulit: Kenakan pakaian dan celana panjang yang menutup rapat seluruh tubuh. Setelah kembali dari luar rumah, minta anak untuk segera mandi dan mengganti seluruh pakaiannya.
4. Komunikasikan dengan Anak Secara Bijak
Sampaikan situasi bencana tanpa memicu rasa panik berlebih, sesuaikan dengan tingkatan usia mereka:
Baca Juga: Desil Turun, Bansos PKH BPNT Bisa Cair Lagi? Ini Nasib KPM yang Sebelumnya Exclude
- Usia 3-5 tahun: Pakai analogi sederhana, misalnya: "Gunungnya sedang batuk, jadi kita main di dalam rumah dulu ya supaya tetap aman."
- Usia 6-10 tahun: Berikan penjelasan jujur mengenai apa itu abu vulkanik dan alasan mengapa jendela rumah harus ditutup rapat.
- Remaja: Libatkan mereka secara aktif, misalnya diajak bersama-sama menyiapkan tas siaga bencana keluarga.
5. Kenali Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Rumah Sakit
Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit terdekat jika muncul tanda-tanda darurat berikut:
Baca Juga: Siap-siap, Jadwal Bansos PKH BPNT Tahap 4 Oktober-Desember 2026 dan Syarat KPM Terpilih
- Anak mengalami sesak napas atau frekuensi napas menjadi sangat cepat.
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
- Batuk terus-menerus tanpa henti (terutama pada anak dengan riwayat asma).
- Mata merah dan terasa nyeri yang tidak kunjung membaik setelah dibilas air mengalir.
- Bayi tampak lemas dan tidak mau/malas menyusu.
Kesehatan dan keselamatan anak adalah prioritas utama di tengah situasi darurat ini.
Baca Juga: Polisi Tetapkan 138 Tersangka Kasus Pembakaran Hutan dan Lahan, Kapolri: Bisa Bertambah
Mari kita terapkan langkah-langkah pencegahan di atas untuk memastikan si kecil tetap terlindungi dari bahaya abu vulkanik.
Jangan ragu untuk segera mencari bantuan medis profesional jika menemukan tanda-tanda bahaya pada anak.***
Editor : Robecca SesariaSumber : Instagram @idai_ig